TRIBUNJOGJA.COM, PONOROGO - Empat bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan taman kanak-kanak di Dusun Sidowayah, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, tewas tenggelam di sungai pada Jumat (6/2/2026) siang.
Keempatnya yakni JN (7), AP (4), SK (4) dan Alwi (4) ditemukan tewas mengambang di sebuah sungai kecil yang tak jauh dari kediaman para korban.
Keberadaan para korban ini diketahui oleh salah satu orang tua korban yang mencari salah seorang korban karena belum pulang ke rumah meski waktu sudah dekat dengan salat Jumat.
Kejadian memilukan ini bermula saat para korban yang rumahnya saling berdekatan ini pulang dari sekolah pada Jumat siang
Mereka kemudian bermain bersama dan menuju ke sungai kecil yang lokasinya tak jauh dari rumahnya.
Para orang tua korban tidak menaruh curiga karena biasanya para korban ini bermain di aliran sungai yang tidak terlalu dalam.
“Ya karena sering main bersama. Dikira yang di bawah. Sungai kecil juga tapi tidak terlalu dalam. Yang kita lewat bersama-sama tadi lo,” terang Kapolres Ponorogo, AKBP Andin Wisnu Sudibyo, Jumat (6/2/2026) dikutip dari Tribun Jatim.
Menurut Andin, orang tua korban ini baru mencari keberaan keempatnya saat waktu jelang salat Jumat.
“Ketemulah di lokasi, dengan kondisi 2 mengapung dan 2 masih tenggelam. Di tolong sama orang tua dan warga. Dibawa ke Puskesmas tapi ya sudah tidak bernyawa,” tegasnya.
Kejadian memilukan itu kemudian dilaporkan ke kepolisian.
Jajaran Satreskrim Polres Ponorogo kemudian langsung mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Adapun lokasi kejadian berjarak sekitar 500 meter dari salah satu rumah korban.
Polisi kemudian memasang garis polisi di lokasi kejadian.
“Kami telah melakukan olah tkp. Tingginya air itu sampai 140 centimeter,” jelasnya.
Padahal, jelas dia, 4 bocil yang tenggelam itu tinggi badannya yang paling tinggi hanya 116 centimeter.
“Jadi air itu lebih dalam dibanding tinggi keempat korban,” terang mantan Waka Polres Berau, Polda Kalimantan Timur ini kepada Tribunjatim Network.
AKBP Andin menegaskan bahwa tewasnya 4 bocil murni kecelakaan. Bukan karena ada unsur kesengajaan.
Baca juga: Curhatan Bu Guru Sitti, Dilempar Kursi Oleh Kepala Sekolah: Mental Mama Tak Sanggup Lagi
Tragedi yang menewaskan empat bocah di Ponorogo ini membuat orang tua korban histeris.
Tangis para orang tua korban pecah ketika jenazah keempatnya tiba di rumah masing-masing.
Di salah satu rumah duka, orang tua korban menangis karena anak satu-satunya meninggal dunia dengan cara tragis.
Tangisannya semakin pecah saat ambulans yang membawa jenazah anaknya sampai di rumah. Beberapa keluarga dekat nampak menenangkan.
“Setelah selesai dilakukan identifikasi, keempat korban kemudian dibawa ke rumah duka masing-masing untuk disemayamkan,” imbuh kapolres.
AKBP Andin mengatakan bahwa keluarga korban masih shock atau kaget. Hal itu bukan tanpa sebab. Lantaran mereka masing-masing adalah anak tunggal. Sehingga, pihak keluarga belum ada yang bisa ditanyain apapun.
“Kami mendampingi polres dan polsek. Kami bantu proses pemakaman. Intinya kita meringankan lah. Ini murni kecelakaan,” tegas AKBP Andin.