TRIBUNJATIM.COM - 340 orang menjadi korban dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Jumat (6/2/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, Feria Kowira mengatakan, korban terdiri dari 9 siswa SD, 144 siswa SMP, 73 siswa SMA, dan 101 siswa SMK.
Selain siswa, sebanyak enam petugas MBG dan tujuh guru juga dilaporkan mengalami gejala serupa dan harus mendapatkan perawatan medis.
Baca juga: Lala Sesak Napas Tidak Bisa Cuci Darah, BPJS Kesehatan Mendadak Dinonaktifkan, Datanya Berubah
Dilaporkan, dugaan keracunan menu MBG terjadi di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kamis (5/2/2026).
Para siswa dan guru mulai merasakan gangguan kesehatan tidak lama setelah menyantap menu MBG yang dibagikan di sekolah masing-masing pada paginya.
"Sebagian besar korban langsung dilarikan ke sejumlah Puskesmas di wilayah Marau untuk mendapatkan penanganan medis," kata Feria, Kamis sore.
Feria menjelaskan, laporan dugaan keracunan massal pertama kali diterima Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang sekitar pukul 10.00 WIB.
Petugas kesehatan kemudian segera dikerahkan ke lokasi sekolah dan fasilitas layanan kesehatan terdekat.
Menurut Feria, para korban umumnya mengeluhkan mual, muntah, pusing, sakit perut, hingga diare setelah mengkonsumsi makanan MBG.
"Saat dibawa ke Puskesmas sekitar pukul 10.00 WIB, keluhan yang paling banyak adalah muntah-muntah dan pusing. Beberapa juga mengalami diare. Secara umum kondisi mereka mengarah ke dehidrasi," jelas Feria.
Untuk menangani kasus tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang mengerahkan lima tim medis yang terdiri dari tenaga kesehatan Dinkes Ketapang, Puskesmas Marau, Puskesmas Jelai Hulu, Puskesmas Suka Mulia, dan Puskesmas Marau.
Selain fokus pada penanganan korban, Dinas Kesehatan juga melakukan investigasi awal dengan mengambil sampel makanan MBG serta sampel muntahan korban.
"Sampel muntah diperiksa di Laboratorium Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, sedangkan sampel makanan dikirim ke Balai POM Kalimantan Barat di Pontianak," kata Feria.
Hingga kini, Dinas Kesehatan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan sumber dan penyebab dugaan keracunan massal tersebut.
"Distribusi menu MBG di sekolah-sekolah terdampak dilaporkan dihentikan sementara sebagai langkah antisipasi," ujar Feria.
Sementara itu, Kepala Regional MBG Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, membenarkan adanya peristiwa dugaan keracunan di Kabupaten Ketapang.
Menurut Agus, distribusi menu MBG dilakukan pada Rabu (4/2/2026), namun dampaknya baru diketahui keesokan harinya.
"Menunya didistribusikan Rabu kemarin, namun baru ketahuan hari ini karena banyak siswa yang tidak masuk sekolah akibat mual dan muntah," kata Agus saat dihubungi, Kamis malam.
Ia menambahkan, saat ini distribusi MBG ke sekolah-sekolah terdampak dihentikan sementara dan difokuskan pada penanganan siswa yang mengalami gangguan kesehatan.
Dugaan keracunan ini berkaitan dengan menu MBG yang didistribusikan pada Rabu (4/2/2026).
Pada hari itu, menu yang dibagikan terdiri dari nasi putih, gulai telur, perkedel tahu, tumis sawi dan wortel, serta puding.
"Menu yang didistribusikan Rabu kemarin. Sementara pada Kamis, distribusi MBG langsung dihentikan karena fokus pada penanganan siswa yang dirawat," ujar Agus.
Agus mengungkapkan, dugaan sementara sumber keracunan siswa di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, mengarah pada menu perkedel tahu.
Dugaan tersebut saat ini masih diverifikasi melalui pemeriksaan laboratorium.
