Sebulan Jadi Misteri Begini Cara Polisi Membokar Pembunuhan Berencana satu Keluarga di Warakas
M Zulkodri February 07, 2026 02:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Misteri kematian tragis satu keluarga di sebuah rumah kontrakan di Jalan Warakas 8, RT 06 RW 10, Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, akhirnya terkuak.

Setelah hampir satu bulan penuh penyelidikan berbasis ilmiah dilakukan, polisi memastikan peristiwa tersebut bukan kecelakaan, melainkan pembunuhan berencana yang dilakukan oleh anggota keluarga sendiri.

Kasus yang semula menghebohkan publik karena diduga keracunan makanan itu kini berubah menjadi tragedi kriminal yang menyayat hati.

Pelakunya adalah Abdullah Syauqi Jamaludin (22), anak ketiga dalam keluarga tersebut. Ia ditetapkan sebagai tersangka setelah polisi menggabungkan hasil autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, analisis toksikologi, rekaman kamera pengawas (CCTV), hingga keterangan saksi dan ahli.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara AKBP Onkoseno Grandiarso Sukahar menjelaskan, pengungkapan kasus dilakukan dengan metode scientific investigation yang melibatkan berbagai disiplin ilmu.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium forensik, keterangan dokter, bukti toksikologi, serta analisis barang bukti lainnya, pada 4 Februari penyidik menetapkan saudara S (Syauqi) sebagai tersangka,” ujar Onkoseno dalam konferensi pers di Mapolres Metro Jakarta Utara, Jumat (6/2/2026).

Tiga Anggota Keluarga Tewas Misterius

Dalam peristiwa ini, tiga orang dinyatakan meninggal dunia, yakni Siti Solihah (52) selaku ibu, Afiah Al Adilah Jamaludin (27) kakak perempuan, dan Adnan Al Jabrar Jamaludin (13) adik laki-laki tersangka.

Ketiganya ditemukan tak bernyawa di dalam rumah kontrakan pada Jumat pagi, 2 Januari 2026.

Saat pertama kali ditemukan, kondisi para korban cukup mencurigakan.

Mulut berbusa, tubuh mengalami ruam, serta tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik yang jelas.

Situasi itu membuat dugaan awal mengarah pada keracunan makanan atau minuman.

Meski demikian, polisi tidak serta-merta menyimpulkan penyebab kematian.

Sejumlah langkah dilakukan sejak awal, mulai dari olah tempat kejadian perkara (TKP), pemasangan garis polisi, pemeriksaan saksi di lingkungan sekitar, hingga pengumpulan rekaman CCTV di sekitar lokasi.

Baca juga: Isi Buku Harian Lula Lahfah Terungkap, Curhatan Soal Rasa Syukur dan Hubungan Asmara Jadi Sorotan

Autopsi Jadi Titik Balik Pengungkapan

Seiring waktu, sejumlah kejanggalan mulai muncul. Kematian tiga anggota keluarga dalam satu waktu dinilai tidak wajar.

Polisi kemudian memutuskan melakukan autopsi terhadap ketiga jenazah untuk memastikan penyebab kematian secara medis dan ilmiah.

Dokter Forensik RS Polri Kramat Jati, Ipda dr. I Made Raditya Mahardika, mengungkapkan hasil pemeriksaan luar dan dalam terhadap jenazah korban.

“Dari pemeriksaan luar, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik seperti luka akibat benda tajam atau tumpul. Namun, kondisi jenazah menunjukkan pembusukan lanjut,” jelasnya.

Hasil pemeriksaan dalam justru mengungkap temuan mencurigakan.

Pada organ otak ditemukan lebam pada pembuluh darah.

Paru-paru mengalami pembengkakan dan peradangan, sementara pada lambung serta usus ditemukan jaringan berwarna merah muda tidak wajar.

“Ketika lambung dibuka, tercium bau yang sangat menyengat. Kami menemukan cairan berwarna cokelat yang kemudian diambil sebagai sampel untuk pemeriksaan toksikologi,” ujar dr. Raditya.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, tim forensik menyimpulkan bahwa kematian korban disebabkan oleh paparan zat kimia berbahaya yang masuk ke dalam tubuh dalam jumlah berlebih.

“Paparan zat tersebut menyebabkan gangguan pernapasan berat hingga mengakibatkan korban mengalami mati lemas,” tegasnya.

Racun dalam Teh, Disiapkan dengan Perencanaan

Baca juga: Lolos dari Pembunuhan, Istri Juragan Sate Boyolali Selamat dengan Cara Tak Terduga

Hasil autopsi kemudian diperkuat oleh analisis toksikologi Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri.

Dari sanalah polisi semakin yakin bahwa kematian para korban bukan peristiwa alami atau kecelakaan, melainkan hasil tindakan kriminal.

Penyidik kemudian menelusuri aktivitas tersangka sebelum kejadian melalui rekaman CCTV.

Dari rekaman tersebut, terungkap rangkaian kronologi yang mengarah pada dugaan pembunuhan berencana.

Pada 31 Desember 2025 pagi, Syauqi terlihat keluar dari rumah menggunakan sepeda motor sambil mengenakan jas hujan dan membawa sebuah panci.

Setelah itu, ia diketahui merayakan malam pergantian tahun bersama teman-temannya di luar rumah.

Keesokan harinya, 1 Januari 2026 sekitar pukul 10.21 WIB, tersangka diantar pulang oleh rekannya.

Setibanya di rumah, ia diduga mulai meracik zat beracun dan mencampurkannya ke dalam minuman teh menggunakan panci yang sebelumnya dibawa.

Minuman teh tersebut kemudian disuguhkan kepada ibu dan dua saudara kandungnya.

Tanpa rasa curiga, para korban meminum teh itu hingga mengalami gejala keracunan berat seperti sesak napas, lemas, dan akhirnya meninggal dunia.

Motif Dendam Terpendam

Dalam proses penyidikan, polisi juga mengungkap motif sementara di balik aksi keji tersebut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan psikolog dan psikiater, tersangka diduga menyimpan dendam terhadap keluarganya.

“Tersangka merasa diperlakukan berbeda dan sering dimarahi oleh ibunya. Motif ini yang sementara kami temukan,” ungkap AKBP Onkoseno.

Meski demikian, polisi masih terus mendalami kondisi kejiwaan tersangka untuk memastikan apakah ada faktor lain yang turut memengaruhi perbuatannya.

Ancaman Hukuman Berat Menanti

Atas perbuatannya, Abdullah Syauqi Jamaludin kini resmi ditahan di Polres Metro Jakarta Utara.

Ia dijerat dengan pasal berlapis terkait pembunuhan berencana, pembunuhan, penganiayaan, serta kekerasan terhadap anak.

Tersangka dikenakan Pasal 459 KUHP dan/atau Pasal 467 KUHP tentang pembunuhan berencana, serta Pasal 76C juncto Pasal 80 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Ancaman hukuman maksimal yang dihadapi mencapai 20 tahun penjara.

Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa tragedi bisa terjadi di ruang paling aman sekalipun, yakni keluarga.

Scientific investigation yang dilakukan polisi pun menunjukkan pentingnya pendekatan ilmiah dalam mengungkap kebenaran di balik peristiwa kematian yang tampak biasa, namun menyimpan kejahatan luar biasa.

(TribunJakarta.com/Tribunnews.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.