TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Berikut ini kisah Sriani, seorang pedagang kecil di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, Provinsi Kaltara, yang bertahan hidup seorang diri di wilayah perbatasan RI-Malaysia tersebut.
Pagi di pelabuhan Tunon Taka Nunukan selalu dimulai dengan panas menyengat.
Matahari belum tinggi, teriknya sudah memantul dari lantai dermaga.
Di sudut pelabuhan, para pedagang kecil mengemper, menghamparkan dagangan seadanya, berharap ada rezeki hari itu.
Pelabuhan Tunon Taka terletak di Jalan Tien Soeharto, Nunukan Timur, Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara ( Kaltara ).
Pelabuhan ini menjadi satu untuk penyeberangan ke Sulawesi juga melayani penyeberangan menuju Tawau, Malaysia.
Baca juga: Jadwal Lengkap Feri Nunukan ke Tawau Malaysia Hari Ini, 6 Armada Beroperasi
Sriani adalah satu dari sekian banyak perantau yang menggantungkan hidup dari usaha kecil di Nunukan.
Perempuan asal Jombang, Jawa Timur ini telah menetap di Nunukan sejak 2017.
Ia mengikuti sang suami yang telah merantau ke daerah perbatasan tersebut sejak 2012.
Sejak menginjakkan kaki di Nunukan, Sriani menjadi pedagang.
Ia berjualan mandiri, mengikuti jejak teman-teman sesama perantau di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan.
Sementara itu, sang suami bekerja mencari besi tua untuk menopang kebutuhan keluarga.
Di dalam keranjangnya tersusun rapi berbagai barang, obat-obatan herbal, minyak oles, balsem, alat cukur, hingga beberapa produk perawatan kulit.
Barang dagangan itu didatangkan langsung dari Pulau Jawa yang dikirim melalui jasa ekspedisi.
Namun, kondisi perdagangan saat ini tidak selalu mudah.
Perubahan pola belanja masyarakat yang kini lebih memilih belanja online, menjadi tantangan tersendiri.
Modalnya tidak besar, tapi harapannya selalu cukup, dagangan laku, bisa diputar lagi.
“Kalau laku satu atau dua barang, langsung saya belanjakan lagi,” ujar Sriani, kepada TribunKaltara.com, Sabtu (7/2/2026).
Ia mengaku, dalam kondisi tertentu, satu hari bisa berlalu tanpa satu pun pembeli.
Bahkan, ada hari-hari di mana ia tidak memperoleh pendapatan sama sekali.
Menurutnya, denyut ekonomi di Nunukan sangat bergantung pada para pekerja asal Malaysia.
Biasanya, penjualan ramai terjadi setelah tanggal 10 hingga tanggal 25 setiap bulan, saat para pekerja menerima gaji dan pulang kampung ke Sulawesi atau Indonesia Timur.
Di luar waktu itu, suasana lebih sering sepi.
Di tengah keterbatasan, ada secercah harapan yang ia pegang.
Pedagang kecil diperbolehkan masuk ke Kapal Pelni ataupun swasta untuk menjajakan dagangan, dengan syarat, turun sebelum kapal berangkat.
Akses ini menjadi harapan bagi pedagang kecil sepertinya, untuk bertemu lebih banyak calon pembeli.
“Dulu kadang diusir petugas kalau ada tamu penting.
Tapi sejak Bupati berganti, sekarang lebih mudah,” tuturnya.
Cobaan terberat datang di hidup Ibu dua anak itu di Januari 2020.
Suami yang selama ini menjadi teman berjuang di tanah rantau, meninggal karena serangan jantung.
Sejak saat itu, ia harus berjuang seorang diri mencari nafkah di tanah rantau.
Selama kurang lebih enam tahun terakhir, Sriani menjadi tulang punggung keluarga.
Ia memiliki dua orang anak yang tinggal di Jawa.
Anak pertamanya telah menikah, sementara anak bungsunya masih duduk di bangku SMA.
Untuk biaya pendidikan, ia dibantu oleh anak pertamanya.
Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian penghasilan, Sriani tetap berharap pada dagangannya.
Ia menaruh harapan pada dagangannya, dan pada kebijakan pemerintah daerah agar terus memberikan akses dan ruang bagi pedagang kecil untuk berjualan.
“Mudah-mudahan Pemkab terus memberi kesempatan kami para pedagang kecil untuk tetap berjualan,” katanya saat ditemui TribunKaltara.com.
Kisah Sriani menjadi potret ketangguhan perempuan perantau yang bertahan hidup seorang diri di wilayah perbatasan, dengan semangat, kerja keras, menjaga harapan demi masa depan anak-anaknya.
(*)
Penulis: Fatimah