Bulan Semakin Menjauh dari Bumi, Pakar Beberkan Dampaknya bagi Manusia dan Iklim
GH News February 05, 2026 10:09 PM
Jakarta -

Pakar sekaligus dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Sonni Setiawan beri penjelasan terkait fenomena Bulan yang perlahan bergerak menjauhi Bumi. Menurutnya, manusia tak perlu khawatir dengan keadaan ini.

Pada dasarnya, setiap fenomena astronomi merupakan proses alamiah yang pasti terjadi. Bulan bisa bergerak menjauh dari Bumi lantaran lintasan orbitnya berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna.

Bentuk orbit Bulan yang elips membuat Bulan terkadang ada di jarak terdekat yang disebut perigee dan jarak terjauh atau apogee. Kondisi ini terjadi dalam setiap periode revolusi Bulan.

"Efek Bulan menjauh dari Bumi merupakan konsekuensi orbit revolusi Bulan terhadap Bumi yang berupa elips. Ada saat Bulan berada pada jarak terdekat dan jarak terjauh dalam setiap periode revolusi Bulan," jelasnya dikutip dari rilis IPB University, Rabu (4/2/2026).

Proses serupa juga berlaku pada orbit Bumi terhadap Matahari. Bentuk orbit yang elips, menimbulkan peristiwa (jarak terdekat dengan Matahari) pada Januari dan (jarak terjauh) pada Juli setiap tahunnya.

Manusia Tak Perlu Khawatir

Lantaran proses alamiah, Sonni menegaskan manusia tak perlu khawatir berlebihan. Memang ada dampak yang mungkin diberikan, tetapi efeknya tidak bersifat langsung melainkan melalui mekanisme lain di Bumi.

"Fenomena Bulan menjauh dari Bumi tidak berdampak langsung terhadap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya baru terasa melalui mekanisme lain," katanya.

Salah satu contoh mekanisme tersebut adalah kondisi pasang surut laut. Pasang surut laut merupakan dampak yang diberikan oleh gaya gravitasi Bulan.

Pada akhirnya, kondisi pasang surut laut bisa menyebabkan kenaikan muka laut. Akibatnya, kondisi ini berdampak pada aktivitas nelayan dan wilayah pesisir.

Dampak Fenomena Bulan pada Iklim Bumi

Tak hanya manusia, banyak spekulasi muncul bila fenomena tersebut berdampak pada perubahan iklim. Terkait hal itu, Sonni tidak membenarkannya.

Sama seperti terhadap manusia, fenomena Bulan menjauhi Bumi memberikan dampak tidak langsung pada sistem iklim. Hal ini dikarenakan durasi iklim berjalan tahunan hingga puluhan tahun.

Dibanding fenomena Bulan, faktor eksternal yang lebih berpengaruh terhadap iklim adalah orientasi Bumi terhadap Matahari. Orientasi ini terdiri dari fluktuasi eksentrisitas orbit Bumi, perubahan oblikuitas (kemiringan sumbu) rotasi Bumi, dan perubahan presesi sumbu rotasi Bumi.

"Fluktuasi ketiga orientasi Bumi terhadap Matahari dikenal sebagai Siklus Milankovitch," beber Sonni.

Setiap fenomena orientasi Bumi memiliki periodenya masing-masing. Untuk perubahan eksentristitas orbit Bumi terjadi setiap 100-400 ribu tahun.

Selanjutnya perubahan oblikuitas Bumi terjadi setiap 41 ribu tahun dan perubahan presisi Bumi terjadi setiap 26 ribu tahun. Setiap fenomena tersebut menyebabkan adanya perubahan radiasi Matahari yang diterima oleh Bumi.

Seperti yang diketahui, Matahari merupakan sumber energi utama iklim Bumi. Untuk itu, setiap ada perubahan yang berkaitan dengan Bumi dan Matahari akan memengaruhi iklim dalam skala waktu ribuan-ratusan tahun.

Selain perubahan orientasi Bumi terhadap Matahari, Sonni menyebut ada hubungan fenomena astronomi lain yang berkaitan dengan kondisi atmosfer. Fenomena tersebut berhubungan dan konstelasi planet dalam Tata Surya dapat mengubah kondisi atmosfer di Bumi.

Ketika planet-planet dalam posisi konjungsi (saling setara), resultan gaya gravitasi bisa menjadi besar. Kondisi inilah yang kemudian memengaruhi keadaan atmosfer di Bumi.

"Konstelasi planet dalam keadaan konjungsi bisa menyebabkan uap air terangkat, sehingga potensi pembentukan awan meningkat. Karena konjungsi planet terjadi dalam orde ratusan tahun dan efeknya global, hal ini dapat menyebabkan perubahan sistem iklim," paparnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.