Didik Sudah Kewalahan Layani Orderan Genteng Dari Berbagai Daerah
muh radlis February 07, 2026 01:54 PM

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Program gentengisasi nasional yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto disambut baik para perajin genteng di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Sejumlah perajin mengaku sangat siap jika program tersebut menyentuh perajin genteng di tingkat daerah yang menjadi sentra produksi genteng, seperti Kabupaten Jepara.

Selain dikenal sebagai Kota Ukir, Jepara juga dikenal sebagai sentra penghasil genteng di wilayah Kecamatan Mayong, sebagian di Kecamatan Nalumsari dan Welahan.

Ratusan perajin genteng yang tersebar di tiga kecamatan tersebut mayoritas merupakan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) dengan market pasar genteng Jepara sudah tembus di pasar nasional.

Satu di antara perajin genteng adalah Didik Murdianto (35) dengan rumah produksi di Dukuh Karangpanggung, Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara.

Didik merupakan perajin generasi kedua meneruskan usaha yang sebelumnya dibangun orangtuanya.

Sebagai produsen genteng dari kalangan perajin muda, Didik mendukung apa yang menjadi program gentengisasi yang digagas langsung Presiden Prabowo Subianto.

Dengan program tersebut, diharapkan menjadi angin segar bagi perajin genteng di daerah-daerah.

Program gentengisasi juga berpotensi mendongkrak orderan genteng, khususnya produk genteng yang dibuat dari tanah liat.

Hanya saja, kata dia, tantangan bagi perajin harus siap meningkatkan jumlah produksi ketika permintaan pasar meningkat tajam.

Perajin juga harus siap menambah sumber daya manusia (SDM) dan menambah alat produksi agar bisa mengikuti tren permintaan pasar.

Baca juga: BREAKING NEWS: Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia

Baca juga: Lagi-lagi Judi Slot, Agus Ternyata Gadai Motor Istri Sebelum Rampok dan Bunuh Anak di Boyolali

Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan perajin adalah menjaga kualitas genteng agar diterima di kalangan masyarakat, tentunya dengan harga yang terjangkau semua kalangan.

"Sebagai perajin pasti mendukung program itu (gentengisasi). Bagus untuk menambah semangat perajin genteng, karena banyak juga yang beralih profesi sebagai pekerja pabrik yang katanya lebih menjanjikan, dapat gaji bulanan, tunjangan pekerjaan sampai tunjangan kesehatan," terangnya, Sabtu (7/2/2026).

Menurut Didik, jumlah perajin genteng di wilayah Jepara sudah berkurang drastis hingga 50 persen.

Mereka para perajin yang tekun dengan meneruskan usaha orang tua atau keluarga cenderung masih bertahan. Sedangkan bagi perajin pemula, terutama perajin dengan usia muda banyak yang memilih menutup usaha produksi genteng dan beralih menjadi pekerja pabrik yang dinilai lebih menjanjikan.

Karena itu, dia berharap program gentengisasi ini menjadi semangat baru bagi perajin genteng agar tetap bertahan sebagai penggerak roda perekonomian di tingkat daerah hingga nasional.

"Melalui program itu, dengan harapan ke depan akan lebih banyak permintaan genteng. Jadi perajin skala menengah hingga skala kecil tidak usah khawatir lagi, permintaan pasti ada," ujar dia.

 

Kewalahan Penuhi Permintaan

Didik merupakan satu di antara puluhan perajin genteng yang masih bertahan di wilayah Desa Mayong Lor.

Saat ini dia memiliki 15 pekerja dilengkapi empat mesin cetak genteng manual. Dengan alat yang serba manual, produksi genteng Didik baru sebatas 2.000 - 3.000 biji per hari.

Lama produksi hingga menjadi produk jadi memakan waktu kurang lebih dua pekan. Mulai dari penggilingan tanah liat, pencetakan genteng, penjemuran, perapian genteng, pembakaran, hingga pendinginan dan penyortiran produk.

Hanya saja, waktu produksi yang dibutuhkan saat musim hujan, semakin lama mencapai tiga sampai empat pekan. Dikarenakan dia tidak bisa lagi mengandalkan sumber panas matahari untuk penjemuran genteng, sementara proses pengeringan hanya memanfatakan suhu ruangan terbuka tanpa didukung alat pemanas modern.

