Banjir Lereng Selatan Gunung Slamet Bawa Material Vulkanik, Sisa Letusan 2024
khoirul muzaki February 07, 2026 11:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Curah hujan ekstrem di puncak Gunung Slamet menjadi faktor utama terjadinya aliran material yang berdampak pada wilayah lereng selatan, termasuk Baturraden dan sekitarnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas, Dwi Irawan, mengatakan hujan dengan intensitas sangat tinggi di kawasan puncak memicu terbawanya sisa-sisa material vulkanik erupsi tahun 2024.

Hal itu disampaikannya dalam acara tasyakuran bertajuk "Baturraden Aman" di Lokawisata Baturraden, Jumat (6/2/2026).

"Dari hasil kaji cepat yang dilakukan BPBD bersama lintas sektor dan Provinsi Jawa Tengah, inti permasalahannya ada pada cuaca dan curah hujan yang sangat tinggi, khususnya di puncak Gunung Slamet," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com.

Menurutnya, material vulkanik yang masih tersisa di kawasan hutan, sebagian sudah mengeras menjadi butiran kecil, terbawa arus air hujan yang sangat kuat.

Namun, dampak yang terjadi tidak lebih parah karena kondisi vegetasi di lereng selatan Gunung Slamet masih cukup kuat.

"Ini menjadi keuntungan bagi kita.

Hutan di lereng selatan Gunung Slamet masih luar biasa, masih kuat menahan arus material," jelasnya.
Wilayah yang berada di bawah naungan kawasan tersebut meliputi Baturraden, Cilongok, hingga Sumbang.

Dwi pun mengimbau masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan, terutama vegetasi hutan, sebagai bagian penting dari mitigasi bencana.

"Mohon kepada masyarakat menjaga iklim lingkungan, terutama vegetasi.

Itu bagian dari mitigasi kita bersama," katanya.

Ia juga mengingatkan kondisi cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

BPBD mencatat, puncak musim hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan terjadi hingga Februari, terutama di wilayah Banyumas bagian barat, utara, dan selatan.

"Dari BPBD Provinsi Jawa Tengah juga sudah menyampaikan imbauan kewaspadaan, khususnya untuk wilayah barat, utara, dan selatan.

Curah hujan tinggi diperkirakan masih berlangsung sampai Februari," ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa kualitas air membaik, jaringan PDAM diperbaiki.

Terkait kualitas air yang sempat keruh dan kerusakan jaringan pipa warga, Dwi mengatakan kondisi mulai membaik.

Menurutnya, berkurangnya hujan lebat di kawasan puncak membuat campuran material vulkanik di aliran air mulai menurun.

"Alhamdulillah kualitas air sudah berangsur membaik, karena hujan di puncak sudah tidak seintens sebelumnya.

Campuran material vulkanik juga sudah berkurang," katanya.

Baca juga: Petani Dieng Kenalkan Potensi Khas Umbi Yakon, Sekilo Rp 25 Ribu

BPBD bersama klaster air bersih, termasuk PMI dan PDAM, sebelumnya telah menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah titik terdampak.

Jaringan PDAM yang sempat rusak juga telah diperiksa dan diperbaiki.

"PDAM sudah melakukan perbaikan.

Kami bersama PMI dan PDAM juga menyuplai air bersih ke beberapa lokasi terdampak," jelasnya.

Ia menegaskan, kondisi yang terjadi lebih tepat disebut sebagai dampak air keruh akibat campuran material vulkanik dan humus, bukan banjir besar.

Di sejumlah titik, sedimentasi pasir vulkanik masih terlihat cukup banyak.

BPBD menyebut pembersihan akan dilakukan secara bertahap.

Namun, di sisi lain, material pasir tersebut justru dimanfaatkan warga.

"Di beberapa tempat, warga sudah mulai mengambil sedimentasi pasir.

Karena jenis pasir gunung berapi ini harganya lebih mahal," kata Dwi.

Meski demikian, dampak terbesar justru terjadi pada ekosistem sungai, terutama sektor perikanan.

BPBD berencana melakukan rehabilitasi bersama dinas terkait dan para relawan.

"Efek terbesar ada pada ekosistem sungai, terutama ikan.

Ini nanti akan kita rehabilitasi bersama dinas pertanian, peternakan, dan relawan, untuk memulihkan titik-titik sungai di lereng Gunung Slamet," tutupnya. (jti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.