TRIBUNMANADO.CO.ID - Berikut ini podcast di Studio Tribun Manado yang berada di Jalan AA Maramis, Kelurahan Kairagi 2, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulut, Jumat (6/2/2026) pagi.
Bersama Jurnalis Tribun Manado David Kusuma dan Rida Atmiyanti S.Psi, M.M sebagai Head of Stakeholder Relation PT. Sasa Inti.
PT. Sasa Inti merupakan perusahaan penyedap rasa terbesar di Indonesia. Salah satu perusahaan mereka ada di Minahasa Selatan untuk produk santan.
Edisi podcast kali ini membahas tema "Melezatkan Kehidupan Melalui Inisiatif ESG di Sulawesi Utara".
Berikut ini isi Podcast bersama Head of Stakeholder Relation PT. Sasa Inti, Rida Atmiyanti S.Psi, M.M:
Tribun Manado: Selamat pagi, Ibu.
Ibu Rida: Selamat pagi, Pak David.
Tribun Manado: Sehat-sehat ini, Ibu?
Ibu Rida: Sehat, amin.
Tribun Manado: Bagaimana melihat brand produk dari PT Sasa Inti terhadap tanggung jawab sosial ini baik terhadap lingkungan maupun terhadap masyarakat?
Ibu Rida: Baik, halo Tribuners, terima kasih Pak David.
Jadi, kalau Sasa sudah pasti perusahaan yang salah satunya sangat berkomitmen terhadap penerapan ESG. ESG itu Environment, Social and Governance atau Tata Kelola. Jadi kan sekarang tuh masyarakat sudah cerdas.
Artinya apapun mereka bisa cross-check. Baik melalui website, social media atau apapun gitu ya. Atau melalui media-media mainstream.
Komitmen itu akan terus berlanjut. Jadi, kami kan punya yang namanya Sasa Sustainability Framework. Di sana itu kita ada visi-misi perusahaan.
Kemudian juga bagaimana kami menerapkan tentang keberlanjutan melalui beberapa pilar. Pilar yang pertama, itu yang sudah pasti dan tidak bisa ditawar adalah produk. Jadi kami sangat peduli dengan kualitas produk.
Dan kualitas produk bukan hanya tanggung jawab bagian produksi, bagian QC, atau misalnya bagian R&D. Tetapi semua pihak bertanggung jawab terhadap kualitas produk tentunya dengan tanggung jawab mereka masing-masing. Misal, bagian IT punya bertanggung jawab terhadap kualitas produk dengan cara apa? Oh, dengan cara digitalisasi.
Karena digitalisasi itu akan memudahkan bagi semua pihak mendapatkan informasi secara internal dengan mudah. Kemudian menyimpan informasi juga dengan mudah. Itu contohnya.
Kemudian kita ada pilar yang kedua untuk keberlanjutan. Itu adalah pilar social care. Jadi kita peduli terhadap kehidupan sosial.
Kehidupan sosial bukan cuma kepada masyarakat. Tetapi yang paling penting, yang pertama, itu manusia yang terbesar adalah di dalam perusahaan. Jadi kepada karyawan.
Jadi yang perlu ditegaskan dan sangat kami perhatikan adalah kami selalu berusaha comply to government regulation. Apapun itu. Jadi apakah misalnya dengan karyawan terkait dengan upah, terkait dengan ketentuan yang berlaku, terkait dengan keselamatan kerja.
Itu kami sangat pikirkan. Bahkan setiap bagian di PT Sasa Indies, setiap departemen itu punya KPI tentang keselamatan kerja. Jadi kalau sampai ada satu saja yang terlanggar itu sudah mengurangi pencapaian KPI dari bagian tersebut.
Kemudian, ada lagi pilar keberlanjutan yang berikutnya adalah pilar environment care. Itu sebenarnya yang terakhir sih yang environment care. Environment care itu tentunya kita kan bilang peduli terhadap bumi.
Lingkungan hidup. Lingkungan hidup. Jadi tentunya ada tentang bagaimana kita memperlakukan sumber daya dari bahan baku pabrik itu sendiri.