Harga jual genteng di rumah produksi Didik mulai dari Rp 1.500 - Rp 3.000 per biji. Tergantung besar kecil dan jenis genteng yang dipesan. Di antaranya ada jenis genteng super mantili kecil, super mantili besar, genteng sirap, dan genteng kodok.

Market penjualan genteng Didik sudah tembus skala nasional. Bahkan, dia sering kali kewalahan memenuhi permintaan yang datang dengan skala besar ketika datang bersamaan.

Meski demikian, Didik selalu berusaha menenuhi apa yang menjadi permintaan konsumen dengan mengukur kemampuan produksinya.

"Orderan genteng di Jepara masih banyak peminat. Terutama genteng kualitas menengah ke bawah, banyak peminatnya. Terkadang sampai kewalahan karena banyaknya orderan masuk," ujar dia.

Stok genteng di rumah produksi milik Didik saat ini tinggal 10.000 biji. Terdiri dari 5.000 biji masih dalam tahap penjemuran (pengeringan), sedangkan 5.000 biji lainnya dalam proses pembakaran untuk memenuhi permintaan yang belum sempat dia penuhi.

Sementara produksi genteng terus berjalan guna menjaga stok genteng tetap ada ketika permintaan datang.

"Mayong dari dulu gentengnya sudah terkenal dan harga di kelas tengah. Banyak konsumen percaya dengan produk genteng Mayong Jepara. Soal harga terjangkau, soal kualitas enggak kaleng-kaleng," ucap dia.

 

Butuh Dukungan Modernisasi Produksi

Didik tidak memungkiri bahwa salah satu tantangan produsen genteng di Jepara adalah modernisasi alat yang sedianya bisa membantu pekerjaan lebih mudah.

Yang terjadi saat ini, para perajin genteng dengan klasifikasi IKM masih mengandalkan mesin cetak manual yang terbatas dengan gerak tangan. Di mana tenaga kedua tangan pekerja masih sangat dibutuhkan untuk mendorong dan mengunci alat percetakan pada setiap biji genteng yang dicetak.

Jika modernisasi alat pencetakan genteng dilakukan, produksi genteng bisa didorong meningkat dua kali lipat dibandingkan produksi dengan alat manual.

Hanya saja, modernisasi alat tidak serta merta bisa dilakukan oleh setiap perajin. Modal pembelian alat yang tidak sedikit membuat produsen berpikir dua kali, dan memilih untuk memanfaatkan alat yang ada meski produksi genteng jadi terbatas.

Melalui program gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto, Didik berharap modernisasi alat tidak luput dari perhatian pemerintah.

Perajin berharap nantinya pemerintah juga mendukung kerja para produsen genteng dengan bantuan alat-alat yang lebih modern. Guna mendukung produksi genteng lebih mudah dan cepat.

"Perajin berskala kecil butuh suntikan modal dan alat pres genteng agar produksi meningkat. Dengan alat cetak manual, tentunya produksi tidak bisa cepat, dan ini membutuhkan modal gak sedikit, perkiraan di angka Rp 20-50 juta. Dan bagi kami masih kesulitan dengan kondisi usaha berbasis UMKM," tuturnya.

Didik sangat berterimakasih jika usulan modernisasi alat didengar dan direalisaikan oleh pemerintah.

"Yang dibutuhkan saat ini adalah bantuan alat pres untuk menunjang kecepatan produksi. Saya kira sejalan dengan program gentengisasi, supaya perajin genteng tetap bisa berkembang lebih maju," tegasnya.

Diketahui sebelumnya, program gentengisasi nasional disebut sebagai program penggantian atap seng menjadi genteng yang terbuat dari tanah. Program ini diproyeksikan menyasar rumah warga yang masih memakai seng.

Presiden Prabowo Subianto telah mengumumkan program gentengisasi nasional saat berpidato dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Senin (2/2/2026). Program ini disambut baik oleh perajin genteng di Kabupaten Jepara. (Sam)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.