Menyoal Prosedur Dialisis, Ini Risiko Jika Pasien Gagal Ginjal Tunda Cuci Darah
GH News February 07, 2026 11:08 AM
Jakarta -

Beberapa waktu terakhir ramai pasien cuci darah tidak bisa menjalani perawatan di rumah sakit akibat kepesertaan penerima bantuan iuran jaminan kesehatan (PBI JKN) yang nonaktif. Sebenarnya pasien dengan kondisi apa saja yang membutuhkan cuci darah?

Dikutip dari Cleveland Clinic, prosedur cuci darah atau dengan istilah medis dialisis merupakan salah satu bentuk pengobatan bagi orang dengan fungsi ginjal yang sudah tidak berjalan dengan baik. Ketika seseorang mengalami gagal ginjal, ginjal sudah tidak mampu menyaring racun dengan sebagaimana mestinya.

Akhirnya limbah seperti urea, kreatinin, hingga zat asam menumpuk di aliran darah. Seharusnya, zat-zat tersebut dikeluarkan tubuh melalui urine, dan dialisis 'mengambil tugas' ginjal untuk membuang zat sisa tersebut.

Orang yang membutuhkan prosedur cuci darah adalah orang dengan penyakit ginjal stadium lanjut. Beberapa hal yang memicu penyakit ginjal antara lain tekanan darah tinggi, diabetes, dan lupus.

Pada sebagian orang, gangguan ginjal dapat muncul tanpa penyebab yang jelas. Gagal ginjal bisa bersifat jangka panjang, atau terjadi secara tiba-tiba (akut) setelah penyakit berat atau cedera. Dalam beberapa kasus, gagal ginjal akut masih bisa pulih.

Penyakit ginjal dibagi menjadi lima stadium. Pada stadium 5, seseorang dianggap mengalami gagal ginjal. Pada tahap ini, fungsi ginjal tinggal kurang dari 15 persen dari kondisi normal. Untuk tetap bertahan hidup, pasien membutuhkan dialisis atau transplantasi ginjal.

Cuci darah merupakan prosedur yang serius. Jika pasien yang memiliki masalah ginjal tidak dapat menjalani dialisis, maka racun akan menumpuk di dalam darah dan dapat bersifat fatal.

Seseorang dengan gagal ginjal umumnya hanya dapat bertahan beberapa hari hingga beberapa pekan tanpa dialisis, tergantung dari derajat kondisi ginjal yang dialami. Menunda atau menghentikan dialisis menyebabkan penumpukan racun dan cairan yang cepat dalam tubuh (uremia), yang menyebabkan penyakit parah dan kematian dalam beberapa hari hingga minggu.

Gejala termasuk kelebihan cairan yang parah, sesak napas, kebingungan, mual, dan, jika tidak dimulai kembali, koma dan kematian karena serangan jantung atau akumulasi limbah beracun di dalam tubuh.

Jenis-jenis Cuci Darah

Cuci darah dibagi menjadi dua jenis. Pertama adalah hemodialisis, jenis cuci darah paling umum yang dilakukan menggunakan mesin dialisis dan dilakukan di rumah sakit. Prosedur ini yang dikaitkan dengan ramai pasien cuci darah perawatannya tertunda akibat PBI JK nonaktif.

Prosedurnya adalah dengan mengalirkan darah keluar dari tubuh, kemudian darah disaring dengan dialyzer, lalu darah yang sudah dibersihkan dikembalikan dalam tubuh. Pasien biasanya perlu menjalani prosedur ini 3-7 kali seminggu, dengan tiap sesi dengan durasi 3-8 jam.

Jenis cuci darah yang kedua adalah dialisis peritoneal, menggunakan lapisan dalam rongga perut atau peritoneum sebagai penyaring darah alami. Cairan khusus yang disebut dialisat dimasukkan ke dalam rongga perut untuk membantu pembuluh darah menyaring darah.

Setelah proses penyaringan, cairan tersebut dikeluarkan ke dalam kantong di luar tubuh. Proses ini disebut exchange (pertukaran).

Dialisis peritoneal dibagi menjadi dua jenis, yaitu Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) dan Automated Peritoneal Dialysis (APD).

CAPD adalah metode dialisis peritoneal yang dilakukan secara manual ketika cairan dialisat dimasukkan ke rongga perut dan dikeluarkan kembali beberapa kali sehari menggunakan bantuan gravitasi. Proses ini tidak memerlukan mesin, sehingga pasien bisa tetap beraktivitas sambil menjalani dialisis.

Sementara itu, APD adalah dialisis peritoneal yang menggunakan mesin otomatis untuk memasukkan dan mengeluarkan cairan dialisat dari rongga perut. Biasanya dilakukan pada malam hari saat pasien tidur, sehingga lebih praktis dan tidak mengganggu aktivitas di siang hari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.