Deru Mesin dan Harmoni Puisi di Simpang Empat Denggung: Kisah Abroery Mengamen dengan Cara Berpuisi
February 06, 2026 12:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Di tengah terik matahari, bising deru mesin dan kepulan asap kendaraan di Simpang Empat Denggung, Abroery Arodam biasa muncul menawarkan harmoni yang berbeda.

Sosoknya nyentrik. Ia tidak memetik gitar, melainkan melantunkan bait-bait puisi untuk menyuarakan keresahan sosial sekaligus merawat sastra di kerasnya aspal jalanan. 

Berbekal speaker corong

Pemuda 37 tahun itu tidak membutuhkan alat musik untuk menarik perhatian. Berbekal speaker corong, topi koboi dan kesadaran, suaranya lepas, bebas, menyatu dengan deru suara mesin. Ia menyulap jalanan di jantung Bumi Sembada itu menjadi panggung sastra, seakan ingin membuktikan bahwa di sela ruang tunggu lampu merah yang sangat membosankan sastra masih punya ruang untuk bernapas. 

"Motivasi saya, hanya ingin melestarikan kesenian puisi. Yang sekarang benar-benar mau punah," kata Abroery, atau kerap disapa Masbro, pada Kamis (5/2/2026).

Ia mengaku sudah melakukan penelusuran dihampir semua platform media sosial, terutama di lima belas tahun terakhir, hampir tidak ada kreativitas yang menyajikan karya seni puisi. Dewasa ini, seseorang yang tampil joget-joget di media sosial dianggap sudah paling kreatif. Hal ini tentu berbeda, dibanding era tahun 90an, yang mencurahkan kreativitas dengan mengolah pikiran, rasa, bait dan diksi yang tepat. 

Karena itu, untuk melawan keterbatasan ia memilih jalanan sebagai panggung agar puisi tidak punah. Supaya lebih apik, ia menyelipkan kidung di antara penampilannya. 

"Saya imbangi kidung biar fresh dan orang-orang suka. Inspirasi saya dari Sujiwo Tedjo, seniman yang sering bawa kidung," katanya. 

-
Wanita jalang di emperan Jogja 
Kala gelap gulita, 
engkau menyala nyala. 
Diisak tangis kau tersenyum manja 
Hai Nona! 
Katakan pada yang menghinamu. 
Biar...biar...biar,..biarkan..saja 

Disini anakmu menggigil 
Disana ibumu menggelepar, tahan lapar


Sepenggal bait puisi itu meluncur dari bibir Abroery yang berpadu dengan speaker corong. Suaranya berintonasi pilu, namun tegas. Puisi berjudul wanita jalang itu ditulisnya dari inspirasi seoarang teman yang berjuang mencari nafkah hingga larut malam membawa anaknya. Ada pesan moral yang ingin disampaikan dari deretan bait itu. 

Puisi yang ditulis Abroery bukan berangkat dari ruang hampa. Puisinya merupakan hasil kontemplasi dari berbagam peristiwa yang mendera batinnya. Misalnya saat dia menulis puisi Banjir Bandang Sibolga. 

Banjir Bandang Sibolga 
Air menyala menyala di atas perbukitan, mengggelepar..
Kemana kampungku? 
Mau kau apain hidupku? 
Jawab... 
Ayok dijawab.. 

Puisi tersebut tercipta pascatragedi bencana alam yang menerjang Sumatera, terutama di Kota Sibolga, pada November tahun lalu. Dahsyatnya bencana yang menghancurkan rumah-rumah warga menginspirasi dirinya untuk mengabadikannya dalam sajak puisi. Puisi itu digunakannya untuk penggalangan donasi kemanusiaan. 

"Hasil penggalangan sudah kami luncurkan untuk donasi," kata Abroery. 

Mengenyam pendidikan tinggi

Meski kini tinggal di emperan, anggota Teater Jalanan Jogja ini adalah seorang Sarjana Hukum. Abroery pernah mengenyam pendidikan tinggi di sebuah kampus di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Ia juga lulusan Sarjana Ekonomi dari sebuah perguruan tinggi di Malang.

Ia aktif di pelbagai organisasi sastra bahkan pernah juga menjadi Jurnalis. Dari situ jiwa sastranya terasah. 

Mantan pengusaha

Selain pegiat sastra, ia juga seorang entrepreneur yang mempunyai usaha rumah makan hingga 78 cabang.

Namun usaha itu tak bertahan lama. Tahun 2020 merupakan tahun sulit bagi hidupnya. 

Seluruh usahanya hancur karena terimbas pandemi.

Ditinggal istri

Istrinya pergi dan anaknya mengalami kelumpuhan. 

Kini pemuda asal Madura ini memutuskan berpetualang. Niat awal mencari sang istri.

Pelbagai kota disinggahi hingga akhirnya sang istri ditemukan di Batam tetapi sudah menikah lagi.

Kini, ia memilih belajar hidup di kampus jalanan. Menyuarakan segala kegelisahan, mengobati luka dan merawat sastra. 

Terus berkarya

Ia bersama komunitasnya, ingin terus berkarya, meski dengan segala keterbatasan. Ia mengaku sudah menulis ratusan lagu, bahkan dalam waktu dekat ingin meluncurkan sajak "Petisi Rungkad Judol". Ini merupakan kegelisahan dirinya karena semakin banyak orang yang terjerumus menjadi korban judi online. 

Korban judol beranggapan bahwa ketika rusak, maka hanya berimbas pada dirinya sendiri. Padahal kata dia judol merusak sistem ekonomi makro. Karena cashflow atau arus uang dari masyarakat yang dibayarkan sebagai deposit judi, bergerak mengalir ke negara bandar judol. 

"Kita ingin berusaha memberikan edukasi dampak dari judi online. Kata kata sudah disusun. Isi pesan moral dari puisi kita dampak dari judi ini, untuk pribadi maupun masyarakat," katanya.(*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.