TRIBUNKALTIM.CO - Komedian sekaligus anggota DPR RI Eko Patrio menyatakan sikap ikhlas setelah rumahnya menjadi sasaran penjarahan oleh massa beberapa waktu lalu.
Meski peristiwa tersebut menimbulkan kerugian besar dan sempat menghebohkan publik, Eko memilih menempuh jalan pemaafan.
Eko menegaskan, dirinya telah menyampaikan sikap memaafkan para pelaku dalam proses persidangan.
Namun demikian, ia tetap menghormati dan menyerahkan sepenuhnya penanganan perkara tersebut kepada aparat penegak hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Ya udah, di sidang kemarin saya menyatakan memaafkan,” ujar Eko di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).
Baca juga: Ahmad Sahroni dan Eko Patrio Disanksi Nonaktif Lebih Lama, Ini Alasan MKD
Meski demikian, Eko menegaskan bahwa proses hukum tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Ia menyerahkan sepenuhnya penanganan perkara tersebut kepada pihak yang berwenang tanpa intervensi pribadi.
“Semua proses hukum saya serahkan kepada pihak yang berwenang. Saya meyakini yang kemarin di sidang itu belum tentu juga bersalah, mungkin ikut-ikutan dan sebagainya,” katanya.
Eko juga menuturkan bahwa dirinya tidak menuntut pertanggungjawaban berlebihan kepada para pelaku.
Baginya, yang terpenting adalah peristiwa serupa tidak terulang kembali di kemudian hari.
“Yang penting adalah tidak mengulangi lagi dan ya kita sama-sama saling memaafkan. Ya pokoknya saya nikmati aja,” pungkasnya.
Baca juga: Sahroni, Nafa Urbach dan Eko Patrio Terbukti Langgar Kode Etik, Uya Kuya Selamat dari Sanksi
Rumah Eko yang dijarah terebut berada di Jalan Karang Asem I, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (30/8/2025) malam.
Peristiwa tersebut berlangsung mencekam dan menyebabkan kerugian besar. Hampir seluruh isi rumah dilaporkan habis dijarah massa yang jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan orang.
Petugas keamanan kompleks, Heri, mengungkapkan bahwa aksi penjarahan berlangsung dalam tiga gelombang. Massa mulai berkumpul sejak pukul 21.00 WIB sebelum akhirnya merangsek masuk ke area rumah.
“Jadi semalam itu massa itu udah mulai berkumpul dari jam 21.00 WIB. Jam 21.00 itu udah mulai berdatangan tuh, mungkin jam 22.00 atau lebih baru massa mulai merangsek ke dalam karena pertahanan dari TNI dan keamanan kita juga kan terbatas,” kata Heri saat ditemui di kawasan Kuningan, Minggu (31/8/2025).
Menurut Heri, jumlah massa yang sangat besar membuat barikade pengamanan tidak mampu bertahan. Gelombang kedua menjadi puncak penjarahan, ketika hampir seluruh isi rumah Eko Patrio terkuras habis.
“Habis, dijarah semua. Sampai jagung, sawi, bumbu dapur, itu yang hal sepele aja habis semua diangkutin. Enggak ada sisa,” ungkapnya.
Baca juga: Sahroni, Nafa, Eko Patrio, Uya Kuya, dan Adies Tidak Dipecat, MKD Ungkap Hal yang Meringankan
Setelah memastikan rumah benar-benar kosong, massa pada gelombang ketiga mulai membubarkan diri. Meski demikian, beberapa orang masih bertahan di sekitar lokasi hingga dini hari.
“Kalau untuk dini hari udah kondusif. Cuma ada beberapa orang yang masih penasaran, cuma gak bisa masuk,” ucap Heri.
Ia juga menyebut jumlah massa yang datang ke lokasi diperkirakan lebih dari 500 orang.
“Informasi itu 500 lebih,” bebernya.
Dalam kejadian tersebut, Eko Patrio diketahui tidak berada di rumah. Kediaman itu dalam kondisi kosong dan hanya dijaga oleh sekuriti kompleks.
“Pak Eko sendiri beliau tidak ada di tempat. Beliau tidak ada di tempat, tujuan rumah semua kosong. Cuma ada sekuriti aja yang jaga,” pungkas Heri. (*)