Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon
POS-KUPANG.COM, KUPANG- Di sebuah ruang sederhana di Kantor Dinas Pendidikan Kota Kupang, Jumat, 6 Februari 2026 agak berbeda dari biasanya. Ada rasa haru dan bangga berpadu dalam satu pertemuan.
Pasalnya, ada tujuh siswi Sekolah Dasar duduk dengan wajah penuh semangat. Masing-masing memeluk sebuah buku yang lahir dari tangan dan hati mereka sendiri. Buku itu berjudul "Hadiah untuk Bundaku".
Didampingi Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Nusa Tenggara Timur, Lilis Sutikno, serta guru pembina mereka, ketujuh siswi tersebut melakukan audiensi dengan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Kupang yang diwakili oleh Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Okto Naitboho.
Pertemuan itu berlangsung di ruang sekretaris Dikbud Kota Kupang dan disambut dengan penuh kehangatan.
Satu per satu, anak-anak memperkenalkan diri. Dengan bahasa polos khas anak-anak, mereka mengisahkan perjalanan menulis yang tidak selalu mudah, namun penuh makna.
Dari cerita tentang ibu, tentang kasih sayang, pengorbanan, dan rasa terima kasih, lahirlah rangkaian tulisan yang kini menjadi sebuah buku.
Baca juga: Gua Monyet Tenau Jadi Perhatian Pengelolaannya oleh Dinas Dikbud Kota Kupang
Kabid Pendidikan Dasar Dikbud Kota Kupang, Okto Naitboho, menyampaikan apresiasi mendalam atas karya tersebut.
Baginya, kehadiran buku ini menjadi bukti bahwa anak-anak di Nusa Tenggara Timur memiliki potensi luar biasa.
"Saya memiliki kebanggaan tersendiri. Potensi itu sebenarnya ada, hanya selama ini kita belum sungguh-sungguh mengembangkannya," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan tujuh siswi SD ini menjadi bukti nyata bahwa dengan pendampingan yang tepat, anak-anak mampu menuangkan ide dan perasaan mereka dalam bentuk tulisan.
Lebih dari sekadar karya literasi, menurutnya buku Hadiah untuk Bundaku menyimpan pesan moral yang kuat.
"Buku ini mengajarkan bagaimana anak-anak menghargai dan menghormati orang tua. Ini adalah ungkapan kepedulian, kesadaran, dan rasa terima kasih kepada orang tua yang telah membesarkan dan membiayai mereka," jelasnya.
Baca juga: Dinas Dikbud Kota Kupang Panggil Pengurus MBG dan Vendor Pasca 11 Siswa SDI Liliba Keracunan
Okto juga menyinggung bahwa menulis bukanlah kemampuan yang dimiliki semua orang.
"Ada yang pandai berbicara tetapi sulit menulis, ada pula yang sebaliknya. Dan ada yang mampu melakukan keduanya. Anak-anak ini membuktikan bahwa mereka mampu," katanya.
Sementara itu, Ketua Agupena NTT Lilis Sutikno mengaku audiensi tersebut menjadi momen yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Setelah 11 tahun Agupena berkiprah di NTT, kata dia moment ini merupakan kali pertama pihaknya mendapat pengakuan dan apresiasi langsung dari pemerintah daerah.
"Ini benar-benar di luar ekspektasi saya. Baru pertama kali kami diterima dan diapresiasi oleh pejabat pemerintah atas karya literasi anak-anak," ungkapnya.
Lilis menjelaskan bahwa Agupena tidak mewajibkan semua guru untuk menulis, karena ia menyadari tidak semua guru memiliki kemampuan tersebut.
Baca juga: Dinas Dikbud Kota Kupang Ramaikan HUT ke-80 RI dengan Lomba Tarik Tambang
Namun dari kesadaran itu, kata Lilis lahir inisiatif untuk menggerakkan guru-guru yang memiliki potensi menjadi inspirator bagi murid-muridnya.
"Saya mengajak guru-guru yang bisa menulis untuk membimbing anak-anak. Dan kami bersyukur, tujuh anak ini berhasil melahirkan sebuah karya. Bahkan salah satunya kini menjadi penulis inspirator Agupena Indonesia," tuturnya.
Menurut Lilis, ketika anak-anak belajar menulis tentang ibu mereka, secara tidak langsung nilai moral, etika, dan kasih sayang kepada orang tua telah ditanamkan sejak dini.
Guru pembina ketujuh siswi tersebut, Supiana, S.Pd, dari SDI Oeleta, mengungkapkan bahwa literasi telah menjadi bagian dari kesehariannya sebagai pendidik.
Mimpinya sederhana namun bermakna yakni, mengajarkan anak-anak menulis.
"Awalnya tidak mudah. Anak-anak kesulitan menuangkan pikiran mereka. Tapi dengan tekad, kesabaran, dan kemauan besar dari anak-anak, akhirnya mereka bisa," kisahnya.
Baca juga: Pengadaan Kontainer Sampah dari Dana BOSP, Kadis Dikbud Kota Kupang Sebut Sudah Sesuai Aturan
Ia menuturkan bahwa proses menulis dimulai dari hal yang paling dekat dengan dunia anak, yakni cerita tentang ibu.
Dari situlah kata demi kata lahir, menjadi paragraf, lalu menjadi sebuah buku.
Supiana berharap karya sederhana ini dapat menjadi cahaya kecil yang menginspirasi anak-anak lain di Nusa Tenggara Timur untuk mencintai literasi dan berani menulis.(rey)