Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen Lirik Model Literasi di Malinau, Dana Komunitas Layak Diadopsi
February 05, 2026 09:14 PM

​TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU – Model kolaborasi penguatan literasi berbasis komunitas di tingkat desa di Kabupaten Malinau Kalimantan Utara kini menjadi perhatian serius pemerintah pusat karena dinilai memiliki skema pendanaan yang unik.

​Sokongan dana segar yang bersumber langsung dari anggaran Rukun Tetangga (RT) serta bantuan Pemerintah Kabupaten menjadi pemantik hidupnya taman bacaan di tengah pemukiman warga.

​Skema ini dianggap sebagai solusi jitu untuk menghidupkan budaya baca sekaligus menjadi benteng bagi anak-anak di pedalaman agar tidak terpapar dampak negatif ketergantungan gawai.

​Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin saat berkunjung ke TBM Cerdas Ceria di RT 5 Desa Kuala Lapang, Kecamatan Malinau Barat, Kamis (5/2/2026).

Baca juga: ‎Kisah Penggerak Literasi di Desa Kuala Lapang Malinau, Dirikan TBM Mulai dari Handphone

​"Kami ingin mencoba mengadopsi bagaimana praktik baik yang sudah dilaksanakan di sini betul-betul dapat menjadi informasi yang menarik bagi masyarakat dan pemerintahan desa lainnya," ujar Hafidz Muksin saat ditemui di Kuala Lapang, Kamis (5/2/2026) sore.

​Hafidz Muksin mengaku terkesan dengan pemandangan di RT 5 Desa Kuala Lapang tersebut, di mana anak-anak tetap produktif bersosialisasi pada sore hari selepas jam sekolah.

​Dia menilai, kehadiran TBM yang didukung penuh oleh lingkungan sekitar sangat efektif mengalihkan perhatian anak dari layar telepon pintar.

​"Di mana gawai sekarang sudah menjadi sesuatu yang mengganggu aktivitas anak, asyik di kamar. Namun di sini mereka bisa belajar bersama, ada membaca hingga berhitung," ucap Hafidz Muksin.

​Dia menyoroti keberanian pemerintah desa hingga RT dalam menyisihkan anggaran khusus literasi.

Baca juga: TBM PADU Sebatik Jadi Inspirasi Nasional, Jawab Tantangan Literasi, Iklim dan Anak Tidak Sekolah

​Berdasarkan temuannya di lapangan, pihak RT di wilayah tersebut telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp15 juta untuk mendukung aktivitas baca tulis.

​"Ini jujur baru saya dapatkan di kunjungan ini. Di pemerintah desa lainnya belum ada yang saya ketahui, RT mengalokasikan anggaran literasi Rp15 juta," ungkapnya.

​Menurut Pengelola TBM Uring I'ing, terdapat bantuan tambahan dengan nilai yang sama dari Pemerintah Kabupaten Malinau untuk menunjang fasilitas.
​Anggaran tersebut diwujudkan dalam bentuk pengadaan rak buku, koleksi bacaan baru, hingga alat permainan edukatif yang membuat anak betah berlama-lama di TBM.

​"Dukungan ini penting. Kami juga melihat anak-anak memiliki daya nalar tinggi, mereka paham pentingnya menjaga pohon lembesuk agar tidak banjir melalui buku yang mereka baca," jelasnya.

​Hafidz menambahkan, pihaknya berencana mendiskusikan komitmen ini lebih lanjut bersama Bupati Malinau untuk dijadikan referensi bagi daerah lain di Indonesia.

​Baginya, sinkronisasi antara sekolah formal dan taman bacaan di lingkungan masyarakat merupakan kunci utama peningkatan kualitas SDM.

​(*)

​Penulis: Mohammad Supri

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.