TRIBUNKALTIM.CO - Jumat (6/2/2026) komika Pandji Pragiwaksono didampingi kuasa hukumnya, Haris Azhar menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya terkait materi stand up comedy, Mens Rea yang tayang di platform streaming Netflix.
Sejumlah pihak diketahui melaporkan spesial show stand up comedy komika Pandji Pragiwaksono yang bertajuk Mens Rea setelah tayang di Netflix.
Dalam pemeriksaan di Polda Metro Jaya kemarin, Pandji Pragiwaksono mendapat 63 pertanyaan, selain itu komika yang kini tinggal di New York ini juga menjelaskan alasannya memilih judul Mens Rea: Dijamin tanpa Mens Rea.
Komika Pandji Pragiwaksono sendiri menjalani pemeriksaan klarifikasi selama hampir delapan jam.
Baca juga: Pihak-pihak yang Laporkan Pandji Pragiwaksono Akibat Materi Mens Rea, Ada FPI Hingga Tokoh Agama
Ia menyebut proses pemeriksaan berjalan lancar dan memilih mengikuti seluruh tahapan hukum yang ada.
Usai memberikan klarifikasi di Polda Metro Jaya, Pandji Pragiwaksono mengatakan, “Saya tadi menjalani prosesnya dan mencoba menjawab semua pertanyaan polisi sebaik mungkin.
“Saya ada pada posisi tidak merasa melakukan penistaan agama.
Jadi prosesnya tadi jalan dengan cukup lancar, pertanyaannya terjawab, dan ya kita ikutin prosesnya saja,” kata Pandji.
Saya berada pada posisi tidak merasa melakukan penistaan agama,” ungkap Pandji.
Pandji menekankan apa yang dilakukannya bertujuan untuk menghibur publik.
“Karena memang dari awal semuanya (komedian), termasuk saya niatnya adalah untuk menghibur masyarakat Indonesia,” sambung dia.
Untuk itu, ia membuka peluang untuk berdiskusi bersama para pelapornya.
Dengan begitu, ia bisa meluruskan hal-hal yang disebut menyinggung para pelapor dalam materinya.
“Saya selalu membuka ruang untuk dialog dan secara historikal juga ada terlalu banyak bukti yang menunjukkan bahwa dalam sebuah kesalahpahaman atau ada ketidaksesuaian penangkapan makna dari karya seni saya,” jelas dia seperti dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com.
Setelah menjalani pemeriksaan sejak pukul 10.30 WIB, Pandji merasa cukup lelah.
Meski begitu, ia mengapresiasi penyelidik yang memberikan kesempatan untuk dia menjelaskan materi-materi yang dipermasalahkan.
Dalam pemeriksaan tersebut, Pandji juga memberikan penjelasan mengenai isi dan konteks pertunjukan Mens Rea.
Dalam agenda klarifikasi ini, Pandji juga berkesempatan menjelaskan tentang judul pertunjukannya yang tidak sekadar “Mens Rea”
“Secara lengkap adalah ‘Mens Rea: Dijamin Tanpa Mens Rea’. kalau dilihat posternya. Jadi kami tadi juga mengklarifikasi ke polisi juga, bahwa enggak cuma Mens Rea lho.
Kan artinya kita bantu polisi nih alat bukti posternya yang lengkap lah,” jelas kuasa hukum Pandji, Haris Azhar.
Lebih lanjut Haris Azhar, menjelaskan alasan kliennya memilih Mens Rea sebagai judul spesial show terbarunya.
Menurut Haris, istilah Mens Rea dipilih karena merepresentasikan benang merah dari materi yang dibawakan Pandji dalam pertunjukan tersebut.
“Judul dan tema Mens Rea dipilih Pandji untuk menggambarkan kemungkinan adanya niat jahat di balik setiap cerita yang diangkat. Ada benang merah yang ingin disampaikan,” ujar Haris usai pemeriksaan Pandji di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).