Tidak membuang-buang sumber daya alam. Kan sumber dayanya kami semua berasal dari alam. Jadi kita berhitung sungguh-sungguh supaya tidak ada yang terbuang.
From end to end tidak ada yang terbuang. Termasuk penggunaan air. Penggunaan kemasan.
Kemudian juga lingkungan. Bukan cuma tentang lingkungan hidup. Tapi juga lingkungan sosial.
Artinya bagaimana kami bertanggung jawab terhadap masyarakat sekitar. Kemudian juga melestarikan budaya lokal. Yang tidak kalah penting itu adalah economic care.
Artinya kan apapun yang dilakukan oleh bisnis ya harus untung. Tetapi untungnya bukan untuk sendiri. Tapi bagaimana kita juga bisa untung.
Tapi juga masyarakat sejahtera. Orang-orang yang bermitra dengan kami juga bisa ikut sama-sama untung.
Tribun Manado: Itu bagian dari tanggung jawab ESG tadi itu ya.
Bagaimana ini PT SASA Inti ini bertransformasi bukan hanya sekedar perusahaan penyedap rasa. Tapi menjadi brand yang mengusung nilai kesehatan dan berkelanjutan?
Ibu Rida: Jadi perusahaan kami atau PT SASA Inti orang mengenalnya pertama itu hanya MSG. Begitu dengar kata SASA orang pikirnya oh SASA itu micin. Nah memang satu yang membedakan SASA dengan yang lain adalah produk kami ada banyak.
SKU-nya banyak. Tetapi umbrella brand-nya itu hanya satu. SASA.
Jadi kalau tepung bumbu pun namanya SASA tepung bumbu. Santan pun namanya SASA santan. MSG juga namanya SASA.
Kalaupun kita punya saus cabai, saus tomat juga namanya SASA. Jadi itu yang membedakan. Tapi sebetulnya apa yang pertama kali ada itu MSG itu paling tua.
Berdiri tahun 70-an, 68-70-an gitu ya pabriknya. Itu adanya di Probolinggo dan paling besar. Adanya 45 hektare di sana, satu jam dari Bromo.
Tribun Manado: Jauh timur ya?
Ibu Rida: Iya, kalau mau ke Bali lewat jalan darat, pasti lewat depan pabrik kami. Terus pabrik yang kedua itu adalah tepung, kemudian kondimen. Kondimen itu kayak saus-sausan.
Dan juga bumbu instan adanya di Cikarang. Berdiri tahun 90-an. Itu adanya di kawasan industri Jawa BK.
Nah yang terakhir, yang baru paling mudah diakuisisi adalah SASA santan. SASA santan ini adanya di Amurang. Nah ini yang terdekat, yang jadi kebanggaan kita semua di Sulut harusnya.
Dan Mas David tahu tidak kenapa pabrik kita tersebar di tiga lokasi?
Tribun Manado: Kenapa itu?
Ibu Rida: Karena itu sudah menggambarkan ESG itu sendiri. Tanggung jawab sosial terhadap masyarakat.
Karena itu mendekati pusat bahan baku. Jadi supaya tidak bolak-balik. Itu juga berpengaruh terhadap emisi.
Kemudian memperdayakan masyarakat lokal. Karena kan bahan bakunya MSG itu tetes tebu. Nah kami tetes tebunya mendapatkannya dari pabrik gula.
Tribun Manado: Memperdayakan pabrik gula dengan petani tebu ya?
Ibu Rida: Nah sementara kenapa SASA santan adanya di Minahasa? Karena kelapa terbaik adanya di Sulawesi Utara.
Tribun Manado: Ibu Ida, lanjut ini. Mengapa PT SASA ini perlu menjadikan ESG ini sebagai brand awareness?
Ibu Rida: Lagi-lagi kalau kita hanya memikirkan untung-untung tanpa kita merawat. Maka suatu hari brand ini akan habis.
Atau merk ini akan habis. Nah sementara kan, seperti saya katakan tadi, masyarakat sudah pintar. Apalagi Gen Z. Mereka sangat peduli dengan bumi.
