TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Kota Pontianak di Kalimantan Barat memiliki banyak kekayaan budaya yang tidak ditemukan di daerah lain.
Salah satu tradisi paling ikonik dan selalu dinantikan masyarakat adalah Tradisi Meriam Karbit. Tradisi ini telah menjadi identitas budaya masyarakat Melayu Pontianak dan terus dilestarikan dari generasi ke generasi.
Meriam Karbit bukan sekadar permainan bunyi meriam biasa, tetapi merupakan bagian dari perayaan besar yang sarat nilai sejarah, kebersamaan, dan semangat budaya lokal.
Meriam Karbit adalah tradisi membunyikan meriam rakitan yang menggunakan karbit (kalsium karbida) sebagai bahan utama untuk menghasilkan ledakan suara yang menggelegar.
Suara dentuman yang keras menjadi ciri khas tradisi ini dan biasanya menggema di sepanjang tepian Sungai Kapuas.
Tradisi ini umumnya digelar untuk menyambut Hari Raya Idulfitri, meski dalam perkembangannya juga sering ditampilkan dalam festival budaya dan acara pariwisata daerah.
• Warga Pontianak Kritik Rencana Program Gentengisasi Pemerintah
Hampir dapat dikatakan bahwa tradisi ini hanya berkembang secara besar dan terorganisir di Kota Pontianak. Inilah yang membuat Meriam Karbit menjadi simbol budaya khas masyarakat Melayu setempat.
Menurut cerita turun-temurun, tradisi ini sudah ada sejak masa Kesultanan Pontianak. Dahulu, dentuman meriam dipercaya digunakan sebagai penanda datangnya hari besar Islam sekaligus sebagai bentuk perayaan rakyat.
Kini, Meriam Karbit bukan lagi sekadar tradisi bunyi-bunyian, tetapi sudah menjadi atraksi budaya yang menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Tradisi ini mengandung banyak makna sosial dan budaya, antara lain:
Gotong royong dalam pembuatan meriam
Kebersamaan warga saat perayaan berlangsung
Pelestarian warisan leluhur Melayu Pontianak
Daya tarik wisata budaya Kalimantan Barat
Setiap kelompok pembuat meriam biasanya menghias lokasi mereka dengan lampu, ornamen khas Melayu, dan dekorasi menarik sehingga suasana malam perayaan menjadi semakin meriah.
Karena keunikannya, Meriam Karbit kini diakui sebagai salah satu ikon budaya Kota Pontianak. Tradisi ini bahkan sering masuk dalam kalender pariwisata daerah dan dilombakan secara resmi untuk menjaga keamanan sekaligus kreativitas masyarakat.
Dentuman meriam yang menggema di tepian Sungai Kapuas bukan hanya suara perayaan, tetapi juga simbol kuat bahwa budaya lokal Pontianak tetap hidup dan dicintai warganya.