Sinang Pahlawan dari Semarang, Pak Ogah yang Selamatkan Nyawa Bocah Tenggelam di Sungai Kaligarang
muh radlis February 07, 2026 01:54 PM

 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sebuah ambulans tiba secara mendadak di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Puskesmas Pegandan, Jalan Lamongan Barat, Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Jumat (6/2/2026) sore.

Di dalamnya, seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun segera diturunkan dan dilarikan ke ruang medis untuk mendapatkan penanganan darurat.

Suasana di sekitar puskesmas tampak tegang. Keluarga korban bersama sejumlah warga berkerumun dengan raut wajah cemas menanti kondisi sang anak.

Bocah tersebut diketahui sebelumnya mengalami insiden tenggelam di aliran Sungai Kaligarang, tepatnya di bawah Jembatan Besi Sampangan atau Kertek Wesi, Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Bendan Duwur.

Di lokasi kejadian, sungai memiliki lebar sekitar lima meter dengan kedalaman air yang diperkirakan mencapai dua meter. Arus sungai di titik tersebut cukup berisiko, terutama bagi anak-anak.

Di balik peristiwa tersebut, tersimpan kisah keberanian seorang warga bernama Sinang (40), yang tinggal di Deliksari, Sukorejo, Gunungpati.

Sinang dikenal warga sekitar sebagai pak ogah yang sehari-hari membantu mengatur lalu lintas di persimpangan Kertek Wesi.

Baca juga: BREAKING NEWS: Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia

Tanpa alat bantu dan tanpa ragu, Sinang menjadi orang pertama yang terjun ke sungai setelah melihat korban tenggelam. Ia bertindak spontan demi menyelamatkan nyawa bocah tersebut.

“Saya waktu itu jalan pulang dari kerja.

Tiba-tiba lihat ada anak tenggelam, langsung saya selam,” kata Sinang saat ditemui.

Sinang mengungkapkan bahwa kondisi sungai cukup menantang. Kedalaman air bahkan melebihi tinggi badannya.

Meski demikian, ia tetap berupaya mengangkat tubuh korban dan membawanya ke daratan.

Saat berhasil dievakuasi, kondisi korban sudah sangat lemah dan tidak sadarkan diri. Sinang mengaku sempat kebingungan untuk memberikan pertolongan lanjutan karena keterbatasan pengetahuan medis.

“Karena saya bingung penanganannya, saya ke rumah orang tuanya yang tetangga saya juga, berhadapan, tapi rumahnya kosong.

Akhirnya saya lapor RT dan RW, terus bareng-bareng kami bawa korban ke puskesmas,” imbuh Sinang.

Dalam perjalanan menuju Puskesmas Pegandan, Sinang mulai mendengar suara rintihan kecil dari korban.

Tanda tersebut memberinya sedikit kelegaan bahwa sang anak masih menunjukkan respons.

Tak berselang lama, orang tua korban menyusul ke puskesmas setelah mendapatkan informasi dari warga sekitar. Sinang mengaku mengenal korban karena masih berada dalam satu lingkungan tempat tinggal.

Menurutnya, bocah tersebut jarang bermain di sungai. Saat kejadian, korban diduga baru saja pulang sekolah dan masih membawa tas, sebelum akhirnya mengalami insiden tenggelam di Sungai Kaligarang.

“Sepertinya terpeleset. 

Waktu itu ada sekitar enam anak, teman-temannya ketakutan setelah kejadian,” kata Sinang.

Dia juga menyebut kondisi arus Sungai Kaligarang saat kejadian relatif normal dan tidak deras. 

Namun, di bawah jembatan terdapat bagian sungai yang membentuk cekungan, yang diduga menjadi titik berbahaya bagi anak-anak yang bermain air.

Setelah mendapat penanganan awal di Puskesmas Pegandan, korban kemudian dirujuk ke RSUP Dr Kariadi Semarang untuk perawatan lanjutan. (rez)  

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.