Menilik Kemegahan Stasiun Solo Jebres, Jejak Klasik Keraton dan Arsitektur Eropa di Kota Bengawan
Sinta Darmastri February 06, 2026 01:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Kota Solo memang tak pernah kehabisan cerita. 

Di balik hiruk-pikuk Solo Balapan yang ikonik, terselip sebuah permata sejarah yang tak kalah memukau, Stasiun Solo Jebres. 

Lebih dari sekadar tempat perlintasan kereta, stasiun yang kini menyandang status Cagar Budaya ini adalah saksi bisu kemegahan masa lalu yang masih berdiri kokoh di Jalan Jenderal Urip Sumoharjo.

Warisan Kolonial untuk Keluarga Raja

Lahir dengan nama Stasiun Soerakarta pada tahun 1880, bangunan ini merupakan buah kerja sama antara pemerintah Kasunanan Surakarta dengan perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staats Spoorwegen (SS).

Dahulu, Solo Jebres bukan hanya urat nadi transportasi masyarakat umum. 

Stasiun ini memiliki kasta tersendiri karena menjadi fasilitas perjalanan eksklusif bagi keluarga Keraton Kasunanan. 

Sejak awal berdiri, perannya sangat vital menghubungkan jalur utara dan selatan Jawa bagi kereta kelas ekonomi hingga eksekutif.

Meski sejak 1 Februari 2014 fungsinya sebagai titik awal dan akhir perjalanan telah bergeser, denyut nadi kehidupan di sini tak pernah berhenti. 

Hingga kini, Solo Jebres tetap menjadi persinggahan penting bagi kereta jarak jauh menuju Jakarta dan Surabaya, pusat logistik kargo, hingga moda transportasi modern seperti KRL Jogja-Palur.

Baca juga: 3 Minggu Ditutup, Museum Keraton Solo akan dibuka Pekan Depan? tapi Pengunjung Belum Bisa Akses

Simfoni Arsitektur: Neoklasik yang Estetik

Berjalan memasuki area stasiun, Anda akan disambut oleh fasad bangunan bergaya Indische Empire yang kental dengan sentuhan Neoklasik dan Art Nouveau. 

Arsitekturnya dirancang simetris dengan pintu-pintu tinggi yang menciptakan kesan megah layaknya istana.

- Detail Unik: Langit-langit setinggi hampir 6 meter memberikan sirkulasi udara yang sejuk dan kesan lapang.

- Sentuhan Artistik: Jendela-jendela setengah lingkaran khas Art Nouveau bersanding manis dengan ornamen jalusi dan teralis besi yang rumit.

- Warna Ikonik: Perpaduan warna merah muda yang kontras dengan dinding bata merah membuat stasiun ini menjadi latar foto yang sangat estetik bagi para pencinta sejarah dan fotografi.

Baca juga: 3 Rekomendasi Sate Kambing Legendaris di Solo yang Wajib Dicoba, Langganan Para Pejabat Tinggi

Diplomasi di Balik Rel Kereta

Pembangunan Stasiun Solo Jebres bukan sekadar soal transportasi. Secara politis, proyek ini merupakan alat diplomasi antara pihak Keraton dan Belanda. 

Di sisi ekonomi, keberadaan jalur ini mempercepat distribusi komoditas emas hijau kala itu, seperti tebu dan tembakau, yang memperkuat posisi Solo sebagai pusat perdagangan utama di masa kolonial.

Baca juga: 7 Rekomendasi Warung Ayam Goreng Enak di Solo, Empuk & Harga Terjangkau, Punya Banyak Varian Sambel

Revitalisasi Tanpa Menghilangkan Jati Diri

Menyadari nilai sejarahnya yang tak ternilai, Pemerintah Kota Solo bersama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menetapkannya sebagai Bangunan Cagar Budaya. 

Pada tahun 2010, melalui tangan dingin Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan KAI, stasiun ini direvitalisasi. 

Hebatnya, perbaikan ini dilakukan tanpa mengubah satu pun detail historisnya, sehingga pengunjung tetap bisa merasakan atmosfer tahun 1800-an.

Kini, bagi Anda yang berkunjung ke Solo, mampir ke Stasiun Solo Jebres bukan sekadar menunggu kereta tiba. 

Ini adalah perjalanan melintasi waktu, menikmati harmoni antara fungsi transportasi modern dan keanggunan masa silam yang tetap terjaga di tengah modernitas kota.

Informasi Lokasi:

Alamat: Jl. Ledoksari No.1, Purwodiningratan, Kec. Jebres, Kota Surakarta.

Layanan: Kereta Jarak Jauh, Kereta Kargo, dan Commuter Line (KRL) Jogja-Palur.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.