Tribunlampung.co.id, Pesawaran - Dinas Pariwisata Kabupaten Pesawaran merekomendasikan sejumlah destinasi pendakian dan wisata alam yang dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan pendaki, mulai dari pemula, menengah, hingga berpengalaman.
Karakter alam Pesawaran yang beragam membuat wilayah ini memiliki jalur pendakian dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Pesawaran Aris Apriyadi mengatakan, wisata pendakian di Pesawaran tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga variasi level pendakian yang jelas bagi pengunjung.
“Di Pesawaran, pendaki bisa memilih jalur sesuai kemampuan. Ada yang sangat ringan untuk keluarga, ada juga yang menantang bagi pendaki berpengalaman,” kata Aris kepada Tribun Lampung, Sabtu (7/2/2026).
Untuk pendaki pemula, Gunung Betung menjadi destinasi yang paling banyak direkomendasikan. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Pesawaran dan Kota Bandar Lampung dan kerap menjadi tempat belajar pertama bagi pendaki di Lampung.
Secara tingkat kesulitan, Gunung Betung berada pada level pemula hingga menengah.
Jalurnya berupa setapak tanah dengan tanjakan yang konsisten dan jelas, sehingga mudah diikuti oleh pendaki yang belum berpengalaman. Waktu tempuh pendakian berkisar antara tiga hingga lima jam.
Selain relatif aman, Gunung Betung juga memiliki sumber air yang cukup melimpah.
Dari beberapa titik perkemahan, pendaki dapat menikmati pemandangan city light Kota Bandar Lampung pada malam hari serta panorama Teluk Lampung.
“Gunung Betung cocok untuk pemula yang ingin belajar manajemen waktu dan tenaga dalam pendakian,” ujar Aris.
Bagi pendaki dengan level menengah hingga berpengalaman, Gunung Pesawaran atau Puncak Tanggang menjadi pilihan yang lebih menantang.
Gunung ini merupakan salah satu titik tertinggi di wilayah Pesawaran.
Secara karakter, Gunung Pesawaran berada pada level sulit. Jalur pendakiannya cukup panjang, melewati hutan hujan tropis yang lebat dengan vegetasi rapat serta tanjakan curam di beberapa titik.
“Gunung Pesawaran cocok untuk pendaki yang sudah terbiasa dengan jalur panjang dan kondisi alam yang masih liar,” kata Aris.
Pendaki juga perlu mempersiapkan fisik dan perlengkapan dengan baik, terutama saat musim hujan.
Pada kondisi tertentu, pacet atau lintah kerap ditemukan di jalur pendakian gunung ini.
Sementara itu, bagi wisatawan yang menginginkan pendakian ringan, Bukit Lantana di wilayah Way Ratai berada pada level mudah.
Destinasi ini lebih cocok untuk aktivitas hiking singkat atau trekking santai.
Waktu tempuh menuju puncak Bukit Lantana relatif singkat, sekitar satu hingga dua jam.
Meski demikian, pemandangan yang ditawarkan cukup istimewa karena menghadap langsung ke arah laut.
Dari Bukit Lantana, pengunjung dapat menikmati panorama matahari terbit, barisan perahu nelayan, serta pulau-pulau kecil seperti Pulau Pahawang dari ketinggian.
“Bukit Lantana cocok untuk pendaki pemula, keluarga, atau wisatawan yang hanya punya waktu terbatas,” ujar Aris.
Destinasi lain yang berada pada level sangat mudah adalah Bukit Cendana di Desa Harapan Jaya, Kecamatan Way Ratai.
Jalur pendakiannya pendek dan sudah tertata dengan baik.
Bukit Cendana lebih tepat disebut sebagai wisata alam dan camping keluarga.
Pendaki dapat mencapai puncak hanya dalam waktu sekitar 30 hingga 60 menit.
Daya tarik utama Bukit Cendana adalah hutan pinus yang asri dengan udara sejuk, sehingga sering disebut sebagai “Puncaknya Pesawaran”.
“Bukit Cendana aman untuk keluarga karena fasilitasnya sudah tersedia dan jalurnya tidak ekstrem,” kata Aris.
Aris menyebut, sebagian besar jalur pendakian di Pesawaran berada di kawasan hutan lindung dan Taman Hutan Raya.
Oleh karena itu, wisatawan wajib mematuhi aturan dan menjaga kelestarian lingkungan.
“Kami mengimbau pendaki untuk selalu menjaga kebersihan dan menghormati aturan desa setempat agar wisata alam Pesawaran tetap berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan adanya pilihan jalur berdasarkan level pendaki, Dispar Pesawaran berharap wisata pendakian dapat dinikmati secara aman sekaligus meningkatkan kunjungan wisata alam di daerah tersebut.
(Tribunlampung.co.id/ Oky Indrajaya)