Bahkan anak saya saja sudah tidak mau pakai sedotan plastik. Mereka sudah pakai sedotan stainless sendiri. Nah kalau apa-apa mereka jauh lebih peduli.
Misalnya mereka bukan tidak punya uang, tapi sekarang itu anak-anak kalau misalnya beli brand baju saja bahkan, mereka sangat memikirkan apakah ini bisa didaulang atau tidak. Jadi SASA sebagai salah satu brand yang sudah legendaris ya. Mungkin kita tahu SASA juga dari nenek kita.
Dari abang Baso, abang Soto, dari mangkoknya. Nah kalau SASA tidak mengikuti perkembangan itu, tidak menerapkan keberlanjutan, pasti suatu hari akan habis.
Tribun Manado: Jadi peduli terhadap lingkungan, termasuk juga kepada sosial masyarakat sekitar.
Nah Ibu Ida, kita lanjut lagi Ibu Ida ya. Ibu Ida tadi sudah menjelaskan tentang tanggung jawab sosial, lingkungan, dan juga kepada masyarakat. Termasuk juga masyarakat itu termasuk pegawai-pegawai dari PT SASA juga ya.
Mungkin karyawan. Nah ini Ibu Ida, tanggung jawab sosial ini, PT SASA ini kan juga mungkin terlibat dalam menu Anak Sehat bersama tim penggerak PKK Seselawesi Utara. Programnya ini mungkin salah satu bentuk kepedulian SASA terhadap isu yang program nasional mungkin ya, pengentasan stunting?
Bagaimana PT SASA terlibat dalam hal itu Ibu Ida?
Ibu Rida: Jadi sebelum-sebelumnya kan kami banyak melakukan edukasi untuk kader posyandu. Kemudian bekerja sama dengan Rotary Club dan Frontier for Health menciptakan alat untuk edukasi stunting yang mudah dipakai. Bahkan untuk orang dengan pendidikan yang minimal sekalipun itu mudah, namanya mistar tinggi badan.
Mistar tinggi badan itu tinggal ditempelkan ke tembok, kemudian anaknya itu dilihat usia berapa, timbangan berapa, tinggi berapa, apakah itu sudah menjadi indikasi gizi buruk atau tidak. Kalau iya kemudian kita berikan perhatian lebih. Itu di awal-awal.
Kemudian kita juga melatih para kader posyandu menjadi counselor. Jadi pendekatannya bukan hanya atas kebawah, tapi mereka mendekati ibu-ibu di sekeliling rumah mereka, ibu-ibu dasawisma, ibu-ibu di kader posyandu, supaya mereka mau lebih perhatian lagi kepada anak-anaknya dengan berat badannya pada saat penimbangan. Makanya si ibu-ibu kader ini dibekali oleh pengetahuan untuk mendekati orang lain.
Itu kita mengajarkannya dengan ahli gisi, dengan psikolog, dengan dokter, tapi tentunya dengan bahasa yang sederhana. Tetapi di tahun lalu, kami mengadakan lomba nih Mas David. Jadi kan biasanya ibu-ibu itu paling pusing ya.
Kalau hal yang paling pusing buat si ibu adalah hari ini masak apa. Karena tiap hari sama. 365 hari mereka mesti bikin menu supaya nggak bosen.
Nah, apalagi ditambah anak-anak. Kan tidak mudah ya buat menarik mereka mau makan bergisi. Padahal makan bergisi tidak harus selalu yang mahal.
Bisa dari kebun sendiri, dari empang di belakang rumah. Tapi tinggal bagaimana mereka diajarkan, diracik. Makanya kami melibatkan tim chef.
Dan juga perguruan tinggi dari perhotelan bekerja sama. Bikinlah menu-menu yang lucu. Dan hasilnya lucu-lucu sih.
Ibu-ibu itu bisa bikin nama-nama yang lucu. Misalnya kayak ada dari wortel, kemudian ada telur. Terus nanti mereka bikinlah yang bentukannya lucu.
Dan itu diajarkan dulu di awal sama chef. Setelah itu mereka diminta menciptakan kreasi, terus dilombakan. Dan dilombakannya itu dari kota-kota di mana ada pabrik dan kantor kami.
