Outlook Negatif Moody's Datangkan Sentimen ke Rupiah, Investor Minta Imbal Hasil Lebih Tinggi
Choirul Arifin February 06, 2026 03:32 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2 atau satu tingkat di atas batas investment grade. 

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan, laporan Moody's tersebut dipicu oleh prediktabilitas kebijakan dan sinyal pelemahan tata kelola pemerintah.

"Pasar langsung menerjemahkan sinyal ini sebagai kenaikan premi risiko seperti rupiah rapuh, obligasi dolar melemah, dan IHSG tetap tertekan setelah gelombang sentimen negatif yang juga dipicu peringatan MSCI terkait transparansi," ujar Syafruddin dalam keterangannya, Jumat (6/2/2026).

Menurut Syafruddin, dampak penurunan peringkat Moody's ini akan muncul melalui pembiayaan pendanaan. Ketika outlook memburuk, investor cenderung meminta imbal hasil lebih tinggi terhadap surat utang yang diterbitkan Pemerintah RI. 

"Efeknya terasa pada harga obligasi (yield naik) dan biaya penerbitan utang baru, baik untuk pemerintah maupun korporasi," ujar dia.

Dampak kedua, yakni tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kata Syafruddin, outlook negatif ini memperkuat persepsi risiko kebijakan, sehingga minat terhadap aset berdenominasi rupiah melemah. 

"Pelemahan rupiah berpotensi mendorong inflasi, terutama melalui kenaikan harga barang impor dan biaya produksi. Ketika kredibilitas kebijakan moneter dipertanyakan, volatilitas nilai tukar dan inflasi cenderung lebih mudah meningkat," tutur dia.

Baca juga: Alasan Moodys Pangkas Outlook Utang RI Jadi Negatif, Soroti Program MBG

Dampak Ketiga yakni arus modal dan pasar saham tertekan. Sebab menurut Syafruddin, outlook negatif mendorong sikap “risk-off” investor asing. Arus jual di pasar saham dan tekanan terhadap IHSG menunjukkan bahwa pasar merespons melalui pergerakan harga, bukan sekadar wacana.

Syafruddin menekankan bahwa dampak penurunan outlook ini pada akhirnya juga bisa dirasakan masyarakat luas. Pertama, harga dan daya beli akan tertekan.

"Rupiah yang melemah membuat harga barang impor seperti pangan, energi, obat-obatan, dan bahan baku naik, yang bisa diteruskan ke harga jual," ujar dia.

Kemudian, bunga kredit naik dan akses pembiayaan mengetat. Dia bilang, kenaikan yield obligasi membuat biaya dana perbankan meningkat.

Baca juga: Moodys Turunkan Peringkat RI, Airlangga: Rating Indonesia Tetap Investment Grade

 

Bank cenderung menaikkan suku bunga kredit atau menahan ekspansi pembiayaan, yang paling cepat dirasakan oleh UMKM, kredit perumahan (KPR), dan pembiayaan kendaraan.

Selain itu, lapangan kerja juga akan terdampak. Syafruddin menyebut, ketidakpastian kebijakan dapat menahan investasi baru. Jika investasi tertunda, pembukaan lapangan kerja dan pertumbuhan pendapatan masyarakat ikut melambat.

"Intinya, outlook negatif bukan vonis, tetapi peringatan. Indonesia dapat membalik persepsi pasar jika pemerintah mengunci prediktabilitas kebijakan, memperbaiki kualitas komunikasi, dan memperkuat institusi yang menjaga stabilitas. Dalam siklus keuangan global, kredibilitas kebijakan menentukan ruang gerak negara," terangnya.

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.