Usung Konsep Slow Fashion, Haadiya Hadirkan Busana Syar’i yang Nyaman dipakai Sehari-hari
Siti Fatimah February 07, 2026 11:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

 

 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Industri modest fashion tanah air kedatangan warna baru dengan hadirnya Haadiya Syar'i. Lebih dari sekadar bisnis pakaian, brand ini lahir sebagai bentuk perjalanan spiritual dan refleksi pribadi sang pendiri, Alia, yang memaknai Haadiya sebagai sebuah "hadiah". 

Perjalanan spiritual setiap orang selalu memiliki kisahnya sendiri.

Bagi Alia Karenina, perjalanan hijrah bukan sekadar perubahan penampilan, melainkan proses panjang yang lahir dari pergulatan batin, kehilangan, hingga pencarian makna hidup. 

Dari fase tersebut kemudian lahir Haadiya Syar’i, brand busana muslim yang sangat personal, sarat refleksi diri, sekaligus membawa pesan spiritual.

Ia mengatakan brand tersebut lahir dari kebutuhan pribadi mencari busana syar’i yang nyaman dipakai sehari-hari, terutama karena aktivitasnya yang masih sering bolak-balik Jakarta–Bandung. 

Perbedaan cuaca membuatnya membutuhkan pakaian yang adem, ringan, dan tidak gerah.

Baca juga: Jelang Ramadan 1447 Produsen Busana Muslim Tambah Stok dan Koleksi Baru Kebutuhan Ibadah

Oleh karena itu Haadiya banyak menggunakan natural fabric yang lebih breathable, flowy, serta minim listrik statis dibanding bahan sintetis seperti polyester.

Berbeda dengan banyak brand modest fashion yang bergerak cepat mengikuti tren, Haadiya justru mengusung konsep slow fashion. 

Koleksi dirilis terbatas, sekitar dua hingga tiga kali setahun, dengan harapan setiap busana memiliki nilai emosional dan tidak sekadar konsumsi sesaat.

“Saya menghindari ornamen berlebihan, aksesoris mencolok, atau detail yang terlalu ramai. Selain faktor kenyamanan, pendekatan ini juga selaras dengan nilai kesederhanaan dalam berpakaian syar’i,” ujarnya.

Alia menjelaskan secara konsep desain, Haadiya menghadirkan koleksi yang berbeda misalnya “One Path” dimana koleksi ini tampil dengan garis tegas dan desain minimalis yang merepresentasikan tauhid serta keteguhan langkah spiritual kepada Allah.

Lalu ada juga “The Shape That Influenced Me” yang tenspirasi perjalanan hidup Alia yang pernah tinggal di berbagai negara seperti India, Jepang, dan London. 

Koleksi ini menghadirkan sentuhan batik, tenun, hingga motif lintas budaya sebagai simbol perjalanan hidup dan penerimaan terhadap dinamika kehidupan.

“Haadiya berkolaborasi dengan desainer Adrie Basuki melalui batik Sadabhumi, yang terinspirasi dari perjuangan para penyintas kanker sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada almarhum suami saya,” ucapnya.

Baca juga: 5 Pilihan Tempat Berburu Busana Muslim di Situs Belanja untuk Penampilan di Hari Raya

Ada juga koleksi “The Calm Within” yaitu koleksi polos tanpa ornamen sebagai simbol ketenangan batin. 

Desain loose cutting, warna lembut, serta khimar panjang menjadikannya nyaman untuk aktivitas harian hingga ibadah seperti umrah.

Melalui tema besar “In Return”, Haadiya ingin menyampaikan pesan bahwa setiap pilihan baik akan kembali dalam bentuk kebaikan pula. 

Dalam perspektif spiritual Islam, bukan konsep karma, melainkan keyakinan bahwa Allah memberikan balasan sesuai niat dan usaha hamba-Nya.

“Kalau memilih modesty, kita tidak kehilangan apa-apa. Justru dapat ketenangan, kejernihan hati, dan kekuatan batin,” kata Alia.

Haadiya juga aktif berkolaborasi dengan berbagai perempuan founder, mulai dari proyek tas halal lifestyle, furnitur kajian, hingga merchandise muslimah. 

Alia ingin brand ini menjadi wadah kolaborasi sekaligus inspirasi bagi muslimah lain untuk tetap berkarya tanpa meninggalkan syariat.

Ia bahkan membangun komunitas majelis taklim untuk belajar fikih perempuan dan memperdalam pemahaman agama bersama.

“Goal saya sederhana, muslimah punya role model muslimah lain, mengidolakan Khadijah, Aisyah, perempuan hebat dalam Islam, bukan semata figur populer,” ujarnya.

Haadiya tidak membatasi target usia tertentu. Menurut Alia, perjalanan hijrah setiap orang berbeda-beda.

“Ada yang dapat hidayah sejak kecil, ada yang dewasa. Saya sendiri baru di usia 30-an akhir. Jadi brand ini terbuka untuk siapa pun yang sedang belajar,” katanya.