Jadi dari Jakarta, sekarang Probolinggo dan Minahasa. Jadi menarik banget sih.
Tribun Manado: Agar menarik minat anak-anak untuk makan.
Setelah itu ada menu bergisi yang diselipkan di makanan-makanan itu. Betul-betul itu. Karena anak-anak kan seperti, nggak suka makan sayur.
Walaupun padahal hal-hal penting.
Nah itu untuk menciptakan generasi emas, Ibu Ida. Bagaimana PT Sasa mengedukasi masyarakat tentang penggunaan bumbu yang bervitamin?
Ibu Rida: Jadi kami di kantor Sasa di Jakarta, kami punya tempat namanya studio kreasi Sasa.
Jadi studio kreasi Sasa itu, Mas David, adalah tempat di mana masyarakat bisa mendaftar untuk ikut cooking class atau belajar memasak. Diajarkan langsung oleh chef. Dan itu gratis.
Tidak berbayar sama sekali. Hanya antri saja. Dan sekali belajar memasak, boleh bawa gengnya maksimal 25 orang.
Mereka nanti pulang akan dibagikan goodie bag. Malahan goodie bag produk Sasa plus dengan apronnya. Terus diajarkan tentang memasak yang sehat itu, yang seperti apa, komposisinya tidak berlebihan.
Kemudian mungkin racikan menunya yang proporsional seperti apa. Dan studio kreasi Sasa ini, Mas David, yang menarik adalah pada saat COVID kami berubah fungsi.
Tribun Manado: Jadi apa itu?
Ibu Rida: Jadi biasanya kan kami, studio kreasi Sasa, seminggu itu buka 3-5 kali seminggu untuk menerima tamu.
Pada saat COVID, pada saat lockdown, semua orang takut keluar rumah. Termasuk para medis.
Padahal mereka kelaparan, tidak bisa dapat makanan. Karena ada larangan. Dan kita seperti perang situasinya.
Pada saat itu justru kami bekerja keras. Chef memasak untuk para medis. Jadi memasak lunch box.
Karena para medis kan waktu itu di garda terdepan. Jadi mereka juga susah dapat makanan. Cuma PR-nya adalah bagaimana kami membagikan itu ke rumah sakit.
Tidak ada yang berani. Jadi tugas saya adalah mencari relasi atau ibu-ibu darma wanita. Atau mungkin juga dari NGO.
Atau dari perguruan tinggi. Atau dari rumah sakit. Yang mau mengambil langsung ke tempat kami.
Dan kami sediakan. Pernah satu kali, jadi kalau chef itu kan belanjanya stock untuk satu minggu. Satu kali, keluar peraturan dari pemerintah bahwa besok semua tidak ada yang boleh keluar.
Semua lockdown nasional. Jadi hari itu kami masak yang tadinya untuk satu minggu beberapa hari, beberapa kali. Kita masak sekaligus jadi untuk makan pagi, siang, dan malam.
Dan itu langsung kita bagikan. Itu sangat menarik karena kita melihat pada waktu itu medis itu dengan baju hazmat segala macam. Aduh kita nangis lah. Pokoknya terharu banget.
Tribun Manado: Sangat membantu mereka juga ya. bentuk tanggung jawab perusahaan juga terhadap tanggung jawab sosial.
Ibu Rida: Dan yang dibagikan bukan cuma dokter loh Mas David. Sampai ke orang-orang di kamar mayat. Pada saat itu kan banyak sekali orang yang meninggal. Sampai ke penggali kuburan, itu kita bagikan. Seperti itu.
Tribun Manado: Oke, kita lanjut Ibu Ida. Ini terkait lingkungan hidup mungkin Ibu Ida. Bagaimana PT Sasa, pabrik-pabrik ini meminimalisasi dampak lingkungan? Misalkan di setiap pabrik itu mungkin ada limba.
Pengolahannya mungkin seperti apa?
Ibu Rida: Ya, yang pasti kami berusaha comply dengan government regulation. Nah kalau untuk lingkungan itu ada yang namanya proper, Mas David. Proper itu adalah standar dari Kementerian Lingkungan Hidup yang mesti diterapkan oleh setiap industri.