Agus mengatakan, dugaan awal mengarah pada perkedel tahu yang diproduksi pada Selasa (3/2/2026) malam, namun diolah kembali pada Rabu (4/2/2026) dini hari.
"Dugaan awal kejadian berasal dari perkedel tahu yang dibuat sekitar pukul 19.00 WIB, pada Selasa malam, lalu diolah kembali sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, Rabu," kata Agus, Jumat (6/2/2026).
Dugaan tersebut diperkuat oleh keterangan sejumlah siswa yang menyebut perkedel tahu berbau dan terasa asam saat dikonsumsi.
"Dari keterangan siswa, perkedel tahu yang diberikan sudah terasa asam. Namun kami masih menunggu hasil investigasi lanjutan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pastinya," ujar Agus.
Baca juga: Bangga Puluhan Tahun Rawat Makam Jenderal Polisi Hoegeng, Nani Ungkap Sosok Almarhum
Berdasarkan keterangan siswa, gejala seperti pusing, mual, dan muntah mulai dirasakan sejak sore hari Rabu.
Namun, sebagian besar siswa tidak segera melapor karena menganggap keluhan tersebut sebagai kondisi biasa.
"Mereka baru merasakan gejala sore hari, tapi tidak melapor," ucap Agus.
"Karena itu, kejadian yang terdeteksi Kamis pagi besar kemungkinan akibat menu yang dikonsumsi Rabu," imbuhnya.
Dari hasil analisis sementara, proses persiapan bahan baku di SPPG Ketapang Marau Riam Batu Gading dimulai pukul 16.30–22.00 WIB.
Proses memasak dilakukan mulai pukul 02.00 WIB, pengemasan pukul 04.00 WIB, dan distribusi dibagi dua tahap, yakni pukul 07.30 WIB dan 10.00 WIB.
Sementara itu, pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, soal penyebab banyak anak di Indonesia yang putus sekolah, viral di media sosial.
Dadan Hindayana menilai bahwa saat ini anak berhenti sekolah lantaran faktor uang jajan.
Sehingga menurutnya, program Makan Begizi Gratis (MBG) jadi penyelamatnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Dadan Hidayana saat menjadi narasumber dalam tayangan di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, pada Agustus 2025 lalu.
Dalam wawancara bersama Helmy Yahya tersebut, Dadan memaparkan hasil analisis terbaru.
Analisis tersebut menantang anggapan umum soal mahalnya biaya pendidikan menjadi penyebeb anak putus sekolah.
Menurutnya, persoalan utama bukan lagi SPP, mengingat pendidikan di Indonesia sebagian besar sudah gratis.
Justru beban ekonomi keluarga untuk memenuhi uang jajan harian anak menjadi faktor signifikan yang mendorong anak untuk berhenti sekolah.
"Ada hasil analisis yang cukup menarik terkait dengan apakah pendidikan gratis atau makanan bergizi," kata Dadan Hindayana, mengutip Tribun Jakarta, Senin (2/2/2026).
"Dari hasil analisis itu, ini terbaru nih, anak muda yang sangat concern apa sih yang menyebabkan anak putus sekolah," imbuhnya.
"Kan pendidikan kita sudah gratis ya, sebagian besar, kecuali sekolah-sekolah swasta yang terkenal kan," lanjut Dadan.
"Dan ternyata yang membuat anak putus sekolah karena kemampuan memberi jajan uang harian kepada anak, itu yang menyebabkan banyak putus sekolah," tambahnya.
Temuan ini membuka perspektif baru tentang keterkaitan antara gizi, ekonomi keluarga, dan keberlanjutan pendidikan.
Dadan menilai, kehadiran program MBG berperan penting sebagai solusi konkret yang membantu anak tetap bersekolah tanpa terbebani dengan biaya harian.
"Jadi hadirnya MBG menyelamatkan mereka, jadi mereka sekarang kalau ke sekolah tidak membutuhkan bekal karena sudah disiapkan di sekolah, atau yang dikasih uang jajan sedikit bisa ditabung juga makannya sudah ada di sekolah," pungkas Dadan Hindayana.