Berasal dari Daerah Terbatas, Dea Anugrah Menantang Nasib Lewat Dunia Literasi
Gemma Ramadhina Zaneta February 05, 2026 11:34 PM

Grid.ID - Penulis buku asal Indonesia, Dea Anugrah, membagikan kisah awal perjalanannya hingga akhirnya menekuni dunia kepenulisan. Ia menuturkan bahwa latar belakang daerah asal sangat memengaruhi cara pandangnya terhadap pendidikan dan masa depan.

"Saya lahir dan besar di sebuah provinsi yang tidak jauh dari Jakarta, tapi bisa dibilang cukup agak ketinggalan ya dalam berbagai perkembangan, yaitu Provinsi Bangka Belitung, dari Kepulauan Bangka Belitung," tuturnya saat berada di Gramedia Jalma, Jakarta Selatan pada Kamis (5/2/2026).

Keterbatasan fasilitas menjadi hal yang ia rasakan sejak kecil, termasuk dalam hal akses terhadap bacaan. Ia mengenang bahwa toko buku bukanlah sesuatu yang mudah dijangkau di daerah asalnya.

"Di provinsi asal saya itu hanya ada satu toko buku dan itu letaknya ada di ibukota provinsi, tentu saja Toko Buku Gramedia ya. Dan untuk ke sana, saya harus naik motor itu sekitar setengah jam sampai 45 menit lah, 20-an kilometer ke sana," katanya

Jarak yang jauh membuat kegiatan membeli buku menjadi usaha tersendiri baginya saat masih anak-anak. Selain keterbatasan akses buku, kondisi sosial di daerah pertambangan juga memberi pengaruh besar.

"Sewaktu saya berusia sekolah, saya melihat banyak sekali teman-teman saya yang putus sekolah di tengah jalan karena daerah kami itu adalah daerah pertambangan. Banyak sekali anak yang ikut bekerja membantu orang tua, bukan hanya karena tidak punya pilihan, tetapi juga kami kekurangan imajinasi tentang apa yang bisa dilakukan dalam hidup ini." Ungkapnya

"Jadi orang-orang di sekeliling saya, yang saya lihat, itu seperti itu semua. Saya lihat sepupu saya, saya lihat abang-abang dan teman-teman saya, seakan-akan kami tidak punya alternatif lain," lanjutnya

Di tengah kondisi tersebut, pria berusia 34 tahun ini merasa dirinya cukup beruntung karena menemukan dunia buku. Buku menjadi pintu awal yang memperkenalkannya pada kemungkinan hidup yang lebih luas.

"Kebetulan, beruntungnya saya waktu itu, saya mengenal buku. Saya kenal buku dari perpustakaan sekolah. Lalu biasanya pembaca ketika dia sudah jatuh cinta sama buku, dia akan terus mencari buku baru lagi, dan itulah yang terjadi pada saya," katanya

Minat bacanya terus tumbuh seiring waktu, bahkan ketika koleksi buku di sekolah mulai habis. Keinginan untuk mencari bacaan baru pun semakin kuat.

"Ketika buku-buku di perpustakaan sekolah sudah saya baca, saya menginginkan buku baru, dan Gramedia yang menyediakan akses itu. Jadi yang 30 menit naik motor buat beli buku, satu lagi belinya nggak sanggup ya beli banyak-banyak waktu itu," jelasnya.

Meski harus menempuh perjalanan jauh dan membeli buku dengan keterbatasan biaya, pengalaman itu sangat berarti baginya. Dari proses sederhana tersebut, imajinasinya perlahan terbentuk dan berkembang.

"Tetapi kesempatan itu membuka alternatif, membuka imajinasi saya tentang apa yang bisa dilakukan dalam hidup ini. Bahwa sekalipun seluruh orang di keluarga saya bekerja di tambang, karena buku saya jadi tahu bahwa ada banyak sekali yang bisa dilakukan di dunia ini," katanya.

Dari imajinasi yang terbuka itulah, Dea mulai memikirkan masa depan yang berbeda dari kebanyakan orang di sekitarnya. Ia mulai berani bermimpi untuk melangkah lebih jauh.

"Dari situlah cita-cita saya tumbuh, dari situlah saya tahu bahwa, 'Oh, saya harus pergi ke luar pulau untuk melanjutkan sekolah. Saya harus pergi ke luar pulau untuk mencari karier dan lain sebagainya," jelasnya.

Keputusan untuk merantau akhirnya benar-benar ia wujudkan setelah lulus sekolah. Perjalanan tersebut membawanya ke Yogyakarta, kota yang kemudian banyak membentuk dirinya.

"Lalu perjalanan membawa saya ke Yogyakarta. Saya kuliah di Universitas Gadjah Mada, jurusan filsafat. Dan di Yogyakarta, tentu saja akses terhadap buku, terhadap pengetahuan jauh lebih luas dibandingkan di kampung halaman saya. Dan sekali lagi di sana, Gramedia menjadi semacam pembuka akses ya, untuk banyak sekali buku yang saya butuhkan, yang saya inginkan," ungkapnya.

Lingkungan akademik dan akses bacaan yang luas membuat kecintaannya pada buku semakin mendalam. Ia membaca berbagai genre tanpa batas hingga memunculkan keinginan baru.

"Saya tumbuh menjadi seorang pembaca yang rakus, segala macam buku saya baca. Dan dari situ muncul lagi satu keinginan baru untuk menjadi seorang penulis. Tanpa itu semua, saya pikir sulit sekali membayangkan saya bisa ada bisa ada di sini sekarang, bisa bekerja di industri kreatif, di industri buku," tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.