TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda Desa Sungai Upih, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau belum bisa dikendalikan hingga Jumat (6/2/2026).
Api Karhutla masih membara di lokasi dengan menghasilkan asap tebal dan mengepul.
Si jago merah terdeteksi sejak empat hari yang lalu dan langsung ditangani tim gabungan dari berbagai instansi. Operasi pemadaman darat belum membuahkan hasil yang signifikan di lapangan.
"Kondis Karhtula di Sungai Upih hari ini masih sama seperti kemarin. Api masih besar dan asapnya cukup tebal. Tim masih di lokasi untuk pemadaman," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, Zulfan kepada tribunpekanbaru.com, Jumat (6/2/2026).
Ia menyebutkan, api Karhutla di Desa Sungai Upih sempat menyebar hingga menyatu dengan lahan yang terbakar di Desa Teluk Beringin.
Lantaran lokasinya berdekatan, alhasil areal yang dilalap api menjadi satu hamparan di kedua desa yang bertetangga itu. Namun titik api yang muncul cukup banyak dalam satu kawasan.
Hal itu membuat personil gabungan susah menembus lokasi kebakaran.
Baca juga: Angin Kencang dan Akses Jalan Jadi Kendala, 120 Personil Berjibaku Padamkan Karhutla di Pelalawan
Ditambah akses yang dilalui cukup sulit serta asap tebal yang membayangi setiap tim yang melakukan penyiraman.
"Jika hanya mengandalkan operasi pemadaman darat, ini cukup lama karena apinya sudah sempat menyebar seperti itu," beber Zulfan.
Adapun lahan yang telah hangus dilalap si jago merah merupakan semak belukar dan kebun kelapa milik warga setempat.
Bahkan api telah merembet ke kawasan hutan yang berada di dalam area Hak Guna Usaha (HGU) PT TUM.
Sebanyak 120 personil gabungan yang diterjunkan ke lokasi Karhutla di Desa Sungai Upih, Kuala Kampar sejak Rabu (4/2/2026) lalu.
Diantaranya BPBD ada 10 orang, Polri 50 personil, TNI 10 orang, Dinas Damkar 5 orang, pemerintah kecamatan 10 orang, Masyarakat Peduli Api (MPA) 15 orang, ditambah warga setempat 20 orang. Mereka berjibaku memadamkan api dan asap yang terus bertambah.
"Akses juga cukup sulit ke lokasi. Apalagi di Pulau Mendol hanya ada kendaraan roda dua," tambahnya.
Dijelaskannya Zulfan, jarak ke titik Karhutla sekitar 9 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam.
Personil gabungan mengandalkan air di kanal dan embung untuk proses pemadaman.
Sebagian besar lahan yang hangus dilalap api merupakan semak belukar dan areal hutan dengan jenis tanah gambut.
"Luas yang terbakar belum dihitung, karena masi fokus pemadaman. Gambutnya cukup dalam, sekitar 3 meter lebih,' ujar Zulfan.
(Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)