TRIBUNSUMSEL.COM - Sebelum Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto meninggal dunia, firasat tak biasa dirasakan Bupati Klaten periode 2021–2025, Sri Mulyani.
Ia mengaku beberapa kali bermimpi bertemu dengan sosok wakil bupati tersebut, yang kemudian membuatnya merasa ada pertanda kurang baik.
Pada Sabtu (7/2/2026), hal itu diungkapkan Sri Mulyani saat melayat ke rumah duka almarhum Benny Indra Ardhianto di Dusun Tegalrejo, Desa Karang, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten.
Ia menceritakan firasat yang telah dirasakannya beberapa waktu terakhir di tengah suasana duka.
"Saya memang beberapa (waktu) sudah ada firasat yang kurang enak memang. Saya kan cukup dekat dengan Mas Wakil Bupati. Saya beberapa kali kok mimpi ketemu sama Mas Beni. Terus saya WA akhirnya. Mas Wakil yang semangat ya, yang sehat ya. Itu saya dua kali (berkomunikasi)," kata Sri Mulyani, Sabtu (7/2/2026).
Kedekatan personal antara Sri Mulyani dan almarhum Benny menjadi alasan kuat munculnya perasaan tersebut.
Ia menyebut, komunikasi sempat terjalin melalui pesan singkat setelah mimpi itu datang, sebagai bentuk perhatian sekaligus doa agar Benny tetap sehat.
Sri Mulyani juga mengenang almarhum sebagai sosok pemimpin yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Menurutnya, Benny merupakan figur wakil bupati yang rendah hati, aktif turun ke lapangan, serta mampu menjadi teladan dalam menjalankan tugas pemerintahan.
Ia menilai, selama menjabat, Benny memiliki sinergi yang sangat baik dengan Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo.
Hubungan keduanya dinilai sebagai pasangan kepemimpinan yang ideal dalam memimpin Klaten.
"Ini kalau saya selaku ketua tim sukses pemenangan, antara Mas Hamenang dan Mas Benny ini adalah jodoh politik yang sangat ideal sangat bagus. Tapi ternyata Mas Beni berpulang lebih dahulu," kata dia.
Sri Mulyani menambahkan, almarhum dikenal sebagai wakil yang mampu menjaga keharmonisan pemerintahan dan selalu mendukung arah kebijakan bupati.
"Kalau menurut kacamata saya bagus. Wakil yang sangat sinergi, sangat bisa menjaga semuanya. Selalu ngikut apa yang menjadi petunjuk atau langkah visi misinya Mas Bupati," ujar dia.
Pada Sabtu (7/2/2026), Wakil Bupati Klaten, Benny Indra Ardhianto dikabarkan meninggal dunia di usia 33 tahun.
Sejak Kamis (29/1/2026) lalu, Benny dikabarkan sakit dan sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Kariadi Semarang.
Kabar tersebut dikonfirmasi oleh Humas RSUP Dr Kariadi Kota Semarang, Aditya Kandu Warendra yang mengatakan, almarhum Benny tutup usia sekitar pukul 11.00 siang.
Baca juga: Kabar Duka : Wabup Klaten Benny Indra Ardhianto Meninggal Dunia di Usia 33 Tahun
"Betul informasinya. Almarhum meninggal dunia hari ini sekitar jam 11 siang. Sempat dirawat di Paviliun Garuda Lantai 5 sejak tanggal 29 Februari 2026," katanya kepada tribunjateng.com, Sabtu (6/2/2026) siang.
Dia menambahkan, Wabup Benny meninggal setelah menjalani sejumlah perawatan untuk penyembuhan sakit kanker yang dideritanya.
"Beliau sudah bolak balik mondok dan kemo," jelasnya. Informasi dari perawatan pasien di Paviliun Garuda, diagnosa sakit kanker," kata dia.
Jenazah wabup Klaten sudah keluar dari kamar jenazah sekira pukul 13.00 dan langsung dibawa ke rumah duka di Klaten menggunakan ambulance dari pantauan tribunjateng.com di RSUP Dr Kariadi.
Selain staff, beberapa pejabat juga menyempatkan ke RSUP Kariadi.
Satu di antaranya anggota DPRD Jateng dari Fraksi Partai Gerindra, Sri Hartini.
"Ya ini kita juga langsung ikut ke Klaten, karena ternyata jenazah baru saja diberangkatkan ke rumah duka," ujarnya.
Sri Hartini mengaku tak menyangka mendengar kabar duka almarhum wabup Klaten meninggal dunia.
"Beliau itu adalah sosok muda yang energik dan dia baik. Malah saya kaget sekali karena selama ini saya tidak pernah mendengar kalau beliau sakit," ungkapnya.
Saat tiba di RSUP Kariadi, ia menyebut baru saja mengetahui kabar duka tersebut.
"Tadi saya pas ada acara dikabarin kalau beliau meninggal.
Terus kita langsung menyusul ke Karyadi di ruang jenazah dan ini beliau almarhum sudah dibawa pulang ke Klaten, tapi almarhum insyaallah orang baik," katanya saat tiba di Kamar Jenazah RSUP Kariadi masih mengenakan rompi DPD Papera (Pedagang Pejuang Indonesia Raya) Jateng.
"Pas acara kemudian mendapatkan kabar itu baru 5 menit yang lalu meninggalnya terus kami acara dibubarkan terus kita nyusul ke sini sekarang almarhum sudah dibawa ke Klaten," ungkapnya.