Perubahan sikap pada orang terdekat kerap menjadi sinyal awal masalah kesehatan mental yang serius. Namun, sinyal tersebut tidak selalu diungkapkan secara langsung. Karena itu, mengenali tanda-tanda risiko bunuh diri dan mengetahui cara meresponsnya secara tepat menjadi hal penting.
Psikolog klinis Anna Surti Ariani atau akrab disapa Nina mengatakan, tidak semua orang dengan masalah kesehatan mental memiliki pikiran bunuh diri. Namun, terdapat sejumlah tanda yang perlu diwaspadai ketika kondisi seseorang mengarah pada risiko tersebut.
Menurut Nina, tanda-tanda itu antara lain terlihat sangat murung atau depresi, menarik diri dari lingkungan sosial, menghindari pertemuan dengan orang lain, hingga sering membicarakan kematian atau keinginan untuk 'menghilang'.
"Atau kayak bisa merasa gak berguna, merasa gak ada harganya gitu ya. Bahkan kalau dia sudah sampai bikin surat atau barang-barangnya, termasuk barang-barang yang penting buat dia itu diberikan pada orang lain, itu sebetulnya memang kita perlu lebih waspada," ucapnya dalam acara detikSore, Rabu (4/1/2026).
Dalam kondisi tersebut, Nina menekankan pentingnya peran orang terdekat untuk mulai membuka percakapan. Namun, pendekatan yang dilakukan perlu dilakukan secara hati-hati dan empatik.
Ia menyarankan agar pertanyaan tidak disampaikan secara frontal, seperti langsung menuduh atau menanyakan keinginan bunuh diri secara kasar. Sebaliknya, orang terdekat dapat menyampaikan keprihatinan dengan bahasa yang lembut, misalnya dengan menyebutkan perubahan perilaku yang terlihat dan menanyakan apakah ada pikiran atau perasaan yang membuat tidak nyaman.
Ia menambahkan, kehadiran orang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi dapat membuat seseorang merasa lebih aman untuk terbuka.
"Ini justru bisa membuka kesempatan bagi si teman kita itu, untuk bisa cerita lebih lanjut gitu. Karena sering kali ya, sebagian besar orang yang kemudian melakukan percobaan bunuh diri, itu bukan benar-benar ingin mati, tapi ingin lepas dari permasalahan yang dia hadapi gitu," ucapnya lagi.
"Dan sebetulnya ketika kita tahu ada orang yang mau mendengarkan kita, tanpa menghakimi, itu kita mungkin bisa lebih terbuka gitu. Dan ketika teman ini bisa lebih terbuka pada kita, itu sudah mengurangi risiko dia untuk melakukan bunuh diri," ucapnya.







