Raymond Chin Bongkar Cara Jeffrey Epstein Tundukkan Elite Global, Bukan Predator Biasa Tapi Sistemik
Budi Sam Law Malau February 07, 2026 02:15 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Konten kreator sekaligus pengusaha milenial Raymond Chin mengungkap pandangannya soal kasus Jeffrey Epstein, tokoh kontroversial yang hingga kini masih menyisakan pertanyaan besar soal jaringan kejahatan dan kekuasaan global.

Dalam video di kanal YouTube miliknya, Sabtu (7/2/2026) Raymond Chin menyebut Epstein bukan sekadar pelaku kejahatan seksual, melainkan figur yang membangun sistem manipulasi elite dunia melalui uang, akses, dan pemerasan.

“Jeffrey Epstein itu menjijikkan banget. Dia bukan level kriminal biasa. Dia monster yang membangun pulau untuk memperdagangkan anak di bawah umur demi melayani orang-orang paling berkuasa di bumi,” kata Raymond.

Baca juga: Usai Didemo Warga, Polres Jaktim Akhirnya Proses Hukum Dugaan Predator Anak di Palmeriam Matraman

Bukan Teori Konspirasi, tapi Fakta Hukum

Raymond menegaskan bahwa kasus Epstein bukan teori konspirasi liar.

Menurutnya, banyak fakta sudah terbukti di pengadilan, meski dokumen yang dibuka ke publik baru sebagian kecil.

“Kasus yang kita tahu itu dari jutaan file yang baru dirilis. Masih ada jutaan file lain yang belum dibuka,” ujarnya.

Ia menyebut nama-nama elite global—mulai dari bangsawan, mantan presiden Amerika Serikat, hingga miliarder teknologi—pernah berada dalam “orbit” Epstein, setidaknya berdasarkan catatan penerbangan dan kesaksian hukum yang telah terungkap.

Sebagai pebisnis, Raymond mengaku bukan hanya ngeri pada kejahatan Epstein, tetapi pada mekanisme bisnis gelap yang membuat seorang mantan narapidana bisa memiliki akses VIP ke Gedung Putih, berfoto dengan Ratu Inggris, hingga dilindungi bank-bank raksasa.

“Yang bikin gua merinding itu bukan cuma kejahatannya, tapi sistemnya. Kok bisa bank sekelas JP Morgan rela melanggar aturan demi ngelindungi transaksi haramnya?” ujar Raymond.

Menurutnya, titik balik Epstein terjadi saat ia dekat dengan miliarder Amerika Leslie Wexner, pendiri Victoria’s Secret.

Epstein disebut memperoleh power of attorney, kuasa hukum penuh yang tidak lazim di dunia finansial.

Baca juga: Panik, Namanya Disebut Ribuan Kali di Dokumen Epstein, Trump Minta Publik AS Lupakan Kasus Epstein

“Dia bukan kaya karena bisnis. Dia punya akses ke duit karena dikasih akses. Dari situ semua pintu kebuka,” katanya.
Sains dan Filantropi sebagai Topeng

Raymond menyebut Epstein menggunakan sains dan filantropi sebagai pintu masuk ke lingkaran elite intelektual dunia.

“Dia rebranding jadi science philanthropist. Nyumbang ke Harvard, MIT, dan danai riset-riset aneh. Itu pintu belakang buat masuk ke Bill Gates, Stephen Hawking, dan elite lainnya,” ucap Raymond.

Menurutnya, legitimasi sosial itu membuat reputasi Epstein “tercuci”, meski di balik layar kejahatan terus berlangsung.

Honey Trap dan Blackmail Elite Dunia

Salah satu bagian paling mengerikan, menurut Raymond, adalah dugaan jebakan dan pemerasan sistematis.

Ia mengklaim FBI menemukan sistem kamera tersembunyi di properti Epstein, termasuk di pulau Little St. James.

“Dia ngumpulin kompromat. Ribuan jam rekaman elite dunia lagi ngelakuin kejahatan. Itu kartu as-nya,” ujar Raymond.

Dengan cara itu, kata Raymond, Epstein disebut mampu “menyandera moralitas” orang-orang yang seharusnya menegakkan hukum.

Nama Indonesia Disebut dalam Dokumen?

Raymond juga menyinggung ramainya pembahasan soal dokumen yang menyebut nama-nama dari Indonesia.

“Ini bukan hubungan langsung ya. Tapi unik aja kenapa nama elite politik Indonesia bisa muncul. Kalian bisa baca sendiri,” katanya, sembari memberi disclaimer agar publik tidak menarik kesimpulan prematur.

Di akhir videonya, Raymond menilai kematian Epstein tidak otomatis memutus jaringan kejahatan.

“Epstein itu gejala, bukan penyakitnya. Penyakitnya sistem di mana uang dan kekuasaan bisa membengkokkan hukum,” ujarnya.
Ia mempertanyakan apakah jaringan serupa masih beroperasi di berbagai negara, termasuk kemungkinan di Indonesia.

“Menurut gua, pasti ada. Tinggal ketahuan atau belum,” kata Raymond.

Baca juga: Nama Pejabat dan Pengusaha Indonesia Tercantum dalam Ratusan Dokumen Epstein, Ini Penjelasannya

Jeffrey Epstein adalah pelaku kejahatan seksual dan perdagangan seks anak di bawah umur berskala internasional, yang membangun kekuasaan lewat uang, akses elite, dan jaringan pemerasan terhadap tokoh-tokoh berpengaruh dunia.

Epstein ditemukan tewas di sel penjaranya di New York pada Agustus 2019 saat menunggu persidangan atas kasus perdagangan seks.

Secara resmi ia dinyatakan bunuh diri, namun kematiannya memicu banyak teori konspirasi global karena terjadi tepat saat ia mulai berpotensi membongkar nama-nama besar lainnya, ditambah lagi dengan rusaknya CCTV penjara pada saat kejadian.

Ringkasnya, Jeffrey Epstein adalah simbol dari sisi tergelap kekuasaan global, di mana uang dan akses digunakan untuk mengeksploitasi orang yang lemah sekaligus menyandera moralitas para pemimpin dunia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.