Rokok Jadi Beban Rakyat Miskin Sumatera Barat, Pengeluaran Lampaui Telur dan Cabai
Rahmadi February 07, 2026 03:01 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) merilis data terbaru menunjukkan angka kemiskinan di Sumbar pada September 2025 mencapai 312,30 ribu orang atau 5,31 persen.

Meski jumlah total penduduk miskin berkurang tipis sebanyak 0,05 ribu orang dibanding Maret 2025, terjadi ketimpangan tajam antara wilayah perkotaan dan perdesaan.

Data mengungkap bahwa kemiskinan justru meningkat di wilayah perdesaan, dari 6,93 persen pada Maret 2025 naik menjadi 7,03 persen pada September 2025.

Sebaliknya, angka kemiskinan di perkotaan turun dari 3,91 persen ke angka 3,75 persen. Secara kuantitas, penduduk miskin di desa bertambah 4,22 ribu orang dalam kurun waktu enam bulan.

Salah satu faktor utama yang menjerat kemiskinan di Sumatera Barat adalah konsumsi komoditas makanan yang menyumbang 76,36 persen terhadap Garis Kemiskinan.

Baca juga: Rumah dan Warung di Kuranji Padang Terbakar, Petugas Sempat Kesulitan Akses Sempit

Menariknya, rokok kretek filter konsisten menempati posisi kedua sebagai komoditas yang paling banyak menguras pendapatan penduduk miskin, tepat berada di bawah beras.

Sumbangan rokok kretek filter terhadap kemiskinan di Sumatera Barat mencapai 12,38 persen di perkotaan dan 12,25 persen di perdesaan.

Nilai pengeluaran untuk rokok ini jauh lebih tinggi dibandingkan pengeluaran untuk kebutuhan nutrisi penting seperti cabai merah (6,53 persen), telur ayam ras (4,19 persen), maupun daging ayam ras (3,46 persen).

Kenaikan Garis Kemiskinan sebesar 6,40 persen menjadi Rp776.517 per kapita per bulan memperberat beban ekonomi masyarakat.

Di daerah perdesaan, kenaikan Garis Kemiskinan bahkan mencapai 6,55 persen, lebih tinggi dibanding kenaikan di perkotaan yang berada di angka 6,28 persen.

Baca juga: Kebakaran Speedboat Batang Arau Padang, Tiga Unit Hangus dengan Kerugian Rp 1,5 Miliar

Struktur pengeluaran ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat, terutama tingginya belanja rokok, memiliki andil besar dalam menentukan profil kemiskinan di Sumatera Barat.

Komoditas non-makanan seperti biaya perumahan, bensin, dan pendidikan turut memberi andil, namun tetap tidak sebesar dampak dari konsumsi rokok dan beras.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.