Instruksi Pemakaian Atap Genting, Bupati Kediri Mas Dhito Pilih untuk Bangun Rumah Tak Layak Huni
Sri Wahyuni February 06, 2026 01:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Instruksi Presiden Prabowo Subianto terkait program gentengisasi/ gentingisasi atau penggantian atap seng menjadi genting (atap tanah, red) mendapat respons dari Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana. 

Meski menilai kebijakan tersebut sebagai langkah yang baik.

Mas Dhito memilih memprioritaskan penanganan rumah tidak layak huni di wilayah Kabupaten Kediri.

Hal itu disampaikan Mas Dhito usai menghadiri acara tasyakuran swasembada pangan di halaman Pemerintah Kabupaten Kediri, Kamis (5/2/2026) siang.

Menurutnya, esensi dari arahan Presiden adalah meningkatkan kualitas hunian masyarakat, namun penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi daerah.

"Gentengisasi itu sebenarnya maksud Bapak Presiden adalah mengganti seng menjadi genteng. Ya saya rasa itu bagus," ucap Mas Dhito.

Namun demikian, Mas Dhito menilai Kabupaten Kediri saat ini masih menghadapi persoalan mendasar terkait banyaknya rumah warga yang belum layak huni.

Karena itu, menurutnya, pembangunan rumah menjadi prioritas utama dibandingkan sekadar mengganti material atap.

"Kalau untuk genteng, saya masih lebih fokus untuk rumah tidak layak. Banyak warga yang rumahnya tidak layak. Jadi ngapain bangun gentengnya kalau rumahnya masih banyak yang tidak layak," tegasnya.

Baca juga: Sudah Ambil RPC, Dua Perempuan Ini Siap Rebut Hadiah di Ajang RS BHC Run 2026 Sumenep

Mas Dhito menegaskan bahwa pilihannya tersebut bukan berarti menolak atau tidak mendukung program Presiden.

Ia memastikan Pemerintah Kabupaten Kediri tetap sejalan dan mendukung penuh kebijakan pemerintah pusat.

"Poin saya bukan itu. Saya kalau untuk support program Presiden, saya support sepenuh-penuhnya. Bukannya saya tidak men-support," ungkapnya.

Mas Dhito mencontohkan, sejumlah program nasional telah berjalan baik di Kabupaten Kediri. Mulai dari program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang menempatkan Kabupaten Kediri di peringkat enam atau tujuh se-Jawa Timur.

"Karena mulai dari KDMP, kami ada di peringkat 6 atau 7 Jawa Timur," ujarnya.

Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga disebut berjalan tanpa kendala berarti.

Mas Dhito berharap program tersebut terus berjalan lancar dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

"MBG juga tidak ada masalah. Doakan semoga tidak ada yang terjadi halal yang racunan dan sebagainya," katanya.

Mas Dhito juga menyampaikan progres program Sekolah Rakyat yang merupakan salah satu agenda prioritas pemerintah pusat.

Ia menargetkan pembangunan gedung baru sekolah tersebut di Kabupaten Kediri bisa rampung sesuai jadwal.

"Terus yang berikutnya sekolah rakyat, target Agustus 2026 sudah selesai," jelasnya.

Menurut Mas Dhito, seluruh kebijakan pembangunan harus dilihat dari kebutuhan paling mendesak masyarakat.

Dalam konteks perumahan, ia menilai menyediakan hunian layak jauh lebih penting sebelum berbicara soal peningkatan kualitas material bangunan.

"Itu dulu yang diselesaikan," pungkas Mas Dhito.

Baca juga: Putusan MA Turun, Sengketa Proyek Alun-Alun Kota Kediri Masuk Babak Penentuan

Salah satu produsen genting, Marwan (38) warga Dusun Templek Desa Gadungan Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, menyambut baik inisiasi Presiden Prabowo.

Menurutnya, selain bisa mengangkat ekonomi penjual, genting memang atap tradisional yang telah digunakan sejak dahulu dan lebih adem. 

Produsen genting generasi ketiga ini menyebut saat ini harga genteng berada di angka Rp 600 ribu - Rp 1 juta per seribu buah tergantung jenis pres dan kualitas tanah liat. 

"Kalau pakai galvalum atau asbes itu kan panas, tapi kalau genteng tanah liat adem, lebih sejuk. Udara dalam rumah terasa segar, tidak lembap," ucapnya. 

Dalam bahasa lisan, penyebutan atap bangunan dari tanah adalah genteng. Namun dalam kaidah Bahasa Indonesia, penulisannya adalah genting.

(Isya Anshori/TribunMataraman.com)

Editor : Sri Wahyunik

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.