TRIBUNTRENDS.COM - Sorotan terhadap dunia seni pertunjukan kembali menguat setelah komika Pandji Pragiwaksono harus berhadapan dengan proses hukum.
Special show terbarunya yang bertajuk Mens Rea sebuah pertunjukan stand up comedy yang dikenal berani dan tajam membawanya ke Polda Metro Jaya untuk memberikan klarifikasi atas sejumlah laporan dan aduan.
Pandji datang memenuhi undangan kepolisian didampingi kuasa hukumnya, Haris Azhar.
Pemeriksaan ini berkaitan dengan lima laporan dan satu aduan masyarakat yang menilai materi dalam Mens Rea menyinggung pihak-pihak tertentu.
Baca juga: Tak Kapok Dipolisikan 6 Pihak Terkait Mens Rea, Pandji Pragiwaksono Bakal Bikin Pertunjukan Lagi?
Proses klarifikasi yang dijalani Pandji berlangsung cukup panjang. Ia diperiksa selama hampir delapan jam dan harus menjawab puluhan pertanyaan dari penyidik.
“Pandji dan tim lawyer sudah selesai pemeriksaan dalam rangka pemenuhan undangan klarifikasi. Tadi mulai kurang lebih dari pukul 10.30 WIB.
Ada 63 pertanyaan,” kata Haris Azhar usai klarifikasi di Polda Metro Jaya, Jakarta.
Menurut Haris, pemeriksaan tersebut difokuskan pada penjelasan konteks, maksud, dan substansi materi Mens Rea yang dipermasalahkan oleh para pelapor.
Pandji sendiri menyampaikan bahwa ia berusaha menjawab seluruh pertanyaan penyidik secara terbuka dan sebaik mungkin.
Ia menggambarkan proses pemeriksaan berjalan tanpa hambatan berarti.
"Intinya prosesnya berjalan lancar. Saya enggak punya deskripsi yang lebih tepat untuk menggambarkannya. Kayaknya juga kurang tepat kalau dibilang seru," kata Pandji.
Delapan jam berada di ruang pemeriksaan tentu bukan waktu yang singkat. Pandji mengakui rasa lelah setelah menjalani seluruh rangkaian klarifikasi.
"Akhirnya capeklah," kata Pandji.
Meski demikian, ia menegaskan tetap bersikap kooperatif dan siap mengikuti seluruh proses hukum yang berjalan, dari awal hingga tuntas.
Baginya, kehadiran memenuhi panggilan aparat merupakan bentuk tanggung jawab sebagai warga negara.
Baca juga: Enggan Kabur usai Diperiksa Polisi soal Mens Rea, Pandji Pragiwaksono Tantang Pelapor: Ayo Diskusi!
Di tengah polemik yang berkembang, Pandji justru membuka ruang dialog.
Ia menyatakan kesiapannya untuk berdiskusi langsung dengan pihak-pihak yang merasa tersinggung oleh materinya.
"Tentu alangkah lebih baik kalau kami duduk bareng dan mencoba untuk menyampaikan maksudnya.
Selalu terbuka (diskusi) kok,” kata Pandji.
Suami Gamila Arief itu menilai, diskusi terbuka adalah jalan terbaik untuk menjernihkan kesalahpahaman yang mungkin muncul ketika sebuah karya seni dipersepsikan berbeda oleh publik.
Sebagian laporan terhadap Mens Rea berkaitan dengan dugaan penistaan agama.
Namun Pandji menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memiliki niat tersebut, baik secara pribadi maupun dalam karya yang ia tampilkan.
"Saya ada pada posisi tidak merasa melakukan penistaan agama.
Jadi prosesnya tadi berjalan dengan cukup lancar, pertanyaannya terjawab, dan ya kita ikuti prosesnya saja,” ungkap Pandji.
Ia menilai bahwa karya komedi, khususnya satire, sering kali berada di wilayah tafsir yang beragam, sehingga dialog menjadi kunci penting untuk menghindari kesimpulan sepihak.
Baca juga: 5 Fakta Terbaru Mens Rea Pandji Pragiwaksono, Lelah Diperiksa 8 Jam: Saya Tidak Menistakan Agama!
Mens Rea merupakan special show ke-10 Pandji Pragiwaksono. Judul tersebut diambil dari istilah hukum yang berarti niat jahat.
Setelah menuai sukses besar di panggung, pertunjukan ini kemudian dirilis ke publik melalui platform Netflix dan mulai tayang sejak 27 Desember 2025.
Pertunjukan tersebut ditayangkan tanpa sensor dan dapat disaksikan secara penuh oleh penonton.
Dalam Mens Rea, Pandji memanfaatkan panggung sebagai ruang ekspresi untuk membahas beragam isu sosial dan politik.
Ia mengangkat dinamika politik pasca-Pemilu 2024, mengulas perilaku pejabat publik, hingga menyinggung tokoh-tokoh yang selama ini kerap dianggap tabu untuk dikritik secara terbuka.
Semua itu dibalut dalam gaya komedi observasional dan satire yang khas.
Materi Mens Rea tidak hanya ditujukan untuk mengundang tawa, tetapi juga mendorong penonton berpikir kritis terhadap realitas demokrasi Indonesia.
Kasus yang kini dihadapi Pandji Pragiwaksono kembali membuka diskusi luas tentang batas antara kebebasan berekspresi, kritik sosial, dan sensitivitas publik.
Sementara proses hukum masih berjalan, Pandji memilih bersikap terbuka, kooperatif, dan menyerahkan sepenuhnya penilaian kepada mekanisme yang berlaku.
Di tengah sorotan tajam, panggung Mens Rea kini tak lagi hanya berbicara soal niat jahat dalam satire, tetapi juga tentang bagaimana sebuah karya seni diuji di ruang hukum dan ruang publik secara bersamaan.
***