BANGKAPOS.COM -- Muhammad Zidni Ilmi mendadak jadi perbincangan publik setelah video yang beredar saat memimpin ijab kabul prosesi akad nikah pasangan pengantin.
Zidni Ilmi yang berprofesi sebagai penghulu, namanya langsung melejit di media sosial lantaran luwes menggunakan beberapa bahasa asing.
Dari penelusuran jejak pendidikannya, Zidni Ilmi ternyata mendalami banyak bahasa saat dirinya menuntut ilmu di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.
Atas kepiawaiannya menggunakan banyak bahasa, Muhammad Zidni Ilmi pun telah beberapa kali memimpin jalannya akad nikah, mulai pengantin dari Tanzania hingga Jerman.
Prosesi akad nikah yang dipimpin Penghulu Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, Muhammad Zidni Ilmi pun seketika viral di media sosial.
Baca juga: Profil Zidni Ilmi, Penghulu Pakai 3 Bahasa Sekaligus Pimpin Prosesi Ijab Kabul, Ada yang Otodidak
Dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, @mzilmi, Zidni memimpin akad nikah pasangan warga negara Indonesia (WNI), Anggita, dengan seorang pria asal Jerman.
Prosesi berjalan lancar meski diselingi pergantian bahasa.
Sebelum ijab kabul diucapkan, Zidni menyampaikan rangkaian akad nikah dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Jerman.
Ia juga memanjatkan doa agar pasangan tersebut menjadi keluarga yang bahagia.
Lantas seperti apa profil dan rekam jejak Muhammad Zidni Ilmi?
Sebuah video prosesi akad nikah yang dipimpin oleh seorang penghulu menggunakan tiga bahasa, yakni Indonesia, Inggris, dan sedikit Jerman, kini viral di media sosial.
Video tersebut menampilkan Muhammad Zidni Ilmi, penghulu di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, sedang memimpin ijab kabul untuk pasangan beda kewarganegaraan.
Mempelai pria berasal dari Jerman, sementara mempelai perempuan adalah warga Indonesia.
Dalam video itu, Zidni terlihat luwes dan jelas menjelaskan setiap tahap pernikahan secara multilingual.
Hal ini pun menuai pujian dari warganet yang mengapresiasi kemampuan dan inisiatifnya dalam memastikan pasangan, khususnya yang berasal dari budaya berbeda, memahami sepenuhnya makna dan proses sakral pernikahan dalam Islam.
Muhammad Zidni Ilmi, sang penghulu, mengaku telah mempersiapkan kemampuan bahasa asingnya sejak lama.
Tak berhenti di situ, ia juga rutin mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi bahasa asing yang difasilitasi Kementerian Agama (Kemenag).
Ia secara khusus mempelajari istilah-istilah pernikahan dalam Islam versi bahasa Inggris agar dapat menjelaskan prosesi dengan tepat kepada mempelai asing.
"Saya menyadari bahwa sebagai penghulu di ibu kota, di era global, kami harus siap melayani berbagai kalangan, termasuk warga negara asing yang menikah dengan warga Indonesia. Kemampuan berbahasa Inggris bukan sekadar nilai tambah, tapi kebutuhan," tegas Zidni.
Nama: Muhammad Zidni Ilmi
Umur: 32 Tahun
Agama: Islam
Pekerjaan: Penghulu di KUA Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan
Afiliasi Profesi: Anggota APRI (Asosiasi Penghulu Republik Indonesia)
Media Sosial: Instagram @mzilmi
Status Pernikahan: Menikah
Nama Istri: Nabila Celia
Nama Anak: Almeera dan Sarfaraz
Baca juga: Harga Token Listrik 7-8 Februari 2026, di Bangka Belitung 1.300 VA Beli Rp100 Ribu Dapat Segini
Pengalaman menikahkan pasangan lintas kewarganegaraan bukanlah hal baru bagi Zidni.
Lulusan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, itu mengaku sudah beberapa kali memimpin akad nikah antara warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA) selama menjalankan tugasnya sebagai penghulu.
