Cikal Bakal Kampung Bungas di Balikpapan, 6 Tahun Edukasi Warga Pilah Sampah
Budi Susilo February 06, 2026 11:07 PM

‎TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Kampung Bungas di Jalan Ahmad Yani RT 69, Kelurahan Gunungsari Ilir, Kecamatan Balikpapan Tengah, menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang mendapat perhatian langsung dari Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Hanif Faisol Nurofiq.

‎Inisiator Kampung Bungas, Suwanto, mengungkapkan bahwa program tersebut telah berjalan hampir enam tahun dengan konsep pemanfaatan sampah rumah tangga untuk mendukung kebutuhan pangan warga.

‎“Kampung Bungas ini kita jalankan kurang lebih hampir enam tahun. Bungas itu singkatan dari buah, bunga, dan sayur,” ujar Suwanto kepada TribunKaltim.co, Jumat (6/2/2026). 

Baca juga: Anggota DPRD Suwanto Dorong Gerakan Kampung Bungas, dari Lahan Sempit ke Juara Lingkungan Nasional

‎Ia menjelaskan, kebutuhan sayur di lingkungan kampung mendorong warga untuk memproduksi pupuk sendiri dari sampah organik rumah tangga.

‎“Karena kita butuh pupuk, maka kita kelola kompos melalui komposter yang ada. Dari situ masyarakat dilibatkan, termasuk pihak kelurahan,” jelasnya.

‎Kegiatan Kampung Bungas juga terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat, salah satunya melalui pelatihan PKK.

Pada hari kunjungan Menteri LH, Kampung Bungas juga menjadi lokasi pelatihan PKK Kecamatan.

‎“Contohnya hari ini ada pelatihan dari PKK Kecamatan, bagaimana menghidupkan PKK di Kampung Bungas,” katanya.

‎Suwanto mengaku terkejut dengan kunjungan mendadak Menteri Lingkungan Hidup ke Kampung Bungas. Ia baru mengetahui rencana kunjungan tersebut sesaat sebelum Menteri tiba.

‎“Saya kaget juga, karena mendadak. Tadi ‎saya di kasih tahu kalau ada Pak Menteri mau ke Kampung Bungas untuk melihat pemilahan sampah,” ungkapnya.

‎Dalam penerapan pemilahan sampah, Kampung Bungas menerapkan sistem pemantauan berbasis barcode.

Setiap RT memiliki sekitar 30 rumah yang dipantau untuk memastikan proses pemilahan benar-benar dilakukan.

‎“Di setiap rumah ada barcode yang ditempel. Ini untuk memantau, jangan sampai sudah memilah sampah tapi akhirnya dibuang lagi ke TPS,” jelas Suwanto.

‎Menurutnya, data autentik diperlukan sebagai bukti bahwa sampah organik benar-benar masuk ke komposter.

‎“Kalau sudah dipilah, itu sampah dapur atau organik. Yang anorganik disimpan dan nanti dijual ke bank sampah,” ujarnya.

Baca juga: 3 Kota di Kaltim Bakal Dibangun Pembangkit Listrik dari Sampah, Kukar Terbentur Kendala Geografis

‎Meski sudah berjalan bertahun-tahun, Suwanto mengakui tantangan terbesar adalah mengajak warga kota untuk konsisten memilah sampah dari rumah.

‎“Sudah enam tahun, tapi baru sekitar 30 persen rumah yang berminat. Di kota memang nggak gampang ngajak warga memilah sampah,” katanya.

‎Ia berharap, kunjungan Menteri Lingkungan Hidup dapat menjadi pemicu agar lebih banyak warga tergerak ikut terlibat.

‎“Saya harapkan dengan kegiatan seperti ini, yang belum ikut bisa tertular, akhirnya ikut memilah sampah. Lingkungannya juga jadi lebih nyaman,” harapnya.

‎Terkait rencana perluasan program, Suwanto menyebut Menteri Lingkungan Hidup mendorong agar Kampung Bungas terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak masyarakat.

‎“Tadi Pak Menteri menyampaikan agar kegiatan ini dilanjutkan dan diperbanyak orang yang terlibat. Beliau juga ingin melihat bukti bank sampah,” pungkas Suwanto. (*)


© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.