TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Matahari tepat berada di atas kepala ketika deretan galon kosong dan ember warna-warni membentuk antrean panjang di pinggir jalan RT 03 RW 01, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sabtu (7/2/2026).
Di tengah hiruk-pikuk warga yang menunggu giliran mendapatkan air bersih, terselip kecemasan yang lebih besar dari sekadar kebutuhan mandi dan mencuci.
Menjelang bulan suci Ramadan, kekhawatiran soal kelancaran ibadah mulai menghantui warga.
Bagi masyarakat setempat, air bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga urat nadi kehidupan spiritual.
Namun sejak bencana melanda kawasan tersebut pada akhir tahun lalu, sumur-sumur warga yang sebelumnya tak pernah kering kini benar-benar mati.
Baca juga: Atasi Kekeringan Pascabencana, Pemko Padang Bangun 200 Sumur Bor di Empat Kecamatan
Tak ada setetes air pun yang tersisa, meski sudah digali lebih dalam.
Asmida, salah seorang warga, terlihat menyeka keringat sambil memandangi petugas Damkar Kuranji yang mengisi air ke dalam tedmond.
Bantuan air bersih memang sangat membantu, tetapi kekhawatiran tetap menggelayuti pikirannya, terlebih saat melihat kalender yang semakin mendekati Ramadan.
“Kebutuhan air memang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, apalagi sebentar lagi kita masuk bulan Ramadan,” ujar Asmida.
Ia membayangkan ritual ibadah yang biasanya dijalani dengan tenang justru berubah menjadi perjuangan fisik.
Warga khawatir, saat berpuasa nanti mereka masih harus memikul jeriken dan ember di bawah terik matahari demi mendapatkan air bersih.
Persoalan wudhu menjadi kekhawatiran utama.
Di wilayah yang kental dengan nilai religius seperti Kuranji, ketersediaan air bersih untuk bersuci sebelum salat merupakan kebutuhan mendasar yang kini terasa mahal.
“Tak terbayang nanti saat berpuasa malah harus mengangkut ember air. Apalagi untuk keperluan berwudhu, itu yang paling utama bagi kami,” tambah Asmida sambil menunjuk antrean warga yang terus memanjang.
Baca juga: Irigasi Rusak Pascabanjir, BWS Pompa Air Sungai Atasi Kekeringan di Koto Panjang Ikua Koto
Saat ini, warga sepenuhnya bergantung pada bantuan air bersih dari berbagai pihak, mulai dari Damkar, BPBD, Dinas PU, hingga PMI.
Meski begitu, mereka menyadari bantuan darurat semacam ini tidak bisa menjadi solusi jangka panjang, terlebih konsumsi air cenderung meningkat selama bulan puasa.
Secara teknis, kekeringan di kawasan tersebut diduga akibat perubahan lanskap alam pascabencana.
Aliran sungai di sekitar permukiman berubah arah, sehingga pola resapan air ke sumur-sumur warga terputus.
Rosi, warga terdampak lainnya, menuturkan bahwa kondisi ini telah mengganggu kehidupan rumah tangganya.
Sumur yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan kebutuhan keluarga kini kering total.
Setiap hari, Rosi bersama suaminya, Yuhandri Syaf, harus menempuh perjalanan menuju sumber air di sekitar Jembatan Kuranji.
Prioritas utama mereka adalah memastikan anak-anak dapat mandi sebelum berangkat ke sekolah.
“Kebutuhan air yang dijemput itu terutama untuk anak mandi pergi sekolah. Kalau kami orang tua, biarlah mandi ke sungai di bawah Jembatan Kuranji saja,” tutur Rosi.
Bagi warga Pasar Ambacang, sungai kini kembali menjadi alternatif terakhir, seperti masa lalu.
Namun mandi di sungai bukanlah solusi ideal, mengingat kualitas air dan risiko keselamatan, terutama saat cuaca ekstrem.
Menjelang Ramadan yang tinggal menghitung hari, warga Pasar Ambacang berada di persimpangan antara keteguhan iman dan keterbatasan fisik.
Mereka berharap pemerintah kota dapat segera menghadirkan solusi permanen, agar bulan suci nanti tidak diwarnai kelelahan mencari air, melainkan diisi dengan kekhusyukan ibadah.