Pernyataan Pramono Terbantahkan, Siswa Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Akui Sakit Hati Dibully
February 06, 2026 10:11 AM

TRIBUNJAKARTA.COM - Pengakuan anak berkonflik dengan hukum (ABH), siswa pelaku peledakan sekolahnya sendiri, SMAN 72 Jakarta, membantah pernyataan Gubernur Jakarta Pramono Anung.

Orang nomor 1 di Jakarta itu pernah berspekulasi bahwa insiden ledakan sekolah di kawasan Jalan Prihatin nomor 87, RT 8 RW 2, Kelapa Gading Barat Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara itu bukan dipicu aksi perundungan atau bullying.

Namun, setelah serangkaian proses pemeriksaan aparat kepolisian, ABH mengaku merakit bom dan meledakkan sejkolahnya karena sakit hati dibully.

Pengakuan pelaku disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto, Jumat (6/2/2026).

Pelaku mengaku sering dikucilkan di oleh sejumlah temannya di sekolah.

"Berdasarkan keterangan anak (pelaku), motif yang disampaikan adalah rasa sakit hati terhadap lingkungan sekolah, khususnya perlakuan dari sejumlah teman yang dinilai sering mengucilkan," kata Budi.

Selain itu, pelaku juga kerap menjadi bahan ejekan sejak SMP karena lebih sering bergaul dengan teman perempuan.

Perlakuan itu masih dialami pelaku ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.

"Anak menerangkan bahwa sejak SMP kerap menjadi bahan ejekan, termasuk dipanggil dengan sebutan yang merendahkan karena lebih sering bergaul dengan teman perempuan, dan situasi serupa berlanjut saat SMA," ungkap Kabid Humas.

Semua ejekan yang diterima membuat pelaku marah dan merasa tertekan hingga memutuskan untuk meledakkan bom di SMAN 72 Jakarta.

"Perlakuan tersebut membuat anak merasa marah dan tertekan karena serangan yang menyasar penampilan serta kondisi pribadinya. Atas dasar itu, anak mengaku kemudian memutuskan untuk melakukan aksi pemboman di sekolah," ujar Budi.

Sebelumnya, Dansat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Henik Maryanto mengatakan, ada dua bom yang diledakkan di area masjid.

"Di sana ada dua crater, artinya ada dua kawah ledak yang kami temukan di TKP. Berarti kemungkinan diduga memang ada dua bom yang diledakkan di dalam masjid," kata Henik di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (11/11/2025).

Henik mengungkapkan, bom yang berada di masjid dikendalikan melalui remote yang ditemukan polisi di taman baca.

"Dapat disimpulkan untuk di TKP pertama di masjid, bahwa berdasarkan material yang ditemukan, rangkaian tersebut adalah rangkaian bom aktif dengan menggunakan remote," ungkap Dansat Brimob.

Adapun TKP kedua peledakan bom berada di bank sampah dan taman baca. Berbeda dengan TKP pertama, bom di bank sampah dan taman baca diledakkan menggunakan sumbu bakar.

Di lokasi tersebut ditemukan barang bukti berupa kaleng dan pipa logam. Secara keseluruhan, polisi menemukan tujuh bom yang empat di antaranya telah meledak.

"Jadi dari tujuh, empat yang meledak. Tiga yang masih aktif sudah kita kembalikan di Markas Gegana Satbrimob Polda Metro Jaya," ujar Henik.

Sementara itu, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri mengungkap kepribadian pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta.

Asep mengatakan, pelaku dikenal sebagai sosok yang tertutup dan memiliki ketertarikan dengan konten terkait kekerasan.

"ABH (anak berhadapan dengan hukum) dikenal sebagai pribadi yang tertutup, jarang bergaul, dan tertarik pada konten kekerasan," kata Asep.

Fakta itu terungkap setelah polisi memeriksa 16 saksi termasuk guru, siswa, serta pelaku dan keluarganya.

"Kami memeriksa 16 saksi yang terdiri dari korban baik guru dan siswa, termasuk ABH dan keluarga ABH," ungkap Kapolda.

Pernyataan Pramono

Sebelumnya, Gubernur Jakarta Pramono Anung menegaskan, insiden ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta bukan dipicu bullying.

Ia menyebut, pelaku yang kini berstatus ABH itu nekat melakukan aksinya karena terinspirasi tontonan berbahaya di internet.

Hal ini disampaikan Pramono berdasarkan rekaman CCTV dan penelusuran polisi di mana pelaku tampak menyiapkan bahan peledak dengan matang.

“Kalau lihat video yang ada di CCTV, kemudian juga persiapan dengan tujuh bahan peledak, memang saya yakin pasti itu karena terinspirasi, terpengaruh oleh apa yang dia tonton,” ucapnya, Kamis (13/11/2025).

Pernyataan ini disampaikan Pramono sekaligus untuk menepis kabar yang mengkaitkan insiden tersebut dengan isu perundungan atau bullying yang dialami pelaku selama bersekolah di SMA Negeri 72 Jakarta.

Pramono menegaskan, informasi tentang adanya aksi perundungan tidak benar alias hoaks.

“Jadi persoalan di 72 kan banyak orang berspekuliasi. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan diskriminasi, tidak ada sama sekali dengan intoleransi. Karena yang melakukan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan itu, tidak benar dengan adanya bullying,” ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.