19 Peluru Bersarang di Tubuh Saif Gaddafi, Para Pengawal Pribadi Pergi Sebelum Eksekusi Terjadi
Hasiolan Eko P Gultom February 07, 2026 07:38 PM

19 Peluru Bersarang di Tubuh Saif Gaddafi, Para Pengawal Pribadi Pergi Sebelum Eksekusi Terjadi

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah narasumber anonim di komite investigasi parlemen Libya menyatakan, terdapat 19 butir peluru ditemukan di tubuh Saif al-Islam Gaddafi terkait kematian putra paling terkemuka dari pemimpin Libya yang terbunuh, Muammar Gaddafi, tersebut.

Narasumber, seperti dikutip dari laporan Khbrn, Sabtu (7/2/2026) menyebut kalau para pengawal Saif diketahui meninggalkan kediamannya satu setengah jam sebelum pembunuhan dilakukan.

Sebagai bagian dari penyelidikan yang sedang berlangsung untuk mengungkap pembunuhan Saif, sumber-sumber di komite penyelidikan parlemen di Libya menjelaskan kalau "komite menetapkan waktu kematian Saif al-Islam Gaddafi adalah pukul 17.57, menurut data teknis dan laporan yang disetujui."

Menurut penyelidikan, "ponsel Saif al-Islam Gaddafi kemudian ditemukan di tangan rekannya, Ahmed al-Ajami al-Atri, tanpa mengungkapkan alasan mengapa ponsel tersebut berada di tangannya."

Sumber-sumber tersebut mengkonfirmasi, "kamera pengawasan di dalam rumah Gaddafi berfungsi normal,".

Penyidikan juga mencatat bahwa "kamera tersebut terhubung ke telepon seseorang yang tinggal di luar kota Zintan yang dekat dengan Saif al-Islam Gaddafi, dan hal ini sedang diperiksa dan diselidiki."

Saif al-Islam Gaddafi tewas dalam pembunuhan yang kontroversial.

Keluarganya mengumumkan pada 3 Februari kalau dia telah meninggal setelah ditembak oleh orang-orang bersenjata tak dikenal di dalam rumahnya di kota Zintan, Libya.

Kejaksaan Agung di Tripoli telah membuka penyelidikan resmi atas pembunuhannya, dan mengkonfirmasi kalau dia tewas akibat luka tembak.

Investigasi masih berlangsung untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab dan motifnya.

Pada hari Kamis, tim kuasa hukum Saif al-Islam Gaddafi menyerukan kepada otoritas kehakiman untuk mempercepat penyelidikan atas pembunuhannya, menekankan perlunya penanganan kasus ini dengan imparsialitas penuh dan mengungkap fakta tanpa pengaruh atau tekanan apa pun.

Ayah Saif, Muammar Gaddafi, juga terbunuh dengan dua peluru bersarang di perut dan kepala pada 20 Oktober 2011 setelah pemberontakan mengguncang negara tersebut yang disokong negara-negara Barat.

19 PELURU - Saif al-Islam Gaddafi (kiri), putra mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi, mendaftar untuk maju dalam pemilihan presiden tahun 2021, Pada awal Februari 2026, dia terbunuh dengan 19 peluru bersarang di tubuhnya.

Sosok Saif al-Islam Gaddafi

Saif al-Islam, yang berusia 53 tahun saat terbunuh, adalah putra kedua Gaddafi dan telah bermukim di Zintan sejak 2011 – awalnya di penjara, dan kemudian, setelah 2017, sebagai orang bebas, merencanakan kembali ke dunia politik.

Sebuah pernyataan dari tim politiknya mengatakan bahwa ia dibunuh oleh "empat pria bertopeng" yang menerobos masuk ke rumahnya di Zintan.

Sebelum pemberontakan tahun 2011, Saif al-Islam dipandang  sebagai pewaris takhta ayahnya dan orang kedua paling berpengaruh di Libya.

Ia tetap menjadi tokoh penting di tengah kekerasan yang melanda Libya setelah demonstrasi Arab Spring atau Musim Semi Arab , yang berujung pada perang saudara.

Terdapat banyak tuduhan terhadapnya mengenai penyiksaan dan kekerasan ekstrem terhadap lawan-lawan pemerintahan ayahnya. Pada Februari 2011, ia masuk dalam daftar sanksi PBB dan dilarang bepergian.

Pada Maret 2011, NATO mulai membombardir Libya setelah PBB mengesahkan “semua tindakan yang diperlukan” untuk melindungi warga sipil dari pasukan Gaddafi dalam perang saudara.

Pada Juni 2011, Saif al-Islam mengumumkan kalau ayahnya bersedia mengadakan pemilihan dan akan mengundurkan diri jika ia tidak memenangkannya.

Namun, NATO menolak tawaran tersebut, dan pembombardiran Libya terus berlanjut.

