TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Masih terbatasnya akses pendidikan bagi disabilitas menjadi pembahasan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Dalam forum itu terungkap, jumlah disabilitas di Jateng mencapai sekitar 180 ribu orang. Namun, hanya 21.336 orang yang mengenyam pendidikan.
Selain masih banyak disabilitas yang belum mendapatkan akses pendidikan, ternyata ada tiga Kabupaten di Jateng meliputi Klaten, Magelang dan Wonosobo belum memiliki Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri.
Baca juga: Musrenbang Dukuhwaru Wadah Aspirasi Warga Susun RKPD Kabupaten Tegal 2027
"Ya tadi Musrenbang banyak masukkan di antaranya dari kawan-kawan disabilitas mengeluhkan mengenai akses pendidikan. Maka kami akan masifkan lagi akses pendidikan bagi disabilitas melalui sekolah luar biasa," ujar Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin kepada Tribun, selepas Musrenbang yang digelar di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Komplek kantor Gubernur Jateng, Kota Semarang, Jumat (6/2/2026),
Yasin mengakui, hanya sekitar 21.336 disabilitas dari total 180 ribu disabilitas di Jateng yang memperoleh akses pendidikan.
Ia khawatir akan hal itu sehingga mendorong dinas pendidikan untuk memasifkan lembaga pendidikan bagi disabilitas.
"Ya Tiga kabupaten Klaten Magelang dan Wonosobo, segera sediakan tempat untuk SLB. Nanti kami yang akan bangun dan suplai tenaga pengajarnya," ujarnya.
Untuk mengatasi masih terbatasnya lembaga pendidikan untuk disabilitas, Yasin mendorong agar para guru mendapatkan pelatihan pendidikan sekolah inklusi.
Sejauh ini, Pihaknya sudah melatih ratusan guru untuk mendapatkan pendidikan tersebut.
Namun, kewenangan provinsi hanya di tingkat SMA dan sederajat, untuk itu walikota dan Bupati juga ikut melatih guru-guru tingkat SD dan SMP.
"Harapannya semakin banyak guru dilatih maka bisa menampung lebih banyak saudara-saudara disabilitas untuk mendapatkan pendidikan," terangnya.
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Sadimin mengatakan jumlah SLB negeri di Jateng hanya 42 sekolah. Kemudian ada sebanyak 146 SLB swasta. Untuk jumlah disabilitas yang mendapatkan akses pendidikan masih di angka 21.336 orang.
"Ya masih ada Keterbatasan sekolah dan guru sehingga perlu ditingkatkan jumlah SLB. Kami tentu meminta bantuan pula dari swasta seperti NU dan Muhammadiyah supaya bisa menampung anak-anak disabilitas," terangnya.
Ia menuturkan, masih ada tiga daerah yang belum memiliki SLB Negeri. Pihaknya berusaha untuk mengajukan ke pemerintah pusat agar tiga daerah tersebut bisa segera mendirikan SLB.
"Tiga daerah itu Klaten, Kabupaten Magelang dan Wonosobo. Untuk Klaten sebenarnya dana dari pusat ada, tapi tanah belum siap sehingga kami minta siapkan tanahnya agar dana dari pusat turun," ujarnya.
Baca juga: Musrenbang Adiwerna Kabupaten Tegal Tetapkan Tiga Prioritas Pembangunan Tahun 2027
Mengenai sekolah inklusi, Sadimin mengaku ada keterbatasan anggaran sehingga belum banyak guru yang dilatih untuk mengajar di sekolah inklusi.
Khususnya untuk guru yang mengajar di SMA/ SMK.
"Ya kami melakukan pelatihan maupun pendamping SMA SMK sekolah inklusi, sebanyak 120 guru dilatih pertahunnya, di angka itu karena keterbatasan anggaran," bebernya. (Iwn)