Dari Bandung ke NASA, Perjalanan Natanael Juara Olimpiade Tingkat Dunia
Muhamad Syarif Abdussalam February 07, 2026 09:39 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Natanael Wiraatmaja, siswa kelas 3 SD, mengharumkan Kota Bandung setelah berhasil meraih prestasi membanggakan di kancah internasional, hingga mendapat undangan dari National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Siswa BPK Penabur Banda, Kota Bandung itu berhasil meraih juara dunia tingkat 2 (World Champion Level 2) pada grand final Neo Science Olympiad (NSO) 2025 yang digelar di Orlando, Amerika Serikat.

Dengan prestasi gemilang itu, dia tampak percaya diri dan terus memperlihatkan keceriannya saat diundang oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan ke Pendopo, Kota Bandung. Dia juga tampak senang setelah diberi sebuah buku oleh orang nomor satu di Kota Kembang ini.

Kedua orangtua Natanael turut mendampingi dalam pertemuan yang hangat itu. Bocah tersebut, berbicara lantang saat menceritakan prestasinya dihadapan Farhan dan para pejabat Pemkot Bandung yang lain.

Natanael sedikit bercerita terkait dia bisa berhasil meraih juara di ajang NSO itu. Di balik prestasi gemilang tersebut, ternyata dia hanya belajar sederhana.

"Belajarnya simpel saja. Itu (lomba sains) semua, sama matematika, 40 soal enggak susah," ujarnya saat ditemui di Pendopo, Kota Bandung, Jumat (6/2/2026).

Atas perjuangannya itu, Natanael mendapatkan sebuah pengalaman langka ketika dia diundang NASA. Di sana dia menyaksikan peluncuran roket secara langsung bersama orangtuanya. Pengalaman ini, tentunya jadi pemecut bagi dia untuk terus meningkatkan prestasinya.

Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan Natanael adalah ketika ia mendapat undangan untuk mengunjungi NASA. Bersama sang ibu, ia menghabiskan delapan hingga sembilan hari di Amerika Serikat.

"Kita eksplor-eksplor dulu, habis itu lihat rocket launch. Di sana sembilan hari, senang," kata Natanael.

Ibu Natanael, Novita Setiawan mengatakan, sebelum mengikuti lomba tersebut, sang anak hanya melakukan persiapan belajar selama 30 menit setiap hari. Tetap cara belajar seperti ini dilakukan dengan konsisten dan fokus dengan minatnya.

"Fokus sama apa yang dia minati, yang dia sukai, lalu konsisten. Nggak lama sih (belajarnya), sekitar 30 menit saja. Bentuk belajarnya juga bisa macam-macam, kadang cuma baca buku sains komik, nggak selalu harus belajar yang serius banget," ucap Novita.

Sebelum mengikuti lomba NSO di Amerika, Natanael mengikuti Olimpiade Sains Nasional saat dia kelas 1 SD. Dari kejuaraan tersebut bocah tersebut berhasil meraih medali emas, kemudian prestasinya terus meningkat.

"Puji Tuhan, waktu itu dapat gold medal. Dari situ kami tahu memang passion-nya di sains. Makanya makin sering ikut olimpiade. Puji Tuhan ada yang berhasil, ada yang achiever, beragam," katanya.

Kendati demikian Natanael terus berupaya melanjutkan perjalanannya karena memang dia sangat menyukai sains. Akhirnya, kemauan sang anak terus diberikan dukungan sepenuhnya.

"Karena dia suka dan happy, ya kami lanjutin saja sampai akhirnya ikut yang ini juga karena memang dia yang pengen. Dia sukanya sains, makanya kemarin ikutnya juga kategori natural science, karena dari kecil memang suka belajar sains, dan kelihatannya anak ini memang tertarik di situ," ucap Novita.

Prestasi Natanael Bikin Farhan Bangga

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengaku bangga karena Kota Bandung menjadi tempat lahir Natanael, seorang siswa SD yang telah mencatatkan prestasi kelas dunia di berbagai kompetisi sains.

"Seperti pesan dari Pak Presiden, sampai hari ini kita punya riset luar biasa yang menunjukkan bahwa kita membutuhkan anak-anak yang sejak awal memang ingin menjadi saintis," katanya.

Farhan memastikan, akan terus mendukung perjalanan Natanael menuju momen di mana dia menjadi seorang saintis, sedangkan saat ini dia nilai masih dalam tahap belajar sebagai prodigi.  Artinya, akan masuk masa remaja dan pendewasaan yang tantangannya sangat berat.

"Biarkan dia tumbuh matang menjadi anak bahagia, sehingga seluruh potensinya nanti bisa berhasil. Saya secara pribadi juga memberikan hadiah sebuah buku, yaitu buku tentang sejarah berdirinya Republik Indonesia lewat sebuah revolusi," ujar Farhan.

Buku tebal berwarna merah itu diharapkan bisa menjadi bekal untuk menumbuhkan semangat literasi dan semangat belajar. Apalagi, buku ini ditulis sejarawan Belanda yang melakukan riset mendalam sejarah berdirinya Indonesia, dari awal peradaban sampai masa reformasi.

"Di dalamnya juga memuat wawancara para pelaku sejarah di berbagai negara. Yang paling penting, dia semangat belajar jangan pernah berhenti. Salah satu bentuk semangat belajar adalah membaca," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.