Psikolog UII Yogyakarta: Kekerasan dalam Pacaran Perlu Dipahami Secara Utuh
February 06, 2026 12:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Fenomena kekerasan dalam hubungan pacaran di kalangan anak muda akhir-akhir ini kerap menjadi perhatian publik.

Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Qurotul Uyun, menegaskan bahwa setiap kasus yang dikategorikan sebagai kekerasan dalam pacaran perlu disikapi dengan kehati-hatian, empati, dan objektivitas.

Memahami kekerasan dalam pacaran

Menurut Qurotul Uyun, kekerasan dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan. Namun, ia mengingatkan bahwa tidak semua relasi yang dipenuhi konflik dapat secara otomatis disimpulkan sebagai kekerasan satu arah.

Untuk memahami sebuah hubungan yang bermasalah, perlu dilihat dinamika psikologis yang terjadi secara lebih menyeluruh.

“Dalam banyak relasi yang tidak sehat, sering kali terdapat pola interaksi dua pihak yang saling memengaruhi dari waktu ke waktu, meskipun dampaknya bisa sangat berat bagi salah satu pihak,” ujarnya pada Tribun Jogja, Kamis (5/2/2026).

Ia menjelaskan, dalam hubungan yang tidak sehat kerap ditemukan adanya ketergantungan emosional, kesulitan menetapkan batasan diri, toleransi terhadap perlakuan yang merugikan, serta harapan bahwa pasangan akan berubah. 

Psikologis relasi

Kondisi tersebut, kata dia, bukanlah bentuk kesalahan korban, melainkan gambaran bagaimana secara psikologis seseorang dapat bertahan dalam relasi yang justru merugikan dirinya sendiri.

Di sisi lain, perilaku agresif atau menyakiti dari pasangan juga tidak muncul tanpa latar belakang. Perilaku tersebut umumnya berkaitan dengan ketidakmampuan mengelola emosi, kebutuhan untuk mengontrol, serta pola komunikasi yang tidak sehat dan mungkin telah terbentuk sejak sebelumnya.

“Kedua hal ini menunjukkan bahwa dalam relasi yang tidak sehat, sering kali terdapat pola timbal balik yang tidak disadari oleh kedua belah pihak,” tambah jebolan program doktoral di Leipzig University, Jerman tersebut.

Memahami pola relasi

Oleh karena itu, Uyun menilai penting bagi masyarakat untuk tidak terburu-buru melihat persoalan kekerasan dalam pacaran semata-mata dari sudut pandang siapa yang salah dan siapa yang benar.

Dia menekankan, yang lebih utama adalah memahami pola relasi yang terjadi, memastikan perlindungan bagi pihak yang terdampak, serta membantu kedua belah pihak belajar membangun hubungan yang lebih sehat di masa depan.

Ia menekankan bahwa pendekatan psikologis tidak bertujuan untuk menyalahkan, melainkan untuk memberikan pemahaman, meningkatkan kesadaran diri, serta mencegah agar pola relasi yang tidak sehat tidak terulang kembali.

“Saya mengajak masyarakat untuk melihat isu ini secara dewasa dengan empati, tanpa penghakiman, dan dengan kesadaran bahwa relasi yang sehat dibangun oleh dua pihak yang sama-sama mampu menjaga diri dan menghormati pasangannya,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.