Salah satunya ada standar-standar, misalnya standar emisi, tidak boleh melebihi batas berapa, kemudian baku mutu air, kemudian juga tentang keanekaragaman hayati, terus dengan masyarakat sekitar seperti apa, gitu. Dan proper itu ada tahapan-tahapannya. Jadi misalnya perusahaan yang tidak lolos standar proper itu misalnya yang sudah parah banget sampai propernya hitam.
Ketika dua baru merah, baru biru. Biru itu udah aman.
Tribun Manado: Itu kayak Kementerian Lingkungan Hidup gitu ya?
Ibu Rida: Iya, jadi itu kayak semacam grade-nya lah.
Nah sejauh ini semua pabriknya Sasa itu ada di biru. Jadi artinya sudah aman, seperti itu.
Tribun Manado: Oke, jadi pengolahannya juga pun, daun ulangnya pun aman juga ya?
Ibu Rida: Iya, dan itu semua setiap tahun dilaporkan berkala.
Jadi bukan artinya dapat sekali untuk selamanya, itu kan berkala setiap tahun.
Tribun Manado: Nah tidak hanya itu juga, bagaimana PT Sasa ini memberikan dampak ekonomi itu tadi ya? Bukan hanya kepada pekerja dan keluarganya, tetapi kan menghidupkan juga mungkin bisa distributor, bahkan masyarakat juga.
Bagaimana itu Ibu Ida?
Ibu Rida: Jadi kalau untuk masyarakat yang ada di sekeliling pabrik sudah otomatis ya. Jadi misalnya kan kebanyakan keberadaan pabrik kami itu hanya yang di Cikarang saja yang ada di kawasan industri. Yang dua, itu ada di kawasan masyarakat.
Artinya keberadaan pabrik kami juga membantu perputaran ekonomi di sana. Misalnya UMKM Makanan, jadi pegawai-pegawai yang mau makan di luar. Terus kemudian tempat kos.
Atau misalnya tenaga-tenaga transportasi. Kalau mereka mau pulang kampung, kan misalnya agak jauh, mereka pulangnya bisa jadi seminggu sekali. Itu kan juga menggunakan transport.
Itu mulai dari sana. Terus belum lagi UMKM UMKM memang bahan-bahannya digunakan oleh kami. Seperti misalnya UMKM Garam, kalau di Probolinggo.
Kalau di Minsel misalnya, kelapanya juga kita dapat dari petani. Dari pengepul kelapa, misalnya seperti itu. Itu kan juga meningkatkan perputaran ekonomi di daerah tersebut.
Kemudian apa yang kami terapkan di dalam, itu kami terapkan juga di luar. Misal sasa santan ini menggunakan teknik sterilisasi pangan namanya UHT. Jadi bakterinya dimatikan sehingga bisa awet tanpa bahan pengawet.
Dengan kemasan yang khusus juga. Itu juga yang kami terapkan kepada UMKM Makanan dan Minuman supaya bahan-bahan atau masakan yang mereka buat itu bisa punya umur simpan yang lebih panjang. Jadi kami memberikan pelatihan atau pendampingan untuk sterilisasi pangan bersama dengan tenaga ahli.
Biasanya kalau di Pulau Jawa itu saya menggandeng rekan-rekan dari IPB.
Tribun Manado: Dari universitas.
Ibu Rida: Ya, betul. Baik itu profesornya maupun mahasiswanya. Kemudian beberapa narasumbernya juga kami sering undang dari Bepom. Dan itu bisa mendukung mereka untuk sampai dapat keperizinan Bepom.
Tribun Manado: Untuk membuat UMKM mereka agak tahan lama.
Ibu Rida: Betul. Supaya mereka dapat, kalau di UMKM Makanan itu, ada yang namanya PMR, Program Manajemen Risiko.
Dan itu ada sertifikasinya. Dan untuk dapat sertifikasi itu panjang, lebar, dan dalam. Jadi seringkali UMKM kan hanya belajar memasak atau tidak juga.