Baca juga: Terinspirasi Kekayaan Indonesia, Kazami Luncurkan Busana Muslim Melaboh Kasih sampai Bahtera Cinta

Haadiya Syar’i, Berawal dari Perjalanan Spiritual

Founder Haadiya Syar’i ini mengisahkan bahwa awal berhijabnya terjadi secara bertahap.

Saat itu ia baru mengenakan hijab segi empat biasa, belum sepenuhnya memahami konsep berpakaian syar’i. 

“Di tengah proses tersebut, cobaan datang karena suami saya jatuh sakit, aktivitas berkarya sempat terhenti karena pada saat itu fokus saya benar-benar ke suami. Banyak hal jadi berantakan, bahkan bisa dibilang tidak dikerjakan sama sekali,” ujar Alia di Dailah, Jalan Cisangkuy, Sabtu (7/2/2026).

Ujian terbesar pun datang ketika sang suami berpulang pada akhir 2023 setelah berjuang melawan kanker. 

Kehilangan itu sempat menghadirkan kegalauan mendalam, namun justru menjadi titik balik spiritual dalam hidupnya.

Memasuki 2024, Alia memutuskan berangkat haji dan pengalaman spiritual tersebut menjadi momentum refleksi yang kuat. Sepulang dari Tanah Suci, ia mulai mantap mengenakan busana syar’i secara konsisten.

“Pulang haji malah tiba-tiba merasa ingin berpakaian lebih syar’i. Pelan-pelan belajar, lebih rapi, lebih mindful. Rasanya hati jadi lebih tenang,” katanya.

Di balik keputusan Alia Karenina untuk tampil lebih syar’i, ada proses batin yang tidak sederhana. 

Ia mengakui sempat diliputi keraguan, terutama setelah kehilangan suami dan menghadapi realitas hidup sebagai perempuan yang tetap harus bekerja serta mandiri secara ekonomi.

Baca juga: Trend Busana Lebaran 2026, dari Hijab Sporty hingga Gamis Etnik

“Waktu itu jujur ada kegamangan. Saya mikir, nanti kerja gimana, ekonomi gimana. Bahkan sempat terpikir hal-hal duniawi seperti apakah harus membuka hijab lagi supaya lebih fleksibel bekerja,” tuturnya.

Pergulatan tersebut semakin terasa ketika ia memutuskan berangkat haji pada 2024. 

Awalnya, perjalanan ibadah itu lebih didorong oleh rasa kehilangan mendalam setelah sang suami wafat. Namun justru di Tanah Suci, arah hatinya berubah.

Alih-alih berdoa soal karier atau finansial, ia justru memohon kemudahan untuk menutup aurat secara sempurna.

“Saya juga bingung kenapa doa yang keluar justru itu. Bukan soal ekonomi atau pekerjaan, tapi ‘Ya Allah mudahkan saya menutup aurat dengan sempurna’,” katanya.

Pengalaman fisik selama haji turut memperkuat keyakinannya.

Meski suhu saat itu mencapai sekitar 50 derajat Celsius, ia merasa tetap nyaman mengenakan busana panjang seperti abaya dan khimar.

“Panas tentu panas, sampai sempat mimisan. Tapi anehnya saya nggak merasa tersiksa atau gerah berlebihan. Dari situ saya merasa mungkin ini memang jalan yang Allah mudahkan,” ujarnya.

Sepulang dari haji, ia mengaku tak lagi merasa canggung memakai busana syar’i.

Rasa nyaman itu datang begitu saja dan terus berlanjut dalam keseharian.

Baca juga: Hijab Anak Sekolah dan Busana Muslim Menjadi Peluang Bisnis yang Cerah

Meski demikian, ia tidak menampik sempat muncul kekhawatiran akan penilaian orang lain, terutama karena ia masih aktif bekerja sebagai profesional di lingkungan pemerintahan. 

Saat ini Alia diketahui masih berperan sebagai tim ahli komunikasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

“Takut dijudge pasti ada, takut dianggap berubah drastis atau terlalu ‘ibu-ibu’. Tapi akhirnya saya sadar ini pilihan hidup. Kalau sudah memilih, insya Allah Allah juga memudahkan jalannya,” katanya.

Ia juga merasakan perubahan dalam cara orang memandangnya.

Sebelumnya, sebagai perempuan aktif yang belum berhijab, ia kerap merasa diperlakukan sebagai objek penampilan.

Setelah berhijab syar’i, ia justru merasakan penghormatan yang berbeda.

“Orang jadi lebih menjaga pandangan, lebih menghargai saya sebagai pribadi, bukan sekadar penampilan. Itu ketenangan yang luar biasa,” ungkapnya.

Dari proses refleksi itulah Haadiya Syar’i lahir.

Brand ini, menurut Alia, bukan sekadar bisnis fashion, melainkan bentuk perjalanan spiritual pribadi.

“Kalau saya bilang, Haadiya itu hadiah. Tapi bukan hadiah yang pakai pita, justru hadiah yang datang dari kehilangan,” tuturnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.