TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Riuh rendah musik akan kembali menggema di Yogyakarta sore ini. Area Parkir Timur Stadion Maguwoharjo disiapkan menjadi ruang pertemuan lintas skena, lintas generasi, sekaligus lintas negara dalam gelaran Originfest 2026.
Festival tahunan yang memasuki tahun keduanya ini mengusung tema Unlimited Pleasure, menawarkan spektrum penampil yang luas dengan total 25 nama dari berbagai genre.
Origin Entertainment memastikan seluruh persiapan telah rampung. Tahun ini, tata panggung mengalami perubahan signifikan.
Jika sebelumnya komposisi terdiri dari satu panggung besar dan dua panggung kecil, kini di balik menjadi dua panggung besar dan satu panggung kecil.
Owner Origin Entertainment, Dona Marsita, menjelaskan perubahan itu bukan tanpa alasan.
“Kalau 2025 itu 1 panggung besar dan 2 panggung kecil. Kalau sekarang 2 panggung besar dan 1 panggung kecil,” ujarnya.
Ia menambahkan, komposisi penampil yang lebih banyak diisi band besar membuat format dua panggung utama dinilai lebih efektif.
Nantinya, setelah satu panggung selesai, penampilan akan langsung berlanjut di panggung besar lainnya tanpa jeda panjang.
Secara lokasi, area festival juga berpindah ke sisi timur stadion dengan ruang yang lebih luas. Antusiasme penonton pun meningkat tajam.
Tahun lalu, jumlah pengunjung mencapai sekitar 8.500 orang. Tahun ini, hingga hari pelaksanaan, angka penjualan tiket sudah menyentuh 12.000, melampaui target awal 10.000 penonton.
Tiket on the spot masih tersedia dengan harga Rp150 ribu. Pintu masuk dibuka pukul 13.30 WIB.
Meski kini merangkul banyak genre, Dona menegaskan akar metal tetap menjadi identitas utama.
“Kita ga mau kehilangan embrio event ini, yakni metal. Agar tidak kehilangan jati diri Originfest,” katanya.
Baca juga: Curhatan Bu Guru Sitti, Dilempar Kursi Oleh Kepala Sekolah: Mental Mama Tak Sanggup Lagi
Namun ia juga menekankan bahwa festival ini tidak membatasi diri pada satu warna musik saja. Dari punk, pop, hardcore, hingga metal tetap diberi ruang yang adil.
Di jajaran utama, band metalcore asal Tokyo, Sable Hills, menjadi salah satu daya tarik internasional. Kehadiran mereka disebut sebagai bagian dari diferensiasi festival.
Dona mengakui keputusan mendatangkan Sable Hills berawal dari respons viral dan data pendengar digital.
“Ternyata disambut baik juga. Akhirnya kita bisa deal dan akhirnya bisa sampai sini,” ujarnya.
Dalam konferensi pers di Jogja, Sable Hills sendiri mengaku terkejut dengan respons publik Indonesia terhadap lagu mereka yang berjudul Namu.
Meski kali ini tampil tanpa bante seperti yang mereka konser di Jepang, mereka berjanji akan memperkenalkan sejumlah lagu lain kepada penonton malam ini.
Dari panggung nasional, Burgerkill hadir dengan formasi vokalis lama, Viky Mono. Nama legendaris lain seperti Death Vomit juga siap memanaskan arena.
Bagi Roy, drummer Death Vomit, penampilan kali ini terasa spesial karena berdekatan dengan perilisan album keempat mereka pada 31 Januari lalu.
Beberapa lagu baru akan dimainkan untuk pertama kalinya di Yogyakarta pada 2026 ini.
Selain deretan nama besar, Originfest 2026 juga menampilkan berbagai kolaborasi seperti Allegiance Cruiser yang mempertemukan Rebellion Rose dan Over Distortion, serta proyek Jansen Ranti yang menyatukan The Jansen dan Jason Ranti.
Di sisi lain, segmen The Explorers, The Boosters, dan The Catalyst menjadi ruang bagi band pendatang baru seperti Biru Baru, Murphy Radio, Modern Guns, hingga aksi teatrikal Tahlilan.
Dengan komposisi dua panggung besar, puluhan penampil lintas genre, serta kehadiran band internasional, Originfest 2026 menandai ambisi baru untuk tumbuh menjadi festival tahunan berskala besar.
Sore ini, Maguwoharjo bukan sekadar lokasi konser, melainkan titik temu ribuan orang yang datang membawa selera dan energi masing masing, lalu melebur dalam satu irama yang sama.(nto)