PILU Orang Tua Bocah SD yang Akhiri Hidup Gegara Tak Dibeli Buku dan Pena Tergolong Miskin Ekstrem
Tommy Simatupang February 07, 2026 12:08 AM

TRIBUN-MEDAN.com - Keluarga bocah SD di Ngada NTT yang akhiri hidup gegara tak mampu membeli pena dan buku tergolong miskin ekstrem. 

Kasus bocah SD akhiri hidup gegara tak dibelikan pena dan buku mengguncang pemerintah. 

Pemerintah dianggap tidak memberikan jaminan pendidikan dasar. 

Anak SD berinisial YBR (10) itu mengakhiri hidup diduga karena tekanan ekonomi, tak mampu membeli buku dan pena.

Namun, dugaan motif tak mampu membeli buku dan pena itu telah dibantah oleh Bupati Ngada, Raymundus Bena.

YBR ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026).

Raymundus mengatakan, keluarga YBR masuk dalam kategori miskin ekstrem desil 1.

Desil adalah sistem pengelompokan masyarakat ke dalam 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan.

Di mana desil 1 adalah kelompok dengan tingkat kesejahteraan terendah dan desil 10 adalah yang tertinggi.

Sistem ini sering digunakan dalam program bantuan sosial pemerintah.

Baca juga: KADES di Magelang Hilang 2 Bulan Setelah Warga Protes, Keluarga Ngaku Tak Tahu, Kedua Kalinya Kabur

Baca juga: GERAK-GERIK Syauqi Sebelum Bunuh Ibu, Kakak, dan Adiknya Pakai Racun Tikus, Sempat Pesta Miras

Desil ini digunakan dalam program-program penanggulangan kemiskinan dan bantuan sosial untuk memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran.

Pembagian desil:

Desil 1: Sangat Miskin
Desil 2: Miskin
Desil 3: Hampir Miskin
Desil 4: Menengah Bawah
Desil 5: Menengah Bawah yang Stabil
Desil 6-10: Menengah sampai Sangat Kaya
Kondisi keluarga YBR yang termasuk dalam desil 1 berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk kebutuhan pendidikannya.

“Dari hasil pemantauan lapangan, faktor dominan yang mempengaruhi kondisi psikologis korban adalah kemiskinan ekstrem."

"Minimnya pendampingan orang tua, beban ekonomi keluarga, serta tekanan sosial yang dialami,” kata Raymundus saat konferensi pers di Aula Rumah Jabatan Bupati Ngada, Kamis (5/2/2026), dilansir TribunFlores.com.

Terbelenggu dalam kemiskinan ekstrem membuat YBR mengalami tekanan ekonomi dan sosial yang berat.

Terkait bantuan sosial, Raymundus menyebut, keluarga YBR telah menerima sejumlah program pemerintah.

Di antaranya Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada tahun 2023 dan 2025, bantuan pangan, kepesertaan BPJS Kesehatan, dan bantuan ternak dari pemerintah desa.

Tahun ini, YBR juga mendapatkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP). Uang bantuan itu bahkan telah masuk rekening.

Namun, uang bantuan itu tidak bisa dicairkan karena terkendala administrasi.

Selain itu, pemerintah juga menemukan adanya beban ekonomi keluarga, berupa utang koperasi mingguan yang nilainya mencapai Rp8 juta.

Sebagai bentuk tanggung jawab, Pemerintah Kabupaten Ngada menyiapkan sejumlah langkah lanjutan.

Antara lain, pendampingan psikososial bagi keluarga korban, bantuan natura dan penguatan usaha.

Kemudian, fasilitas pendidikan bagi saudara YBR, hingga pelatihan keterampilan melalui Balai Latihan Kerja (BLK).

Pemerintah Kabupaten Ngada juga menyatakan akan menanggung pelaksanaan ritual adat budaya terkait kematian YBR.

Menurut Bupati Ngada, dalam budaya masyarakat setempat, kematian tidak wajar memiliki ritual khusus yang perlu difasilitasi secara layak.

Raymundus membantah motif YBR mengakhiri hidup karena tak mampu membeli buku dan pulpen.

Ia menyatakan, berdasarkan hasil penggalian informasi tim internal pemerintah daerah, tidak ditemukan pernyataan dari keluarga yang menyebutkan motif YBR berkaitan dengan persoalan buku dan pulpen.

“Perlu saya tegaskan, informasi yang menyebut korban mengakhiri hidupnya karena tidak dibelikan buku dan bulpen adalah tidak tepat."

"Tidak ada pernyataan dari ibu kandung maupun keluarga korban yang menyampaikan hal tersebut,” kata Raymundus.

Kehidupan YBR

YBR diketahui tinggal bersama neneknya di pondok sederhana berdinding bambu berukuran 2x3.

Ia diasuh oleh neneknya sejak usia 1 tahun 7 bulan.

YBR merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ibunya hanya bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.

Sementara sang ayah bertahun-tahun merantau di Kalimantan dan tak pernah pulang.

Untuk makan saja, bocah itu hanya mengandalkan hasil kebun seadanya. Pisang dan ubi menjadi menu paling sering.

Sementara guna mencukupi kebutuhan sehari-hari, YBR membantu neneknya berjualan sayur, ubi, dan kayu bakar.

(*/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.