Jadi mereka juga terbatas undang-undang. Nah itu kami dampingin.
Tribun Manado: Karena sudah terlatih ya PT SASA ini kemasan-kemasannya seperti itu.
Mungkin juga produk-produk SASA ini membanjiri juga di pasar tradisional, termasuk di minimarket, swalayan. Nah itu juga memutar roda ekonomi.
Tribun Manado: Nah, Ibu Ida, PT SASA ini kan selain di Minahasa Selatan, di tiga pabrik ini, itu produk-produknya memang di spesifik beda-beda ya, Ibu Ida?
Ibu Rida: Iya, betul. Jadi setiap pabrik hanya produk olahan turunan kelapa. Kalau yang MSG tadi yang.. Hanya di Proboligor saja.
Kalau yang di Cikarang.. Nah, Cikarang agak bervariasi, tapi yang di luar MSG dan santan.
Pertanyaan dari Jurnal Indi: Bagaimana PT SASA mengikuti tren masak praktis tanpa mengorbankan cita rasa rumahan?
Ibu Rida: Oke, baik. Menarik sekali.
Kita kan sekarang cewek-cewek, emak-emak gitu ya. Nggak cuma emak-emak sih, kita sekarang trenya itu, Mas David, kita pakai kuku palsu. Kemudian kita juga nail art.
Nah, seringkali males dong potong-potong, Maksudnya sampai ngulek-ngulek, kuning-kuning semua. Masaknya enak, tapi habis itu kuning-kuning semua nih. Jadi kami punya bumbu instan.
Bumbu instan itu misalnya kayak bumbu lumur untuk ayam kalasan. Bumbu lumur untuk ayam goreng kuning. Nah, bumbu-bumbu lumur itu bukan cuma untuk lumur ayam saja.
Itu bisa dimodifikasi misalnya, Bikin sate maranggi menggunakan bumbu ayam kalasan, tinggal ditambahkan nanti dengan, apa sebutannya, yang kayak Merica itu, ketumbar atau koriander, tinggal tambahkan lagi dengan kecap, itu sudah jadi bumbu sate maranggi. Terus misalnya lagi, kita mau bikin otak-otak, yang gendut-gendut gitu ya, kalau beli mungkin mahal. Ternyata itu bisa disiasati dengan menggunakan tepung bakwan.
Tepung bakwan tinggal ditambahkan ikannya ikan tenggiri atau ikan apapun itu, ditambahkan dengan santan, kalau dia dikukus jadi otak-otak, kalau digoreng jadi basuh goreng. Jadi ada banyak bumbu instan dan saya pastikan bahwa bumbu instannya Sasa itu semuanya adalah rempah-rempah alami.
Tribun Manado: Jadi apapun makanannya, tersedia semua produk Sasa.
Nah Ibu Ida, sebelum ada pertanyaan kedua, mungkin ini sudah mendekati di akhir sesi ini. Mungkin Ibu Ida, apa target ESG dari PT Sasa, Sasa Inti ya, ingin dicapai khususnya di Sulawesi Utara, khususnya dalam waktu dekat ini?
Ibu Rida: Baik, kalau saya pikir kalau bukan hanya di Sulawesi Utara ya, tapi juga di seluruh Indonesia secara umum, yang sama dengan tadi target beberapa pilar, yang utama harus tetap adalah kualitas produk.
Itu tidak boleh ditawar lagi. nomor satu.
Terus kemudian kami semua produk harus diciptakan tanpa melanggar regulasi pemerintah. Terus kemudian yang berikutnya lagi adalah bersahabat dengan lingkungan. Jadi itu kami punya target-target misalnya untuk pengurangan penarikan sampah plastik di setiap lokasi pabrik.
Kemudian bagaimana juga mendaur ulang kemasan yang sudah kita gunakan. Terus juga target berikutnya adalah bagaimana memberdayakan masyarakat untuk paham tentang food safety. Jadi apa yang kami terapkan di dalam, kami terapkan juga keluar.
Food safety itu termasuk juga misalnya tekaran yang benar untuk penggunaan bumbu masak tidak berlebihan, termasuk MSG juga. Karena apapun yang berlebihan pastinya tidak baik. Jadi apapun yang kami terapkan di dalam, berusaha kami terapkan juga keluar.
