Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota
POS-KUPANG.COM, BETUN - Di sebuah dusun kecil bernama Nekto, Desa Raiulun, Kecamatan Malaka Timur, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, berdiri sebuah bangunan sederhana yang jauh dari kata layak untuk disebut sekolah.
Gedung itu adalah SD Nekto, sekolah kelas jauh dari SD Inpres Ninma di Desa Kusa. Di tengah bentangan alam yang indah dan udara pegunungan yang sejuk, bangunan reyot itu menjadi saksi bisu perjuangan pendidikan anak-anak pedalaman di daerah perbatasan NKRI-RDTL.
Saat dipantau POS-KUPANG.COM, kondisi gedung sekolah tersebut sungguh memprihatinkan. Bangunan yang hanya terdiri dari dua ruangan yang saling bergandengan itu beratapkan daun gewang, berdinding bebak, berlantaikan tanah liat, dan ditopang oleh rangka kayu sederhana.
Kini, bangunan itu sudah tampak miring, rapuh, dan nyaris roboh. Atapnya bolong di berbagai bagian, daun gewang yang lapuk jatuh berserakan di tanah.
Baca juga: Pemkab Malaka Sepakati Bangun Gedung Darurat SD Nekto, Izin Operasional Segera Diusulkan
Beberapa sisi dinding bahkan telah roboh dan tergeletak di samping gedung darurat tersebut.
Ruang bagian depan tampak kosong dan terbuka. Sementara di ruang belakang, masih terlihat beberapa meja kayu, bangku kayu, serta sebuah papan tulis kusam yang menjadi satu-satunya sarana belajar bagi 16 orang siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah kelas jauh itu.
Ironisnya, di balik kondisi bangunan yang nyaris tak manusiawi sebagai fasilitas pendidikan, lingkungan sekitar sekolah justru menyuguhkan keindahan alam yang luar biasa.
Hamparan rumput hijau membentang luas di halaman sekolah. Dari kejauhan, Gunung Mande’u tampak berdiri kokoh, menghadirkan panorama alam yang menenangkan, seakan berbanding terbalik dengan kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan.
Goreti Ulu (41), satu-satunya guru yang masih setia mengabdi di SD Nekto, menceritakan kisah perjuangannya dengan mata berbinar dan suara bergetar saat diwawancarai pada Jumat (6/2/2026).
Ia mulai mengajar di sekolah itu sejak tahun 2022 bersama seorang guru lain dari sekolah induk SD Inpres Ninma.
Menurut Goreti, keberadaan sekolah kelas jauh itu berangkat dari keprihatinan terhadap jarak tempuh yang harus dilalui anak-anak Dusun Nekto jika harus bersekolah ke Desa Kusa atau ke wilayah Raimanuk. Jarak yang jauh dan medan yang berat membuat anak-anak, terutama yang masih kecil, kerap kesulitan bahkan terancam putus sekolah.
“Supaya anak-anak ini tetap bisa belajar, membaca, dan menulis, kami memilih membuka sekolah kelas jauh ini. Kami mau anak-anak Dusun Nekto tetap punya masa depan,” tutur Goreti dengan nada haru.
Namun seiring waktu, keterbatasan tenaga pendidik menjadi persoalan serius. Guru dari sekolah induk yang sebelumnya membantu mengajar kini tidak lagi mengajar di sana. Hingga akhirnya, Goreti harus berjuang sendiri mempertahankan sekolah tersebut ketika wacana penutupan sempat mencuat.
“Saya tetap pertahankan sekolah ini karena saya ingat anak-anak. Jalan ke sekolah induk itu jauh sekali. Ada anak-anak kecil yang tidak sanggup berjalan sejauh itu,” ujarnya.
Saat ini, SD Nekto memiliki 16 orang siswa. Rinciannya, kelas satu berjumlah empat orang, kelas dua satu orang, kelas empat sembilan orang, dan kelas lima dua orang. Sedangkan kelas tiga dan kelas enam tidak ada murid.
Sekolah lain terdekat berjarak sekitar tujuh kilometer, baik menuju sekolah di Buitae, pusat Desa Raiulun, maupun ke sekolah induk SD Inpres Ninma.
Sekolah ini dibangun pada tahun 2022 melalui swadaya masyarakat Dusun Nekto, khususnya para orang tua murid. Tanah tempat berdirinya sekolah merupakan milik pribadi Goreti Ulu yang ia serahkan untuk kepentingan pendidikan.
Hingga kini, ia mengajar secara sukarela dengan insentif sebesar Rp 200.000 per bulan dari sekolah induk. Insentif tersebut kerap diterima tidak menentu, bahkan bisa enam bulan hingga satu tahun baru dibayarkan.
Seiring waktu, kondisi bangunan sekolah mulai rusak parah sejak tahun 2024 akibat hujan deras dan angin kencang. Saat musim hujan dan angin, proses belajar terpaksa dipindahkan ke rumah Goreti dengan izin kepala sekolah. Jika cuaca memungkinkan, kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan di gedung sekolah meski dalam kondisi penuh risiko.
Sebagai guru, Goreti tak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat kondisi sekolah dan murid-muridnya.
Ia mengaku pernah berada di titik hampir menyerah, namun rasa prihatin terhadap anak-anak membuatnya kembali bangkit dan bertahan.
Baca juga: Peduli Pendidikan, Polres Malaka Salurkan Bantuan Perlengkapan Sekolah ke SMAS Budi Mulia Bakiruk
“Saya selalu kuatkan anak-anak. Tidak apa-apa, kita tetap belajar demi masa depan,” ucapnya lirih.
Secara administrasi, siswa SD Nekto tercatat dalam penerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) melalui sekolah induk. Namun hingga kini, belum ada bantuan fasilitas belajar mengajar yang bersumber dari dana tersebut.
Meja, bangku, dan papan tulis yang digunakan saat ini merupakan fasilitas lama yang dibawa dari sekolah induk sejak awal berdirinya sekolah kelas jauh itu. Dari 16 siswa, hanya lima orang yang menerima bantuan beasiswa, termasuk Program Indonesia Pintar (PIP).
Tak hanya bangunan sekolah yang memprihatinkan, akses jalan menuju lokasi pun sangat sulit. Jalan menuju sekolah masih berupa tanah dan bebatuan licin, berjarak sekitar tiga kilometer dari jalan lintas Malaka–Belu. Selain itu, sekolah dan seluruh perkampungan Dusun Nekto hingga kini belum teraliri jaringan listrik.
Di tengah keterbatasan fasilitas, minimnya perhatian, dan kondisi gedung yang kian rapuh, semangat belajar anak-anak Dusun Nekto serta pengabdian seorang guru bernama Goreti Ulu tetap menjadi nyala kecil harapan.
Di bawah atap daun gewang yang nyaris runtuh, mimpi-mimpi tentang masa depan masih berusaha bertahan, menunggu uluran tangan kepedulian dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. (ito)