TRIBUNMANADO.CO.ID - Pelita, renungan Pria Kaum Bapa (P/KB) GMIM dalam sepekan mulai 15 - 21 Februari 2026.
Pembacaan alkitab terdapat pada Kisah Para Rasul 2:41-47.
Tema perenungan adalah Bertekun dalam Pengajaran dan Persekutuan.
Khotbah:
Sahabat-sahabat Pria/Kaum Bapa yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Tema perenungan firman saat ini adalah "Bertekun Dalam Pengajaran dan Dalam Persekutuan.- Kata `bertekun'
diterjemahkan dari kata Yunani proskartereo yang juga berarti konsisten dan setia.
Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan,
Kitab Kisah Para Rasul (yang merupakan lanjutan dari Kitab Lukas) ditulis oleh Lukas. rekan rasul Paulus.
Tujuan utama Kisah Para Rasul untuk menunjukkan pekerjaan Roh Kudus yang membentuk suatu komunitas baru sebagai umat Allah Perjanjian Baru.
Jemaat yang menjadi alamat kitab ini sebagian besar adalah kalangan non Yahudi, yang berada di bawah tekanan agama Yahudi dan pengaruh kekuasan Romawi.
Mereka tampil dengan cara hidup yang berbeda dari dunia yang ada di sekitar mereka.
Nah, bacaan kita saat ini Kisah 2:41-47 adalah ringkasan kehidupan jemaat mula-mula.
Jelas kita melihat dalam perikop ini seperti praktik pembaptisan, pengajaran firman, persekutuan, perjamuan, doa, mukjizat. tolong-menolong dan pujian kepada Allah.
Ayat 41 menujukkan respons dari orang-orang yang mendengarkan khotbah dan pengajaran firman para Rasul, yaitu
dengan memberi diri mereka dibaptis menjadi murid Yesus atau menjadi umat Allah yang baru di dalam Kristus.
Oleh pekerjaan Roh Kudus melalui para rasul, melalui firman dan pendengaran mereka maka dikatakan jumlah jemaat bertambah tiga ribu jiwa.
Ayat 42 menunjukkan model kehidupan jemaat yaitu pengajaran, persekutuan, pemecahan roti dan doa.
Jemaat atau gereja bukan sekadar status religius tetapi gaya hidup rohani.
Ayat 43 menunjukkan bahwa gereja yang benar ditandai dengan sikap takut akan Tuhan: rasa hormat dan kagum akan Allah melalui karya Roh Kudus.
Gereja bukan seperti tempat hiburan untuk menyenangkan diri sendiri tapi untuk menyenangkan Tuhan.
Ayat 44-45 menunjukkan solidaritas dan kepedulian sosial. Buah dan bukti dari pada iman adalah perbuatan baik
secara sukarela, nampak dari sikap saling peduli dan tolong-menolong.
Hal ini mau menyatakan bahwa gereja hadir tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan spiritual tapi juga kebutuhan
ekonomi jemaat terutama di kalangan gereja lokal itu sendiri.
Ayat 46-47 menunjukkan sarana ibadah bukan saja di Bait Suci tapi juga di rumah-rumah jemaat. Perhatikan juga di sini bahwa jemaat mula-mula melakukan ibadah bukan terpaksa atau berbeban melainkan dengan sukacita dan tulus hati.
Gaya hidup jemaat yang demikian membuat mereka disukai oleh banyak orang.
Mereka mengaktualisasikan diri bagaimana menjadi garam dan terang sehingga orang yang melihat perbuatan baik mereka tertarik dan kemudian mengenal dan memuliakan Allah.
Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan,
Belajar dari kesaksian Alkitab saat ini maka kita terpanggil untuk memberi perhatian sungguh-sungguh pada tiap firman dan menjadi teladan rohani mulai dari keluarga. Bapak-bapak bukan hanya menjadi pencari nafkah tetapi imam dalam rumah tangga.
Sebagai Pria/Kaum Bapa, kita juga harus menjadi contoh pribadi yang setia pada gereja; hadir, terlibat dan bertanggung jawab membangun jemaat.
Bukan sekadar berstatus anggota jemaat secara administratif saja tapi jemaat yang aktif dalam persekutuan, kesaksian dan pelayanan.
Pria/Kaum Bapa yang memiliki iman sejati hendaknya pula memiliki kepekaan dan kepedulian sosial menjadi sebagai pelindung, penolong dan penopang sesama.
Pria/Kaum Bapa yang imannya hidup mempunyai dorongan kemurahan hati untuk rela berkorban bagi orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Model cara hidup jemaat mula-mula semestinya menjadi karakteristik dalam kehidupan jemaat masa kini. Pria/Kaum Bapa harus tulus hati, jujur dan takut akan Tuhan serta berperan aktif dalam upaya upaya untuk membangun jemaat. Amin.
Pertanyaan untuk PA:
1. Apa yang saudara pahami tentang cara hidup jemaat mula mula menurut bacaan Alkitab saat ini?
2. Bagaimana cara Pria/Kaum Bapa bertekun dalam pengajaran dan persekutuan? Berikan contoh-contoh praktis.