Bagi Syahrullah Rakerwil Hidayatullah Se-Kaltara di Malinau Jadi Forum Nostalgia: Ini Kampung Saya 
Junisah February 07, 2026 06:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU – Ada yang beda dari suasana pembukaan Rapat Kerja Wilayah atau Rakerwil Hidayatullah se-Kalimantan Utara (Kaltara) yang dilaksanakan di Malinau, hari ini, Sabtu (7/2/2026).

Rapat formal yang mempertemukan sejumlah pejabat teras di Kaltara dan Dewan Pengurus Hidayatullah lintas kabupaten dan kota di Kaltara dibuka dengan suasana cair.

Forum berubah penuh gelak tawa ketika dua pejabat teras, Wakil Bupati Malinau Jakaria dan Staf Ahli Gubernur Kaltara Syahrullah Mursalin, justru hanyut dalam romansa masa lalu "Bumi Intimung".

Bagi Syahrullah Mursalin, tugas mewakili Gubernur Kaltara ke Malinau bukan sekadar dinas, melainkan perjalanan "pulang kampung".

Baca juga: Budayakan Literasi Sejak Dini, SD Al Amin Hidayatullah Kunjungi Perpustakaan Daerah Tana Tidung

"Saya tahun 1975 tinggal di Malinau, di Inhutani Tanjung Lapang. Bapak saya dulu di Inhutani. Jadi Malinau ini kampung saya," ungkap Syahrullah, Sabtu (7/2/2026).

Di hadapan peserta Rakerwil, Syahrullah tidak bicara soal birokrasi yang kaku. Dia justru mengajak hadirin menelusuri betapa waktu dengan cepat berlalu, ini juga sekaligus berisi pesan bagaimana Rapat Kerja harus merumuskan embrio masa depan.

Dia bercerita jejak masa kecilnya di Tanjung Lapang. Ingatannya melayang pada sebuah Sekolah Dasar (SD) sederhana yang terletak di dekat masjid dan lapangan bola.

"Dulu ada pohon pinus. Saya biasa main di situ waktu kecil. Rasanya sekolah saya itu sekarang sudah jadi Pustu (Puskesmas Pembantu)," kenangnya.

Dia juga mengenang era transportasi air tahun 70-an yang mengandalkan longboat bermesin 40 PK.

Baca juga: Gelar Rapat Kerja, KONI Bulungan Bidik Juara Umum Porprov Kaltara 2026

Kontras dengan masa lalu yang penuh perjuangan di sungai, Syahrullah mengaku perjalanannya kali ini dari Tanjung Selor ke Malinau via jalur darat hanya memakan waktu 4,5 jam.

"Kalau Pak Wabup bilang 14 jam, zaman saya tahun 75-78 itu agak cepat sedikit, sekitar 8 jam pakai longboat 40 PK. Kalau kapal besi besar (T1/T2) ya lama juga," katanya.

Sebelum Syahrullah naik podium, Jakaria lebih dulu membuka memori tentang betapa waktu benar-benar melaju cepat, kontras dengan kondisi Malinau di masa lalu.

"Dulu dari Tarakan ke Malinau bisa 14 jam. Perginya jam setengah 8 pagi, sampai sini jam 10 atau 11 malam. Tergantung kondisi arus," ujar Jakaria.

Dia menggambarkan betapa mahalnya harga sebuah aksesibilitas saat menyusuri Sungai Sesayap di era itu.

Rakerwil Hidayatullah di malinau 02 07022026.jpg
RAKERWIL HIDAYATULLAH - Suasana pembukaan Rakerwil Hidayatullah Kalimantan Utara di Malinau, Kaltara, Sabtu (7/2/2026). Pembukaan Raker berubah mencair saat dua pejabat teras saling melempar kenangan masa lalu tentang Malinau tempo dulu.

Jakaria menegaskan bahwa Malinau kini tidak lagi fokus menumpuk batu bata (fisik), melainkan mencetak sarjana.

"Kami menginvestasikan sumber daya manusia. Fisik bisa susut, tapi manusia tidak. Karena itu, biaya kuliah 300 sampai 500 anak Malinau setiap tahun kami tanggung penuh dari masuk sampai wisuda," ucapnya.

Rakerwil Hidayatullah se-Kalimantan Utara tersebut adalah untuk merumuskan masa depan organisasi.
Pertemuan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kaltara tahun ini dilaksanakan di Malinau.

(*)

Penulis: Mohammad Supri

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.