Tulungagung Produsen Babi Terbesar di Jawa Timur, Surabaya hingga Jakarta Jadi Pasar
February 05, 2026 09:00 PM

 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Kabupaten Tulungagung menjadi produsen babi terbesar di Jawa Timur dengan populasi sebanyak 10.680 ekor.

Sejumlah kota besar pun menjadi pangsa pasar produsen babi dari Kabupaten Tulungagung tersebut.

Di antaranya, produsen babi Tulungagung mengirimkannya kepada konsumen yang ada di Kota Surabaya, Bandung dan Jakarta.

Data di Dinas Peternakan tahun 2023, populasi babi di Tulungagung sebanyak 10.680 ekor.

Sementara di bawahnya ada Kabupaten Malang dengan 10.136 ekor babi.

Menurut Kabid Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan kabupaten Tulungagung, Tutus Sumaryani, populasi babi saat ini sekitar 11.000 ekor.

“Dengan jumlah itu, sepertinya Tulungagung masih menjadi penghasil babi terbesar di Jawa Timur,” ujar Tutus.

Populasi babi di Tulungagung disumbang 8-10 peternakan skala menengah yang sudah dijalankan turun temurun.

Sentra peternakan babi ini berpusat di Kecamatan Ngunut, dengan populasi  2.000 hingga 3.000 ekor per peternakan.

Di antara peternak ini juga punya plasma para peternak skala rumahan.

“Jumlah peternak skala rumahan ini tidak terlalu besar. Mereka rata-rata plasma dari peternakan besar,” sambung Tutus.

Setiap pengiriman produk peternakan babi ini selalu dilengkapi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).

Dari SKKH ini Dinas Peternakan mengetahui ke mana saja babi dari Tulungagung dikirim.

Baca juga: Ribuan Ayam Hangus Akibat Kebakaran Kandang di Desa Siyotobagus Tulungagung

Pasar kota besar

Tutus mengungkapkan, babi Tulungagung dijual ke sejumlah kota besar di Pulau Jawa, seperti Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

“Babi dari Tulungagung dikirim dalam kondisi hidup. Memang paling banyak untuk memenuhi permintaan kota-kota besar,” katanya.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan mempunyai 1 rumah pemotongan babi di Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru.

Namun tempat pemotongan ini tidak beroperasi setiap hari, karena jumlah babi yang dipotong sangat terbatas.

Menurut Tutus, dalam satu minggu hanya ada 1-2 ekor babi yang disembelih.

“Penyembelihan hanya untuk pasar Tulungagung yang memang sangat terbatas. Tapi ada juga pembelian daging babi dari wilayah lain,” ungkap Tutus.

Dinas Peternakan selama ini membina para peternak babi, termasuk mengalokasikan vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Diakui Tutus,  para peternak babi ini lebih maju karena sudah menerapkan bio security.

Itu sebabnya sangat jarang ditemukan kasus PMK pada babi.

“Kita mau masuk ke peternakan saja tidak bisa sembarangan. Keamanannya sangat ketat,” tandasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.