"Belum terlalu banyak (menikahkan WNI dengan WNA), sejauh ini WNA yang pernah saya layani (dari) Tanzania (Afrika), Pakistan, Arab Saudi, dan Jerman," ujar Zidni kepada Kompas.com, Senin (2/2/2026).
Kemampuan Zidni menguasai sejumlah bahasa asing bukan datang secara instan.
Ia mengaku mendapatkan bekal bahasa sejak menempuh pendidikan di Mesir, serta semasa belajar di Pondok Pesantren La Tansa, Banten.
Namun, menurutnya kemampuan bahasa yang dipelajari di bangku kuliah dan ponpes berupa Bahasa Arab dan Inggris.
Sementara bahasa negara lain ia pelajari secara otodidak.
"Dikatakan fasih sebetulnya tidak, tapi alhamdulillah punya sedikit bekal saat dulu belajar di ponpes dan Al Azhar Mesir, sedikit bisa basic Bahasa Arab dan juga Inggris," jelas Zidni.
"Adapun bahasa lainnya seperti Tanzania (Bahasa Swahili) dan Jerman belajar otodidak untuk menyapa keluarga pengantin saja. Jadi tidak fasih," tutur dia.
Penggunaan bahasa asing dalam akad nikah tersebut dilakukan untuk mengakomodasi meningkatnya tren pernikahan campuran antara WNI dan WNA, khususnya di wilayah perkotaan.
"Untuk ijab kabul dengan bahasa Inggris keduanya atau bahasa Indonesia keduanya," ujar Zidni Selain bahasa Inggris, Zidni juga mengaku pernah memimpin ijab kabul menggunakan bahasa Arab.
"Bahasa Arab sudah beberapa kali," lanjut dia. Zidni kemudian menjelaskan teknis pelaksanaan ijab kabul untuk pasangan pengantin WNI-WNA.
Baca juga: Sosok Prof Ciek Julyati Hisyam, Diskakmat Ketua Angkatan di UGM Soroti Meterai Hijau Ijazah Jokowi
Prosesi biasanya diawali dengan pembukaan dan sapaan kepada pengantin menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Selanjutnya, saat memasuki tahapan inti ijab kabul, bahasa Inggris digunakan agar kedua mempelai memahami dengan jelas prosesi yang dijalani.
Setelah akad selesai, Zidni menyampaikan nasihat pernikahan yang umumnya juga menggunakan bahasa Inggris.
Ia pun merasa sangat bersyukur bisa membantu para WNI dan WNA menikah.
Terlebih ketika WNA datang dari negeri yang jauh memberikan ucapan terima kasih yang ditulis lewat pesan-pesan singkat karena telah dibantu menjalani momen sakral pernikahan.
"Sebuah pengalaman yang berkesan, ketika kami sebagai representasi negara saat acara akad nikah dapat menjalin komunikasi termasuk kepada WNA yang datang jauh dari negaranya," ungkap Zidni.
"Meskipun hanya dengan ungkapan atau sapaan singkat," lanjutnya.
Baca juga: Sepak Terjang dan Sosok Rizal Fadillah Petinggi Bea Cukai di-OTT KPK, Baru 8 Hari Dilantik Purbaya
Zidni juga bersyukur video ijab kabul dalam berbagai bahasa direspons positif oleh masyarakat.
Selain itu, ia juga senang banyak mendapat masukan atas video yang ada.
Ia berharap, video ijab kabul dalam berbagai bahasa dapat memberi pesan kepada masyarakat bahwa Kementerian Agama memberi perhatian serius terhadap peningkatan kompetensi pegawainya dalam mewujudkan layanan yang profesional, prima, adaptif, dan berdampak.
"Karena memang banyak sekali penghulu yang selama ini melayani dengan penuh perjuangan dan inovasi, tidak hanya dengan bahasa asing seperti Arab, Inggris, Mandarin, ataupun bahasa isyarat," ujar Zidni.
(Kompas.com/TribunTrends.com/Bangkapos.com)