Kisah Dian dan Realitas Generasi Sandwich, Saat Gaji Tak Lagi untuk Diri Sendiri
Ratino Taufik February 07, 2026 08:39 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Bagi Dian (30), Agustus 2025 bukan sekadar pergantian bulan. Dari situlah hidupnya pelan-pelan berubah, ketika ayahnya mendapat diagnosa stroke dan tak lagi bisa bekerja.

Sang ibu memilih berhenti bekerja untuk merawat suami. Dian yang merupakan karyawan di Surakarta pun mulai memikul peran baru sebagai tulang punggung keluarga.

Dian mendadak berada di posisi yang kerap disebut sebagai generasi sandwich, kelompok usia produktif yang tengah menopang kebutuhan keluarga sekaligus diri sendiri.

“Awalnya cukup shock. Sebelumnya kan enggak pernah ada di posisi ini, ya. Tiba-tiba semuanya berubah,” ujarnya bercerita dengan Kompas.com, Jumat (6/2).

Dian mengaku, keputusan soal siapa yang akan bekerja sebenarnya diambil lewat diskusi keluarga. “Dengan kesadaranku, ibu saja yang merawat bapak di rumah dan aku yang bekerja,” kata Dian.

Sejak saat itu seluruh kebutuhan keluarga, dari uang bulanan, biaya pengobatan, hingga kebutuhan adik, berpindah ke tangannya. Dian yang menerima gaji Rp 2,5 juta per bulan, mengalokasikan Rp 1 juta untuk kebutuhan keluarga. Sedang selebihnya digunakan untuk mencukupi kebutuhannya di perantauan.

Baca juga: Turun ke Pasar Kalindo Banjarmasin, Tim Satgas Pangan Temukan Harga Minyak di Atas HET

Di tengah kondisi tersebut, Dian juga dihadapkan dengan tanggungan lain yakni utang keluarga akibat biaya pengobatan ayah.

Perubahan finansial itu membuat gaya hidup Dian ikut bergeser. Aktivitas sederhana seperti nongkrong di kafe atau jalan ke pusat perbelanjaan kini harus dipertimbangkan matang. Dian yang sebelumnya aktif pergi ke gym, kini terpaksa menghentikannya. Ia lebih memilih ruang publik gratis, atau memanfaatkan promo saat ingin sekadar ngopi. “Sekarang apa-apa mikir,” ungkap Dian sambil tertawa kecil.

Namun, beban terbesar bagi Dian bukan semata soal uang. Ia mengaku paling terpukul ketika menyadari mimpi dan rencana hidupnya harus ditunda. Sebagai pribadi yang terbiasa menyusun target tahunan, Dian sempat menyiapkan rencana besar untuk tahun 2025.

Di tengah tekanan itu, dukungan teman menjadi penopang penting. Dian bersyukur memiliki lingkar pertemanan yang mau mendengarkan dan menemani saat pikirannya terasa penuh. “Aku tetap main sama teman-teman. Kalau aku lagi over thinking biasanya aku tetap jalan-jalan sama mereka,” kata Dian.

Selain itu, ia memilih melakukan hal-hal sederhana yang ia sukai, seperti membaca buku, untuk menjaga kewarasan. “Baca buku jadi salah satu caraku kabur sejenak dari pikiran-pikiran yang rumit,” ungkapnya. Selain itu, ia tengah mencoba mencari pekerjaan tambahan untuk menambah pemasukan.

Dari pengalaman tersebut, Dian menarik satu pelajaran penting, hidup bisa berubah kapan saja. Bagi Dian, menjadi generasi sandwich bukan soal pilihan. Ini adalah realitas yang datang tanpa aba-aba, dan bertahan di dalamnya sudah menjadi sebuah pencapaian. (kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.