TRIBUNJATIM.COM - Deretan rumah terpal dan gerobak yang telah berdiri puluhan tahun di belakang Stasiun Tanah Abang menjadi saksi kehidupan warga miskin kota yang terhimpit pembangunan beton Ibu Kota.
Permukiman liar ini membentang sekitar 300 meter di dekat JPO Jatibaru, tepatnya di RW 01, Cideng, Gambir, Jakarta Pusat.
Pemandangan kontras terlihat jelas di wilayah tersebut.
Baca juga: 43 Tahun Tina Tinggal di Rumah Terpal Pinggir Jalan, Rela Jalani Kondisi Terbatas: Cukup untuk Tidur
Di lokasi ini, garis tipis antara kemiskinan ekstrem dan modernitas Jakarta tampak nyata.
Kereta api melintas tiap beberapa menit, kendaraan bermotor seliweran di jalan tikus, sementara warga hidup di ruang sempit yang hampir tanpa privasi.
Setiap 'rumah' di permukiman ini berukuran rata-rata hanya tiga meter persegi.
Dindingnya bukan dari batu atau semen, melainkan terpal plastik tipis yang direntangkan di atas rangka kayu bekas.
Di dalamnya, satu ruang kecil menampung berbagai kebutuhan.
Beberapa helai baju digantung seadanya, alat makan ditempatkan berdesakan di sudut.
Sementara kasur tipis atau sofa robek menjadi tempat tidur bagi seluruh anggota keluarga.
Hawa pengap, kotor, dan bising menjadi teman sehari-hari.
Lorong sempit antar rumah membuat udara sulit bergerak, apalagi saat hujan turun.
Namun, bagi penghuninya, rumah terpal ini adalah benteng terakhir dari dinginnya malam Jakarta.
"Ya, ini rumah saya," kata Hasan (80), sambil menunjuk rumah terpalnya saat ditemui Kompas.com di Jalan Bakti, Kamis (5/2/2026).
"Besar segini aja cukup untuk tidur, baju sama alat makan kita taruh di sini," imbuhnya.
Hasan lahir pada 1945 dan merupakan warga asli Tanah Abang.
Ia menunjukkan KTP DKI sebagai bukti bahwa ia memang lahir dan besar di wilayah tersebut.
"Tapi punya KTP, punya semuanya. Namanya orang susah, ya ke mana saja," ujar Hasan.
Hasan mengaku hidup di dekat rel kereta api yang bising bukan masalah besar baginya.
"Berisik-berisikan. Ya sudah terbiasa," kata dia.
Meski daerah tempat tinggalnya rawan dan minim penerangan, Hasan memilih tetap tinggal karena tempat tersebut telah menjadi rumah bagi banyak generasi keluarganya.
Baca juga: Bocah SD Meninggal usai Tak Bisa Beli Buku & Pena sempat Ditagih Uang Iuran Sekolah Rp1,2 Juta
Selain rumah yang sempit, warga juga menghadapi persoalan sanitasi yang serius.
Tidak ada fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) di tempat mereka tinggal.
Untuk buang air, mereka harus berjalan jauh ke WC umum di Pasar Gili atau memanfaatkan fasilitas di stasiun.
"Ke stasiun atau ke seberang (Pasar Gili)," kata Hasan.
Namun, ketika tidak memiliki uang receh untuk membayar WC umum, sebagian warga terpaksa buang air langsung ke Kali Ciliwung yang berada di sisi permukiman.
Kondisi tanpa akses air bersih dan sanitasi layak ini telah menjadi hal yang dianggap biasa bagi keluarga yang tinggal di Jalan Bakti.
Hasan menambahkan, kehidupan sederhana di wilayah tersebut sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.
"Kalau kita bahas orang miskin nih kayak saya, memang beginilah hidup di Jakarta. Dekat dengan pusat kota, tapi kita yang miskin enggak bisa apa-apa," ujar dia.
Mayoritas penghuni bekerja sebagai pemulung, mereka memilah plastik dan barang bekas di Pasar Tanah Abang untuk dijual kembali.
Penghasilan sehari-hari rata-rata berkisar Rp30.000.
Dengan jumlah pendapatan tersebut, mereka harus mencukupi kebutuhan makan seluruh anggota keluarga.
"Jangankan memikirkan cicilan rumah atau kontrakan, untuk makan hari ini saja kami harus mengais tumpukan sampah dulu," ujar Hasan.
Ia mengakui kawasan tersebut rawan dan gelap pada malam hari.
Namun, lokasi tersebut tetap dipilih karena telah menjadi rumah bagi banyak generasi.
"Kalau malam di jalanan sini sangat rawan. Kalau enggak ada kami (pemulung) pasti gelap dan rawan sekali," kata dia.
Ketika ditanya soal kemungkinan relokasi, Hasan hanya bisa berharap pada tempat tinggal yang lebih layak.
"Ya, kami orang enggak mampu mau diapakan. Berat saya lihatnya. Kalau pemerintah mau relokasi, ya mungkin bisa dibantu rusun atau modal usaha," ujar Hasan.
Baca juga: Guru Agama Sitti Halimah Lemas Dilempar Kepsek Kursi & Sekop Sampah, Tunjangan Rp45 Juta Ditahan
Tina (43), warga lain yang lahir dan besar di Jalan Bakti, hidup dari memulung botol dan barang bekas, ditambah pekerjaan sampingan membantu tetangga atau bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
"Saya kerja lain, jadi pembantu orang," ujar Tina.
Menurut dia, kendala utama tempat tinggal hanya terjadi saat hujan deras atau angin kencang.
"Paling kalau anginnya kencang. Kalau enggak, ya enggak," ucap Tina.
Ia juga menyebutkan bantuan pemerintah hampir tidak pernah diterima.
Bantuan yang datang justru sering berasal dari tetangga sekitar, berupa nasi atau sisa makanan.
"Kalau tidak memulung, ya enggak makan. Begitulah hidup di sini," kata Tina.
Dengan penghasilan minim, solidaritas antarwarga menjadi penopang utama untuk bertahan hidup.
Bagi anak-anak, kehidupan di permukiman ini lebih keras, sebagian dari mereka tidak sekolah.
Pendidikan dianggap sebagai kemewahan yang tak mampu dijangkau di tengah perjuangan mengisi perut.
Alih-alih memegang buku, anak-anak ini lebih akrab dengan debu jalanan, kebisingan kereta api, dan deru motor yang melintas setiap detik.
Mereka tumbuh tanpa kepastian masa depan, terjebak dalam siklus kemiskinan yang sama dengan orang tua mereka.
Nasib anak-anak yang tumbuh di lingkungan ini tak kalah memprihatinkan. Sebagian besar tidak mengenyam pendidikan formal.
Sekolah dianggap sebagai kemewahan di tengah perjuangan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Alih-alih memegang buku, anak-anak lebih akrab dengan debu jalanan, suara kereta api, dan deru kendaraan yang melintas nyaris tanpa henti.
Mereka tumbuh tanpa kepastian masa depan, terjebak dalam siklus kemiskinan yang sama dengan orang tua mereka.
Tina menyebut hanya sedikit anak yang bisa bersekolah, selebihnya membantu orang tua atau bermain di lorong sempit pemukiman.
"Anak-anak saja. Semoga anak-anak bisa sekolah dan lanjut," kata Tina.