TRIBUNJOGJA.COM - Pernahkah Anda membayangkan sebuah dunia di mana Anda tidak bisa berhenti tertawa sampai sesak napas, atau dipaksa menari oleh tubuh sendiri sehingga jantung menyerah? Terdengar seperti plot film horor, bukan?
Tapi nyatanya, sejarah menyimpan catatan tentang wabah-wabah "gaib" yang menyerang mental dan fisik manusia secara massal tanpa peringatan.
Beberapa wabah ini tidak disebabkan oleh virus atau bakteri biasa, melainkan oleh fenomena psikologis massal yang mengerikan.
Berikut adalah 5 wabah paling aneh yang pernah tercatat dalam sejarah dunia:
Baca juga: 5 Film Kartun Legendaris yang Ternyata Punya Makna Kelam
Kejadian paling legendaris sekaligus mengerikan mungkin adalah The Dancing Plague tahun 1518 yang meledak di Strasbourg, Prancis.
Bayangkan satu orang mulai berjoget tanpa musik, lalu dalam sekejap ratusan orang lainnya ikut terseret dalam gerakan gila yang sama.
Mereka menari tanpa henti selama berminggu-minggu hingga kaki hancur dan jantung berhenti berdetak karena kelelahan luar biasa.
Hingga kini, para ahli masih berdebat apakah ini akibat racun jamur gandum atau murni "kesurupan" massal secara psikologis.
Bergeser ke Afrika, tepatnya di Tanzania, pernah terjadi The Tanganyika Laughter Epidemic tahun 1962.
Ini bukan tawa bahagia yang menular sesaat, melainkan tawa histeris yang menyerang ribuan orang selama berbulan-bulan.
Saking parahnya, puluhan sekolah harus ditutup karena para muridnya tidak bisa berhenti tertawa sampai pingsan dan sesak napas.
Tawa yang awalnya terdengar lucu ini berubah menjadi horor karena tidak ada satu pun orang yang bisa mengontrol kapan mereka harus berhenti.
Wabah The West Bank Fainting Epidemic tahun 1983 menyerang ratusan siswi sekolah di wilayah Palestina. Para gadis mendadak jatuh pingsan, mual, dan pusing secara bersamaan tanpa alasan medis yang jelas.
Awalnya dunia mengira ada serangan gas kimia rahasia, namun penyelidikan mendalam justru menyimpulkan bahwa ini adalah fenomena Mass Psychogenic Illness, di mana stres berat akibat konflik politik memicu reaksi fisik yang menular secepat virus ke tubuh orang lain.
Di belahan dunia lain, tepatnya di Singapura, pernah pecah kepanikan massal yang dikenal sebagai The Koro Epidemic tahun 1967.
Ribuan pria mendadak dihantui rasa takut yang tidak masuk akal bahwa organ vital mereka menyusut dan akan masuk ke dalam tubuh yang berujung pada kematian.
Kondisi ini memicu kekacauan nasional hingga pihak rumah sakit dan pemerintah harus melakukan siaran darurat untuk menenangkan warga bahwa "penyusutan" tersebut hanyalah halusinasi akibat kecemasan kolektif yang parah.
Terakhir, sejarah juga mencatat fenomena The Victorian Fainting Spells yang sering dianggap sebagai wabah "lemah lembut" pada wanita era 1800-an.
Di pesta-pesta dansa, para wanita sering jatuh pingsan secara massal. Namun, di balik label "drama" yang diberikan masyarakat saat itu, penyebab aslinya sangat menyiksa, yaitu korset yang terlalu ketat.
Tekanan ekstrem pada tulang rusuk membuat mereka kekurangan oksigen secara kronis, sehingga pingsan massal menjadi pemandangan harian yang mengerikan akibat tren kecantikan yang mematikan.
(MG ADZKIA HAFIDZA ELFADZ)