Pada akhir Juni, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Saif al-Islam, tetapi ia tetap buron hingga setelah kematian ayah dan saudara laki-lakinya, Mutassim, di Sirte, pada 20 Oktober 2011.

Penjara

Setelah negosiasi panjang dengan ICC, yang telah menyerukan ekstradisinya, para pejabat Libya diberikan wewenang untuk mengadili Saif al-Islam di Libya atas kejahatan perang yang dilakukan selama pemberontakan tahun 2011.

Pada saat itu, pengacara pembela Saif al-Islam khawatir bahwa persidangan di Libya tidak akan dimotivasi oleh keadilan, melainkan keinginan untuk balas dendam.

PBB memperkirakan bahwa hingga 15.000 orang tewas dalam konflik tersebut, sementara Dewan Transisi Nasional Libya memperkirakan angka tersebut mencapai 30.000.

Pada tahun 2014, Saif al-Islam hadir melalui tautan video di pengadilan Tripoli tempat persidangannya diadakan, karena saat itu ia dipenjara di Zintan.

Pada Juli 2015, pengadilan Tripoli menjatuhkan hukuman mati kepadanya secara in absentia.

Namun, pada tahun 2017, ia dibebaskan oleh Batalyon Abu Bakr as-Siddiq, sebuah milisi yang menguasai Zintan, sebagai bagian dari amnesti yang dikeluarkan oleh otoritas Libya timur, yang tidak diakui secara internasional.

Namun, ia tidak muncul kembali di depan publik selama bertahun-tahun, dan terus dicari oleh ICC.

Pada Juli 2021, Saif al-Islam memberikan wawancara langka kepada The New York Times, di mana ia menuduh pihak berwenang di Libya "takut akan ... pemilihan umum".

Menjelaskan identitasnya sebagai tokoh bawah tanah, dia mengatakan bahwa dia "telah menjauh dari rakyat Libya selama 10 tahun".

“Kamu harus kembali perlahan-lahan. Seperti pertunjukan striptease,” tambahnya.

Ia kemudian melakukan penampilan publik pertamanya setelah bertahun-tahun pada November 2021, di kota Sebha, di mana ia mendaftarkan diri untuk mencalonkan diri sebagai presiden Libya dalam upaya untuk membangkitkan kembali ambisi para pendukung ayahnya di masa lalu.

Awalnya dilarang untuk ikut serta, ia kemudian dikembalikan haknya, tetapi pemilihan tidak berlangsung karena situasi politik Libya yang bergejolak, dengan dua pemerintahan yang bersaing memperebutkan kekuasaan.

Wajah 'Progresif'

Saif al-Islam, seorang pria berpendidikan Barat dan fasih berbicara, menampilkan wajah progresif bagi pemerintah Libya yang represif.

Ia menerima gelar PhD dari London School of Economics pada tahun 2008. Disertasinya membahas peran masyarakat sipil dalam mereformasi tata kelola global.

Ia dikenal karena seruannya untuk reformasi politik, dan sangat terlihat serta aktif dalam upaya memperbaiki hubungan Libya dengan Barat antara tahun 2000 dan awal pemberontakan tahun 2011.

London School of Economics kemudian dikecam karena telah berupaya menjalin hubungan dengan rezim Libya, khususnya karena menerima Saif al-Islam sebagai mahasiswa.

Kampus tersebut diketahui telah menandatangani perjanjian untuk menerima hadiah sebesar 2,4 juta dolar AS dari Gaddafi International Charity and Development Foundation pada hari upacara pemberian gelar doktornya.

Sebagai negosiator dan tokoh berpengaruh internasional, Saif al-Islam dapat mengklaim sejumlah kemenangan dan peran penting. Ia memainkan peran kunci dalam negosiasi nuklir dengan kekuatan Barat, termasuk Amerika Serikat dan Inggris.

Ia juga berperan penting dalam negosiasi kompensasi untuk keluarga korban pemboman Lockerbie, serangan klub malam Berlin, dan penerbangan UTA 772 yang meledak di atas Gurun Sahara.

Dia juga menjadi mediator pembebasan enam tenaga medis – lima di antaranya warga Bulgaria – yang dituduh menularkan HIV kepada anak-anak di Libya pada akhir tahun 1990-an.

Para tenaga medis tersebut dipenjara selama delapan tahun pada tahun 1999 dan, setelah dibebaskan. Para tahanan itu mengumumkan bahwa mereka telah disiksa selama dalam tahanan.

Ia memiliki beberapa usulan lain, termasuk "Isratine", sebuah usulan untuk penyelesaian permanen konflik Palestina-Israel melalui solusi satu negara sekuler.

Ia juga menjadi tuan rumah perundingan perdamaian antara pemerintah Filipina dan para pemimpin Front Pembebasan Islam Moro, yang menghasilkan perjanjian perdamaian yang ditandatangani pada tahun 2001.

 

(oln/aja/khbrn/*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.