Ia menambahkan, benang merah tersebut berkaitan dengan perilaku orang-orang yang mengejar jabatan maupun yang telah memiliki kekuasaan.
“Benang merahnya adalah dugaan adanya niat jahat dari orang-orang yang mengejar jabatan atau sudah memiliki jabatan,” kata Haris seperti dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com.
Sebelumnya, Polda Metro Jaya mencatat ada 5 laporan polisi (LP) dan 1 aduan masyarakat (dumas) yang melaporkan materi komedi Pandji Pragiwaksono berjudul “Mens Rea” yang tayang di platform streaming Netflix.
“Terdapat 6 laporan yang terdiri dari 5 laporan polisi dan 1 laporan pengaduan terhadap PP berkaitan dengan acara bertajuk ‘Mens Rea,’” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Komes Pol Budi Hermanto saat ditemui wartawan, Rabu (28/1/2026).
Laporan pertama dilayangkan oleh Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) dan Aliansi Muda Muhammadiyah yang diwakili oleh koordinatornya, Rizki Abdul Rahman Wahid.
Laporan ini teregistrasi dalam nomor LP/B/166/I/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA tanggal 8 Januari 2026.
Dua hari kemudian, laporan kedua menyusul dalam bentuk aduan masyarakat dari seorang berinisial BU. Sepekan berlalu, pelapor atas nama FW ikut bergabung dalam barisan pelapor Pandji bersama Rizki, Jumat (16/1/2026).
Keesokan harinya, seorang pemuka agama dari Front Pembela Islam, Ustadz Habib Novel Chaidir Hasan atau Novel Bamukmin turut melaporkan Pandji.
Terbaru, Majelis Pesantren Salafiyah (MPS) Banten melalui pengurusnya, Sudirman, ikut melaporkan Pandji karena merasa tersinggung atas materi Mens Rea yang membahas tentang ibadah salat.
Pada hari yang sama, pelapor berinisial F juga turut membuat laporan polisi dengan substansi yang sama.
Budi menyampaikan, keenamnya melaporkan materi Pandji dengan dugaan penghasutan dan penghinaan agama yang diatur dalam Pasal 300 dan atau Pasal 301 dan atau Pasal 242 dan atau Pasal 243 KUHP baru, serta Pasal 28 UU ITE.
Sejauh ini sudah dilakukan pemeriksaan terhadap pelapor dan saksi sebanyak 10 orang.
“Kami harus mendalami dari pelapor dulu yang kedua saksi-saksi siapa yang melihat mendengar tentang peristiwa kejadian,” kata Budi.
Selanjutnya, polisi akan meminta keterangan ahli berkaitan dengan materi yang dilaporkan, di antaranya ahli bahasa dan ahli ITE.
Sah tidaknya barang bukti yang diajukan juga akan dianalisis terlebih dahulu didukung dengan pendapat ahli.
“Terkait barang bukti apakah barang bukti ini hasil dari rekaman, rekaman tersebut ada tidak rekayasa ada tidak editing lalu dipersesuaikan,” jelas Budi.
Spesial show Mens Rea mulai tayang di Netflix sejak 27 Desember 2025.
Pertunjukan tersebut disiarkan tanpa sensor dan dapat disaksikan secara penuh di platform tersebut.
Dalam Mens Rea, Pandji menjadikan panggung sebagai ruang untuk membahas berbagai isu sosial dan politik melalui gaya observasi yang tajam dan berani.
Ia menyoroti dinamika politik pasca-Pemilu 2024, mengulas perilaku pejabat publik, serta menyinggung sejumlah tokoh yang kerap dianggap tabu untuk dibahas secara terbuka.
Materi yang dibawakan dinilai relevan dengan kondisi demokrasi Indonesia, dibalut komedi satire yang tak hanya mengundang tawa, tetapi juga mendorong penonton untuk berpikir kritis.
Baca juga: Pertunjukan Mens Rea dari Pandji Pragiwaksono Jadi Viral, Sorotan Ketua Stand Up Indo Balikpapan
(*)