Harta Karun Keanekaragaman Hayati di Maluku Barat Daya
GH News February 05, 2026 09:10 PM
Jakarta -

Temuan yang membanggakan bagi Indonesia di wilayah Maluku Barat Daya (MBD), khususnya di Kepulauan Romang dan Damer yang memiliki keanekaragaman hayati begitu melimpah.

Hal itu dipaparkan oleh WWF Indonesia dalam ekspedisinya ke dua kepulauan tersebut yang dilakukan pada akhir tahun lalu. Pada agenda pemaparan yang berlangsung di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kamis (5/2/202) Senior Manager Program WWF Indonesia-Expedition Lead, Ahmad Hafiz Adyas, menyampaikan ada banyak temuan menarik selama ekspedisi di Kepulauan Romang dan Damer itu.

"Fokusnya ada dua sebenarnya secara gampang: dan kedua ekologis," katanya.

Hafiz mengatakan ada indikator yang menjadi kawasan tersebut baik secara ekosistemnya yakni keberadaan karang, lamun, dan mangrove. Temuan pertamanya adalah rata-rata tutupan karang hidup di sana itu di angka 39 hingga 51%

"Artinya berarti mereka dalam kondisi baik, sedang ke baik. Dan hasil analisis kami juga menemukan beberapa karang purba, usianya sudah hampir 100 hingga 200 tahun," terang Hafiz.

Temuan keanekaragaman hayati di Maluku Barat DayaTemuan karang purba yang diduga telah hidup hampir 100 hingga 200 tahun. (WWF Indonesia)

Dengan temuan baik tersebut menandakan kondisi ekosistem bawah laut di kepulauan tersebut begitu baik, sehingga biota laut lainnya seperti ikan bisa berkembang dengan baik pula karena rumah mereka masih terjaga. Selain itu juga memberi perlindungan bagi masyarakat di sana.

Kemudian, kondisi lamun yang ada di sana juga dalam kondisi yang sangat baik. Karena menurut Hafiz, tumbuhan yang hidup di dasar laut (tumbuhan seperti rumput) ini begitu rentan rusak.

"Tapi di Damer dan Rimang ini kita menemukan kondisi lamunnya sangat baik. Rata-rata kerapatannya sampai 57 persen dan dua per tiga lamun di Indonesia kita temukan di sana," ungkanya.

Temuan keanekaragaman hayati di Maluku Barat DayaLamun jenis . (WWF Indonesia)

"Termasuk kita temukan satu spesies lamun unik namanya . Kenapa dia unik? dia punya pigment warna merah yang mengindikasikan dia jenis yang lebih tahan terhadap perubahan suhu, karena lamun itu dipengaruhi oleh pasang surut," dia melengkapi.

Temuan menarik lainnya adalah ekosistem mangrove. Hafiz kembali mengabarkan bahwa kualitas ekosistem mangrove di sana itu sangat baik, indikatornya ada tiga: mangrove utama, mangrove minor, dan asosiasi.

Jika ketiga indikator itu tidak lengkap dalam sebuah lanskap, maka ekosistem mangrove tersebut tidak bisa dikatakan baik.

"Jadi ketika kita bilang lengkap tuh, baik yang kayak semak-semak gitu sampai mangrove pohon itu tuh punya fungsi semua. Nah di Romang strukturnya masih sangat lengkap dan kondisinya optimal karena regenerasi alaminya masih terjaga," jelasnya.

Hafiz menyebut tiga ekosistem ini harus berfungsi optimal supaya keberlangsungan keberagaman hayati Indonesia tetap terus terjaga. Bukan hanya temuan itu saja, dari sisi satwa-satwa laut pun Kepualauan Romang dan Damer ini memberikan gambaran luas lagi tentang kondisi baik ekosistem bahari yang ada di sana.

Ada beragam jenis satwa yang pihaknya temukan, mulai dari jenis-jenis hiu, penyu, pari, lumba-lumba, paus orca hingga dugong atau sebutannya sapi laut.

"Champion-nya di sana, jadi kita menemukan lebih dari 30 dugong lalu paus orca. Kenapa ini di-? karena mereka adalah spesies kunci jadi kalau kita peneliti laut bilang, jadi menjaga spesies ini, maka ekosistem lain ikut terjaga," ucapnya.

Muhammad Lugas Pribady
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.