Teaching Factory saya pikir sesuatu yang harus diperkuat oleh politeknik. Tentunya harus sehat secara bisnis, teknologi, dan memberikan dampak ekonomi
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menekankan urgensi penguatan sistem Teaching Factory (TeFa) guna menciptakan pendidikan vokasi yang berkualitas.
Melalui keterangan di Jakarta, Jumat, Mendiktisaintek Brian Yuliarto menilai TeFa merupakan media ekosistem pembelajaran berbasis produksi yang sehat secara bisnis.
"Kita harus mencari hal ikonik yang dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat. Teaching Factory saya pikir sesuatu yang harus diperkuat oleh politeknik. Tentunya harus sehat secara bisnis, teknologi, dan memberikan dampak ekonomi," kata Mendiktisaintek.
Mendiktisaintek menilai bahwa TeFa harus menjadi mesin ekonomi nyata yang memungkinkan mahasiswa belajar melalui praktik langsung, sekaligus mendukung keberlanjutan institusi.
Ia menegaskan transformasi pendidikan vokasi harus menghasilkan dampak nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Lebih lanjut Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek Khairul Munadi menegaskan bahwa kementerian mendorong penguatan kementerian tidak berhenti sebagai program sesaat, tetapi dapat melembaga secara sistematis dan berkelanjutan.
"Dalam konteks transformasi pendidikan tinggi, kepemimpinan memegang peran yang sangat krusial. Dengan kepemimpinan yang kuat, keterbatasan sumber daya dapat diatasi melalui kolaborasi dan inovasi. Sebaliknya, sumber daya yang melimpah tanpa kepemimpinan yang baik justru berpotensi tidak termanfaatkan secara optimal," ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Politeknik Negeri Indramayu sekaligus ketua delegasi peserta Program Inspirasi Manajemen Visioner (Prima-Visi) Rofan Aziz menyoroti pentingnya kepemimpinan visioner dalam mendorong transformasi pendidikan vokasi yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing global dengan mengacu praktik baik internasional.
Menurut Rofan, pendekatan model kemitraan Co-Design, Co-Location, Co-Funding, Co-Creation, dan Co-Prosper (5C) dapat mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, regulator, dan pendanaan untuk membangun ekosistem pendidikan vokasi yang berkelanjutan.
"Transformasi Polytechnic University bukan hanya transformasi nama, tetapi memang membutuhkan beberapa otonomi fungsional, kemitraan industri yang sejajar dari riset terapan yang berdampak bukan hanya sekedar penyesuaian kurikulum," tutur Rofan Aziz.







