TRIBUN-BALI.COM - Media mainstream kini benar-benar babak belur dan harus bertarung, tidak hanya dengan AI bahkan juga dengan konten kreator.
Hal ini menjadi perbincangan para jurnalis, bersama para sepuh media di Denpasar, Bali. Wicaksono, salah satu pembicara Publisiana, menjelaskan bahwa hal ini sudah terdeteksi begitu online merajalela.
Baca juga: PURA Segara Rusak Parah Diterjang Angin Kencang! Pelabuhan Gilimanuk Sempat Ditutup Sementara
Baca juga: PUNIA dari Pemkot Denpasar Berupa Insentif ke 262 Sulinggih, Dapat Rp2 Juta Per Bulan Potong Pajak!
Ironinya, media kini dianggap penyebar hoax, karena banyak masyarakat yang tidak bisa membedakan mana media mainstream dan mana yang media sosial biasa.
Sebab banyak konten kreator, seolah-olah menjadi "jurnalis" di media sosialnya. Tidak ada yang salah, namun hal ini menjadi pisau bermata dua.
"Makanya kita harus kembali ke marwah jurnalistik yang awal, yaitu harus liputan investigasi. Kayak mencari tambang ilegal, konflik agraria, konflik agama dan antar kampung. AI gak bisa bikin liputan seperti itu," sebutnya.
Sampai saat ini AI masih terbatas, sehingga kemurnian jurnalistik dengan penelusuran dan faktanya menjadi keunggulan yang belum bisa dikalahkan.
Uniknya, jika beberapa tahun lalu online dianggap konvensional, kini malah sudah mulai ditinggalkan. Dan terus mencari platform baru, untuk itu media mainstream dan jurnalis harus terus adaptasi.
Jika SEO dan GA tidak lagi menghasilkan uang bagi media, maka bisa bergeser ke platform lainnya seperti YouTube, Facebook, TikTok dan Instagram.
"Itu sebabnya media di Amerika Serikat, memunculkan dalam bentuk video dan menampilkan wartawan untuk berbicara," jelasnya. Hal ini untuk mengantisipasi AI juga.
"Artinya jurnalis zaman sekarang bisa seperti konten kreator, tetapi bedanya adalah tetap mengedepankan kode etik dan kaidah jurnalistik dalam penyampaiannya," imbuhnya.
Jurnalis tetap harus mencari dan melengkapi data penting, dan menarik untuk diceritakan ke publik. Ruang redaksi perlu video dan foto, karena foto saja tidak cukup di era sekarang ini. (*)