Warga Jangli Semarang Waswas, Teror Tanah Gerak: Jalan Patah, Rumah Miring hingga Ada yang Ambruk
Rustam Aji February 07, 2026 12:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG — Warga di kawasan Kampung Sekip (sekitaran Undip), Sapta Marga 3, Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, hidup dalam wawaswas akibat tanah gerak.

Tanah permukiman warga terlihat bergelombang, retakan memanjang dan melengkung, rumah-rumah miring, hingga satu bangunan roboh tak bersisa.

Dari pantauan di lapangan pada Kamis (5/2/2026) sore kemarin, sejumlah retakan tanah tampak di beberapa titik.

Terdapat belahan lurus memanjang, ada pula yang melengkung hampir membentuk putaran. Kontur tanah yang dulu landai kini berubah menjadi patahan terbuka, menganga seperti amblesan.

Bahkan, beberapa rumah warga berdiri dalam kondisi mengkhawatirkan. 

Tiang-tiang penyangga miring, dinding kayu terbelah, dan lantai semen pecah tak beraturan. Hampir seluruh rumah di kawasan tersebut merupakan bangunan tidak permanen berbahan kayu, sehingga dinilai rentan terhadap pergerakan tanah.

Menurut warga setempat bahkan pada Rabu (4/2/2026) sore, rumah milik Supriyadi roboh.

Tak jauh dari titik itu, sebuah rumah lain milik Sri Darningsih justru bergeser perlahan. 

Baca juga: Siap-siap, PKL di Banyumas Bakal Ditarik Pajak

Lantai rumahnya terbelah, dinding kayu retak, dan bangunan itu disebut telah bergeser hingga dua meter hanya dalam waktu tiga hari.

Ketua RT setempat, Sukaryon mengatakan, kalau malam terdengar suara pergerakan.

"Rumahnya geser pelan-pelan. Kalau hujan deras, lebih cepat lagi,” kata Sukaryono ketika ditemui Tribunjateng.com, Kamis sore.

Tak hanya rumah warga, kerusakan juga menjalar ke infrastruktur kampung. 

Satu titik jalan di jalur menurun yang dulunya menjadi akses utama warga dari Jangli menuju kawasan Undip kini patah dan ambles. 

Retakan itu segaris dengan lokasi rumah yang roboh.

RUMAH HAMPIR ROBOH-TERDAMPAK-JANGLI
TERGERUS RETAKAN TANAH - Permukiman warga dan jalan kampung yang terdampak tanah gerak tampak mengalami retakan dan kemiringan di Kampung Sekip, Jangli, Kota Semarang, Kamis (5/2/2026). Tanah yang bergelombang, rumah-rumah miring, serta jalan terbelah menjadi gambaran dampak serius tanah gerak yang mengancam aktivitas dan keselamatan warga.

Warga menyebut, jalur tersebut dulunya landai dan ramai dilalui masyarakat luar sebelum adanya jalan baru Jangli–Undip. 

Kini, jalan itu terbelah dan tak lagi aman dilewati.

Pemotor harus memelankan lajunya, sedangkan ada juga yang harus menuntun dan yang dibonceng turun.

Jalan Patah

Upaya penambalan yang dilakukan warga Sabtu lalu tak bertahan lama.

“Kami tambal satu malam, besoknya langsung terbuka lagi,” kata Sukaryono.

Selain itu, jalan lain di pintu masuk kampung juga tampak menganga lebih lebar, tanahnya tak lagi rapat. 

Pipa air PAM pun dilaporkan putus hingga tiga kali dalam sehari akibat pergeseran tanah.

Ilham (18), penjual cilok yang hampir setiap sore berjualan di kawasan itu, mengaku kaget saat mendapati jalan menuju kampung sudah terbuka lebar dan berbahaya.

Baca juga: Komdis PSSI Jatuhkan Sanksi ke Persiku akibat Suporter Rasis ke Pemain Persipura

“Saya kaget baru tahu ini. Kemarin kan saya libur, biasanya tiap sore ke sini. Sekarang jalannya sudah menganga begini,” kata dia.

Ilham mengurungkan niat masuk ke kampung setelah diingatkan warga. 

Dengan motor yang dilengkapi wadah cilok, dia khawatir tergelincir dan dagangannya jatuh. Meski pengendara lain masih nekat melintas, kondisi tersebut dinilai sangat berisiko.

Warga Mulai Mengungsi

Menurut Sukaryono, total terdapat 10 rumah yang terdampak langsung tanah gerak. 

Satu rumah roboh, lainnya miring, retak dan mengalami pergeseran.

Pemilik rumah yang roboh, Supriyadi, telah pindah ke Jabungan, Banyumanik. 

Sementara Sri Darningsih baru mengevakuasi diri dan mengungsi ke rumah saudaranya di Mranggen karena takut pergerakan tanah semakin parah.

“Kalau total panjang belahan tanah sekitar 70 meter, lebarnya di beberapa titik sampai 20 sentimeter,” sebut Sukaryono. 

Dia juga menyebut kejadian serupa pernah terjadi sekitar 25 tahun lalu, namun kini kembali terulang dengan dampak lebih luas.

Kampung Sekip sendiri merupakan satu RT dengan 63 kepala keluarga dan 45 rumah, seluruhnya berdiri di atas tanah milik TNI.

Baca juga: Siap-siap, PKL di Banyumas Bakal Ditarik Pajak

“Kami boleh tinggal di sini, dan selama ini merawat lingkungan. 

Harapan kami ada kebijakan yang memerhatikan keselamatan warga,” harap dia.

BPBD Sebut Curah Hujan Tinggi Jadi Pemicu 

Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, menjelaskan bahwa curah hujan tinggi menjadi pemicu utama terjadinya tanah gerak di Jangli.

Akibatnya tanah menjadi lembek dan mudah bergerak,” jelas dia.

BPBD bersama pihak kelurahan, kecamatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, pemerintahan kota meliputi Dinas PU, ESDM Jateng, dan instansi terkait telah melakukan asesmen lapangan sejak Rabu. 

Berdasarkan laporan BPBD, kejadian tanah gerak ini tercatat terjadi sejak 24 Januari 2026, dengan total kerugian material ditaksir mencapai sekitar Rp45,75 juta dan tidak menimbulkan korban. (rez)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.