Meninggalnya siswa SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) baru-baru ini pembahasan publik. Kejadian ini juga menjadi sorotan pakar.
Dosen sekaligus sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta S Sos MA berpendapat, kasus ini bukan sekadar permasalahan individu. Ia melihat adanya permasalahan struktural dalam melindungi anak.
"Fenomena ini harus dilihat sebagai problem sosial yang bersifat struktural," katanya dikutip dari laman UGM, Jumat (6/2/2026).
Puncak Akumulasi Tekanan Sosial
Lebih jauh dari itu, Andreas menjelaskan meski ini termasuk fenomena individu berupa bunuh diri, tetapi pemicunya adalah persoalan sosial yang kompleks. Ia juga melihat akarnya berasal dari ketimpangan struktural. Andreas menekankan, kasus ini menjadi puncak akumulasi tekanan sosial. Kondisi ini diperburuk ketimpangan ekonomi, dibuktikan dengan ketidakmampuan sang anak membeli buku dan pena. "Ketimpangan ekonomi yang semakin lebar menyebabkan sebagian masyarakat hidup dalam kondisi ekstrem, bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan paling mendasar", ujarnya.
Keterbatasan Picu Anak Putus Asa
Menurut Andreas, keterbatasan terhadap akses pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan yang kini masih terjadi mendorong sang anak menjadi putus asa. Di sisi lain, masih banyak sekelompok elit yang banyak diuntungkan.
"Menciptakan keputusasaan yang meresap ke dalam dunia batin anak," jelasnya.
Berdasarkan kasus yang mencuat, ia melihat sang anak telah kehilangan harapan terhadap masa depan. Padahal, anak belum memiliki kemandirian penuh dalam mengambil keputusan eksistensial.
"Pilihan bunuh diri menjadi bahasa kegelapan ketika anak tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan, kecemasan, dan harapannya. Ini menunjukkan hilangnya ekspektasi terhadap masa depan," jelas Andreas.
Peran Keluarga-Sekolah-Masyarakat
Andreas kemudian menyoroti peran penting dari keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam menyediakan ruang dialog bagi anak. Menurutnya, pemerintah harus lebih menyediakan fasilitas yang dasar anak untuk hidup lebih layak.
"Di keluarga sering tidak ada afeksi, di masyarakat tidak ada pengakuan terhadap hak anak, dan di sekolah guru masih diposisikan sebagai pusat kebenaran. Anak akhirnya tidak memiliki ruang untuk menyuarakan apa yang mereka rasakan", ungkapnya.
Ia mengingatkan ketiga pihak ini untuk bekerja sama dalam membuat pencegahan kasus serupa. Pencegahan juga bisa dimulai dari penanggulangan kemiskinan.
"Kepiluan anak-anak adalah kepiluan bangsa. Fenomena bunuh diri anak menunjukkan retaknya wajah Indonesia dan menjadi peringatan bahwa negara harus segera berbenah dalam melindungi generasi mudanya," tegas Andreas.