Termasuk kami memberdayakan masyarakat untuk pelatihan UMKM pangan steril yang tadi saya sudah sebutkan. Seperti yang dibilaskan tadi. Terus memberikan edukasi nutrisi untuk membantu pemerintah pengantasan stunting.
Supaya orang lebih paham tentang gisi yang baik, nutrisi yang baik untuk anak-anak sampai dengan remaja.
Tribun Manado: Ada lagi yang bertanya ini kayaknya. Pertanyaan kedua ini.
Pertanyaan Dari Ibu Nulita: Standar kualitas apa yang diterapkan SASA untuk menjaga mutu produk?
Ibu Rida: Baik, terima kasih Ibu Nulita pertanyaannya.
Untuk mutu kami tentunya ada yang pasti harus berpegang pada yang namanya food safety. Jadi keamanan pangan. Dan itu kita ada standar yang namanya FSSC.
Jadi itu ada standarisasinya, kemudian ada audit rutinnya setiap tahun. Disertifikasi ulang juga sehingga tidak boleh melanggar ke sana. Terus berikutnya lagi kualitas itu juga didaftarkan secara mutu izin edarnya melalui BPOM.
Jadi semua produk SASA. Tersertifikasi di BPOM. Semuanya sudah lulus sertifikasi BPOM.
Lalu kemudian kualitas yang berikutnya. Karena kita tahu mayoritas masyarakat Indonesia adalah Muslim. Jadi tidak perlu khawatir karena semua produk SASA sudah sertifikasi halal.
Sekarang namanya BPJPH dari Kementerian Agama. Nah, itu semua kami resertifikasi setiap tahunnya.
Ada audit, ada segala macam. Dan ada beberapa sertifikasi lain yang juga mendukung dari kualitas produknya SASA. Termasuk misalnya untuk penderapan program manajemen mutu.
Untuk di dalamnya secara internal ada ISO 9001. Jadi banyak sekali sertifikasi yang mendukung, yang mengacu kepada kualitas dari produk SASA.
Tribun Manado: Jadi terjamin ya produk kualitas SASA ini.
Karena sudah mengikuti semua regulasi yang diaturi pemerintah kita. Jadi produk-produk dari luar negeri harus pakai produk lokal. Karena pemerintah Indonesia sudah mengatur regulasinya.
Tribun Manado: Nah, Ibu Ida, tak terasa kita sudah di akhir acara.
Mungkin ada closing statement dari Ibu Ida. Tentang bagaimana PT SASA ingin terus melezatkan hidup masyarakat tanpa melepakan tanggung jawab terhadap bumi, tanggung jawab terhadap sosial masyarakat?
Ibu Rida: Ya, baik teman-teman tribuners semuanya.
Terima kasih ya, kalau masih setia menggunakan SASA sebagai produk yang legendaris. Dan SASA akan terus berkomitmen untuk menjadi produk yang bukan cuma lezat, tetapi juga kita mari bersama-sama menyelamatkan bumi dengan apapun yang kita lakukan. Termasuk, mari kita lebih bijak menggunakan kemasan plastik, memanfaatkan ulang, sehingga bumi menjadi rumah yang nyaman buat kita huni bersama.
SASA, melezatkan.
Tribun Manado: Ya, tribuners, demikian perbincangan kita dengan Ibu Ida. Ini kolaborasi dengan PT SASA ini akan terus berlanjut ya, Ibu Ida.
Untuk mengedukasi terhadap produk-produk dari PT SASA sendiri. Ada produk MSG, santan, dan lain-lain ya, Ibu Ida. Tentu produk-produk dari PT SASA ini sudah familiar.
Karena di setiap makanan itu pasti ada dari PT SASA.
Ya, demikian, tribuners, perbincangan kita. Sampai jumpa pada podcast selanjutnya. Salam sehat selalu.
Terima kasih, Rida.
Baca juga: Santan dan Masa Depan: Perjalanan Hijau PT Sasa Inti
(TribunManado.co.id)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini